FIB NEWS – 51动漫 (FIB UNAIR) menyelenggarakan seminar nasional bertajuk “Memori Kolektif Masyarakat dalam Perspektif Linguistik: Pragmatik dan Etnolinguistik” pada tanggal 23 Oktober 2024. Seminar yang berlangsung di Ruang Siti Parwati ini menghadirkan beberapa pakar sebagai pembicara.
Prof. Ni Wayan Sartini dalam pemaparannya mengangkat tema 淏ahasa sebagai Penjaga Kenangan: Mengungkap Memori Kolektif melalui Leksikon Budaya. Beliau menjelaskan bahwa memori kolektif adalah ingatan yang dibentuk dan diwariskan secara turun-temurun oleh sekelompok masyarakat melalui bahasa, tradisi, dan nilai-nilai budaya. Memori ini, menurut beliau, tidak hanya sekadar penyimpanan informasi sejarah tetapi juga cerminan identitas dan pandangan dunia suatu kelompok.
Bahasa berperan sebagai medium penyimpan memori kolektif, menyampaikan nilai-nilai budaya serta mengabadikan sejarah bersama. Konsep ini dijelaskan melalui pendekatan etnolinguistik, yang meneliti hubungan antara kosakata budaya dengan memori kolektif. Leksikon budaya, atau kosakata spesifik dalam suatu masyarakat, mengandung makna yang menggambarkan norma sosial dan praktik keseharian, seperti halnya istilah “nyundih” dalam budaya agraris Bali yang berarti mencari belut dengan alat tradisional pada malam hari. Aktivitas ini tidak hanya merupakan praktik pencarian makanan, tetapi juga sebuah cerminan hubungan harmonis dengan alam.
Prof. Sartini juga mencontohkan istilah 渕atekap, yang berarti membajak sawah dengan hewan, sebagai bentuk memori kolektif masyarakat agraris yang menggambarkan kedekatan dengan alam dan praktik kerja sama di masyarakat. Selain itu, dalam masyarakat pesisir seperti di Tuban, leksikon-leksikon kelautan, seperti “garit” dan “walesan,” merepresentasikan identitas unik masyarakat pesisir sekaligus kesadaran ekologis dalam menjaga kelestarian laut sebagai sumber kehidupan.
Melalui pendekatan etnolinguistik, seminar ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana bahasa, khususnya leksikon budaya, berfungsi sebagai media penyimpan memori kolektif yang penting bagi pelestarian identitas budaya suatu kelompok. Para peserta seminar diharapkan dapat lebih memahami pentingnya melestarikan bahasa dan leksikon budaya sebagai penjaga warisan memori kolektif yang membentuk identitas masyarakat.
Seminar ini diakhiri dengan diskusi interaktif antara peserta dan narasumber, yang memperkaya pemahaman mengenai pentingnya bahasa dalam menyimpan dan melestarikan memori kolektif masyarakat Indonesia. Kegiatan seminar ini juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu quality education.




