Bagus Fadhilah Apriadi bersama moderator saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional MKSB UNAIR “Multiculturalism & Education” (Sumber: Istimewa)
FIB NEWS – Magister Kajian Sastra dan Budaya () Fakultas Ilmu Budaya () 51动漫 (UNAIR) kembali menggelar seminar nasional bertajuk Multiculturalism & Education. Seminar tersebut sukses terselenggara di Ruangan Siti Parwati, Gedung Fakultas Ilmu Budaya (), UNAIR, pada Sabtu (5/10/2024).
淪eminar Nasional ini bertujuan untuk menggali dan memperdalam pemahaman kita mengenai multikulturalisme dalam konteks kajian sastra dan budaya. Kami berharap, melalui diskusi yang mendalam dan interaksi yang terbuka, seminar ini dapat menjadi wadah untuk memperkuat kesadaran akan pentingnya keragaman budaya sebagai kekayaan bangsa, ujar Lady Khairunnisa Adiyani, S. Hum., selaku Ketua Panitia.
Pada kesempatan kali ini, seminar tersebut berhasil menggandeng beberapa pembicara yang berpengalaman dan ahli pada bidangnya. Salah satunya Bagus Fadhilah Apriadi, M.Sc., lulusan , Thailand.
Hambatan dalam Menemukan Akomodasi
Lahir dan besar di Surabaya, Bagus membagikan pengalamannya saat menjadi mahasiswa internasional di Thailand. Ia mengungkapkan bahwa ada banyak manfaat yang bisa mahasiswa internasional peroleh saat belajar di luar negeri. Namun, ada juga kesulitan-kesulitan yang sering terabaikan, terutama dalam konteks akomodasi tempat tinggal.
淒i Universitas Chulalongkorn sendiri, mereka memfasilitasi mahasiswa internasional dengan asrama bernama CIU House by Chulalongkorn. Namun, harga asrama ini bisa terbilang mahal bagi mahasiswa internasional yang memiliki dana terbatas. Jadi, akhirnya harus mencari tempat tinggal yang lebih terjangkau dan biasanya itu berada di luar kampus, tuturnya.
Bagus menyampaikan bahwa daerah Ratchathani, Bangkok, sering menjadi pilihan utama mahasiswa internasional sebagai lingkungan tempat tinggal. Karena lingkungan tersebut menyediakan tempat tinggal untuk mahasiswa internasional dengan harga yang terjangkau.
淢enurut saya, lingkungan tersebut bisa terbilang sebagai kawasan pelajar. Selain berdekatan dengan pusat perbelanjaan, Ratchathani juga memiliki fasilitas masjid yang biasanya jaraknya tidak jauh dengan toko makanan halal. Maka dari itu, mahasiswa biasanya memilih akomodasi yang dekat dengan masjid, ujarnya.
Strategi Hadapi Kesulitan
Bagus pun terinspirasi untuk mengangkat isu tersebut menjadi topik utama pada tesisnya. Dalam temuannya, mahasiswa internasional menciptakan strategi tersendiri untuk menghadapi kesulitan tersebut. Strategi itu terbagi menjadi dua, yaitu strategi menghadapi masalah di bidang sosial dan strategi menghadapi tantangan di bidang kebudayaan.
Bagus menjelaskan bahwa strategi menghadapi masalah di bidang sosial berfokus pada interaksi, kegiatan masyarakat dan ruang lingkup tempat tinggal. Sedangkan strategi menghadapi tantangan di bidang kebudayaan berdiskusi mengenai tantangan seputar perbedaan preferensi tempat tinggal, adaptasi budaya, serta tantangan dalam berkomunikasi.
Salah satu strategi yang sering mahasiswa internasional gunakan dalam menghadapi tantangan adalah self-help. Istilah ini merujuk pada upaya individu untuk meningkatkan diri, mengatasi masalah, dan mencapai tujuan pribadi tanpa bergantung pada orang lain.
Sebagai contoh, Bagus menceritakan upaya mahasiswa internasional yang beragama Muslim untuk tetap berkomitmen pada keyakinan mereka. Hal tersebut masuk dalam konteks mencari makanan halal di lingkungan baru sebagai minoritas.
淪ebenarnya di thailand, masyarakat muslim itu menduduki populasi terbesar kedua. Tapi mereka hanya terdiri sekitar 4% hingga 5% nya saja. Oleh karena itu mereka perlu menggunakan self-help sebagai strategi mereka dalam menemukan makanan halal, pungkasnya.
Penulis: Nadia Azahrah Putri
Editor: Nuri Hermawan




