Keris yang digunakan dalam kesenian Jaranan Mataraman
Penulis: Lady Khairunnisa Adiyani (Mahasiswa Magister Kajian Sastra dan Budaya)
Kota Blitar yang sering disebut sebagai Bumi Bung Karno, memiliki eksistensi yang kaya akan unsur sejarah. Namun, selain dikenal sebagai kota bersejarah, Blitar juga menyimpan kekayaan nilai-nilai budaya lokal. Salah satunya adalah kesenian jaranan, yang mengandung cerita dan makna mendalam.
Kesenian jaranan sering diidentikkan dengan cerita tentang seorang prajurit yang gagah berani menunggang kuda. Namun, dalam buku 淩eog di Jawa Timur karya Soenarto Timoer, penari jaranan tidak lagi hanya menggambarkan prajurit menunggang kuda. Sebaliknya, mereka menjadi representasi kuda itu sendiri.
Pada masa kolonial, hewan kuda dianggap sebagai simbol penjajahan oleh pihak Belanda. Sistem pembagian kelas menyatakan bahwa rakyat kecil yang menunggang kuda akan dianggap sebagai wujud perlawanan. Oleh karena itu, masyarakat menciptakan tipu muslihat melalui kesenian jaranan agar dapat lolos dari kecurigaan pihak kolonial Belanda.
Kesenian jaranan berkembang dengan berbagai kepemilikan pakem dan aliran yang beragam. Pakem dalam jaranan bukanlah pakem kesenian seperti yang berkembang di kesenian keraton. Melainkan, pakem tersebut merujuk kepada kesepakatan para seniman dalam menampilkan kesenian tersebut secara turun temurun.
Kesenian Jaranan Mataraman mengandung nilai-nilai moral dan identitas budaya. Representasi kuda dalam pertunjukan ini mengajarkan pentingnya menjaga sumber air bagi penduduk setempat.
Selain itu, kesenian ini juga memperkuat kerukunan dalam masyarakat. Dengan demikian, Jaranan Mataraman menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya dan warisan tak benda masyarakat Dusun Sanan di Kota Blitar.
Selain mengandung unsur-unsur mistisisme dan spiritualitas, kesenian ini juga mengajarkan tentang kearifan lokal serta keseimbangan antara manusia, alam, dan roh.

Penari Jaranan Mataraman sedang bersiap memakai kostum lengkap
Jaranan Mataraman bukan hanya sekedar tarian atau pertunjukan seni. Ia merepresentasikan nilai-nilai moral dan identitas budaya masyarakat Dusun Sanan. Dalam setiap gerakannya, Jaranan Mataraman menyimbolkan babad atau sejarah pendirian Dusun Sanan. Aspek animisme dan dinamisme yang eksis dari kepercayaan abangan juga terasa dalam pementasannya.
Inti dari pakem kesenian Jaranan Mataraman adalah visualisasi latihan berperang prajurit Mataram. Namun, seiring waktu, konsep kesenian ini mengalami perubahan.
Jaranan Mataraman tidak lagi hanya tentang latihan perang, melainkan juga tentang seni tari. Meskipun tidak memuat cerita panji seperti jaranan pada umumnya, kesenian ini tetap mempertahankan pakem Mataraman.
Keunikan Jaranan Mataraman menjadikannya layak diresmikan sebagai warisan budaya tak benda. Ia menggabungkan unsur sakral dan hiburan, menciptakan pengalaman yang berbeda dari kesenian jaranan lainnya.
Dengan ikatan sejarah dan kultural yang kuat, Jaranan Mataraman mengajarkan kita tentang keberagaman dan kekayaan budaya yang harus kita lestarikan. Oleh karena itu, mari kita jaga dan hargai Kesenian Jaranan Mataraman sebagai bagian dari warisan kita yang tak ternilai.
Artikel ini ditulis oleh Lady Khairunnisa Adiyani, S.Hum., Mahasiswa 51动漫, Ketua HIMA , , 51动漫.




