Ana Kurniawati (berada di tengah memakai kemeja berwarna hijau) bersama para panitia ECOPOLIS 2025 dalam kegiatan Welcome Party di Ruang Sekretariat BEM UNAIR Kampus MERR-C UNAIR pada Sabtu (26/7/2025).
FIB NEWS “ Ana Kurniawati, mahasiswa 51¶¯Âþ (FIB UNAIR), mengambil peran sebagai ketua pelaksana dalam program kerja baru Kementerian Lingkungan Hidup Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM UNAIR) yang bertajuk ECOPOLIS 2025.
Melalui kegiatan seperti lomba karya tulis ilmiah dan seminar tematik, ECOPOLIS menghadirkan ruang kolaboratif yang mempertemukan pelajar, mahasiswa, akademisi, hingga praktisi untuk membahas isu-isu lingkungan hidup secara kompetitif dan edukatif.
Berangkat dari Pengalaman
Ana sebelumnya aktif sebagai staf di Kementerian Lingkungan Hidup BEM UNAIR dan pernah menjadi panitia dalam program serupa, yaitu Airlangga Youth Environmental Action (AYEA) 2024.
œSaya dipercaya sebagai ketua pelaksana ECOPOLIS 2025 karena sebelumnya pernah menjadi staf di Kementerian Lingkungan Hidup BEM UNAIR. Pada periode sebelumnya, saya juga terlibat dalam program serupa, yaitu AYEA, jelas Ana pada Humas Muda (23/7/2025).
Direktur jenderal dan rekan-rekannya pun menilai Ana siap mengemban tanggung jawab ini. Di ECOPOLIS 2025, ia memegang penuh peran dalam perancangan konsep besar acara, pemantauan keseluruhan timeline, serta koordinasi dengan seluruh divisi agar kegiatan berjalan sesuai rencana.
Selain itu, ECOPOLIS memecah tema besar menjadi subtema-subtema yang lebih spesifik dan aplikatif, seperti Pendidikan Hijau: Inovasi Kurikulum untuk Mengatasi Masalah Lingkungan, yang Ana nilai dapat membantu peserta menyusun arah gagasan secara lebih jelas dan kontekstual.
Tantangan, Pendekatan, dan Harapan
Menahkodai program perdana seperti ECOPOLIS 2025 tentu bukan hal mudah. Ana mengaku, salah satu tantangan terbesarnya adalah membangun komunikasi lintas divisi. œKarena anggota tim kami berasal dari berbagai angkatan, fakultas, dan program studi, kami tentu perlu mencari cara agar komunikasi tetap berjalan lancar, jelasnya.
Berbeda dari program AYEA 2024, ECOPOLIS 2025 hadir dengan format yang lebih inklusif karena membuka partisipasi bagi siswa SMA/sederajat hingga mahasiswa dari berbagai jurusan. Menurut Ana, keterbukaan ini penting karena inovasi lingkungan tidak terbatas pada jenjang atau usia tertentu, siapa pun bisa berkontribusi asalkan diberi ruang.
Sebagai program baru, ECOPOLIS juga membutuhkan strategi branding yang kuat. Oleh karenanya, konsep lomba dan materi sosialisasi harus dikemas secara menarik dan mudah dipahami agar mampu menjangkau target peserta secara efektif, terutama dalam upaya promosi ke sekolah-sekolah menengah.
Untuk menjawab tantangan itu, Ana mengandalkan pendekatan yang humanis dan fleksibel. Latar belakangnya di bidang bahasa membantunya memahami persoalan dari berbagai sisi serta menyesuaikan cara komunikasi dengan karakter lawan bicara.
Di akhir, Ana menyampaikan harapan untuk rekan-rekan mahasiswa FIB. œTeman-teman FIB tidak perlu ragu untuk aktif di luar fakultas. Saya percaya, kita juga bisa berkontribusi dalam isu-isu besar seperti lingkungan. Potensi kita sangat luas, asalkan berani keluar dari zona nyaman, tutupnya.
Keterlibatan Ana sebagai ketua pelaksana dalam ECOPOLIS 2025 sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu Quality Education, serta nomor 5, yaitu Gender Equality.
Penulis: Gustyosih Chesta Pramesti
Editor: Fania Tiara Berliana Marsyanda




