Pengenalan makanan tradisional Malaysia sebagai contoh makanan lokal
Sumber: Arina Nida
FIB NEWS 51 (FIB UNAIR) selenggarakan Lokakarya dengan mengusung tema Nusantara dan Tradisi Lokal: Ketahanan Pangan pada (28/08/2024). Kegiatan ini digelar secara daring via Zoom Meeting. Rangkaian lokakarya kali ini menghadirkan pembicara dari ATMA Universiti Kebangsaan Malaysia, Dr. Junaini Kasdan.
Sebagai seorang ahli bahasa, Junaini menjelaskan keterkaitan antara bahasa dengan ketahanan pangan dalam ruang lingkup kajian etnoliguistik. Menurutnya, melalui kajian etnolinguistik, dapat diketahui bahwa bahasa dan budaya saling berkaitan dalam membentuk, mencerminkan, dan memelihara pengetahuan tentang makanan.
Bahasa menyimpan pengetahuan tentang makanan. Bermula dari teknik penanaman, penuaian, penyimpanan, pengolahan dan penyediaan makanan menghasilkan penamaan makanan yang dapat tergambar dari istilah-istilah yang tercipta, ujarnya.
Istilah tersebut kemudian diturunkan dari generasi ke generasi, sehingga ketika ia tidak lagi tercatat. Istilah tersebut akan mulai dilupakan dan lama-kelamaan akan hilang. Perubahan bahasa berpengaruh pada kelangsungan ketahanan pangan yang ada pada suatu daerah.
Melihat bagaimana bahasa membentuk identitas dalam masyarakat etnis. Makanan bukan hanya merupakan keperluan asas tetapi juga simbol identitas, ungkapnya.
Seiring berkembangnya zaman, lama-kelamaan makanan khas daerah akan mulai terlupakan. Itulah alasan pentingnya dokumentasi makanan. Dokumentasi yang dimaksud tidak hanya berupa foto atau gambar saja, tetapi juga pengenalan nama hingga pendeskripsian rasa makanan.
Peran bahasa tidak hanya sebagai bentuk dokumentasi makanan lokal saja. Junaini menyebut dalam beberapa budaya, makanan berkaitan erat dengan struktur sosial dan peranan gender. Etnolinguistik meneliti cara bahasa dipergunakan untuk mencerminkan dan memperkuat peranan sosial berkaitan dengan makanan. Beberapa makanan khas mulai ditinggalkan karena dikaitkan dengan sebuah upacara atau ritual. Misalnya pada setiap upacara tentu memiliki makanan khas yang harus hadir di dalamnya. Ketika masyarakat mulai menolak ritual, makanan-makanan tersebut akan ikut terlupakan.
Kelestarian makanan berkaitan dengan adaptasi makanan. Globalisasi seringkali membawa perubahan dalam bahasa dan perubahan budaya makanan. Kajian etnolinguistik melihat bagaimana bahasa daerah beradaptasi dengan makanan baru dan istilah baru serta penerimaan masyarakat terhadap makanan tersebut. Melalui kajian etnolinguistik, keterjaminan makanan dapat dipahami secara lebih holistik, dengan mengakui bahwa bahasa dan budaya adalah elemen penting dalam pembentukan dan pelestarian sistem makanan yang berkelanjutan. Pengetahuan ini penting untuk merancang intervensi dan kepekaan akan pentingnya budaya dan bahasa, yang akhirnya berujung pada ketahanan pangan global.
Penjelasan materi ketahanan pangan dari Dr. Junaini Kasdan.
Sumber: Arina Nida




