51

51 Official Website

Seminar Prodi Bahasa dan Sastra Inggris Kupas Translanguaging dalam Masyarakat

FIB NEWS , , 51 (FIB UNAIR) menggelar seminar nasional bertajuk Beyond Borders: New Frameworks for Translanguaging in a Globalized City. Acara yang berlangsung di Majapahit Hall, ASEEC Tower ini menghadirkan Prof. Dr. Setiono Sugiharto dari Universitas Katolik Atma Jaya sebagai salah satu narasumber. Kegiatan tersebut sukses terselenggarakan pada Jumat (3/10/2025).

Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Dr. Layli Hamida S.S., M.Hum., turut hadir memberi sambutan. Layli menyoroti pentingnya universitas untuk terus mengeksplorasi ilmu dan menyebarkannya kepada masyarakat.

Tugas universitas adalah terus mengeksplorasi ilmu dan menyampaikannya kepada masyarakat. Oleh karena itu, seminar yang kita laksanakan pagi hari ini merupakan bagian dari tugas tersebut, ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa mahasiswa merupakan agen perubahanyang dapat membawa pengetahuan dan ilmu ini kepada masyarakat yang lebih luas.

Memahami Translanguaging

Dalam paparannya, Prof Setiono menjelaskan bahwa translanguaging sebenarnya bukan konsep baru, meski penelitian secara teoritis dalam linguistik dan sastra baru tersorot akhir-akhir ini. Menurutnya, translanguaging muncul sebagai respon terhadap dominasi ideologi monolingual yang selama ini menutupi keragaman bahasa dan budaya dalam masyarakat.

Kita sudah memiliki tradisi trans-linguistik dalam kehidupan sehari-hari, tetapi ideologi monolingual sering membuat kita tidak menyadarinya, jelasnya.

Lebih lanjut, Prof Setiono menjelaskan prefiks trans- dalam kata translanguaging. Prefix tersebut memiliki 2 makna penting. Makna yang pertama adalah melampaui batas individual dan monolitik dengan menyeberangi berbagai bahasa. Kedua, translanguaging melihat komunikasi sebagai suatu sistem kesatuan yang mencakup kata, visual dan gambar. Oleh karena itu, poster, infografis, dan bentuk visual lainnya juga dapat dianggap sebagai bahasa.

Penerapan dalam kehidupan sehari-hari

Prof Setiono juga menguraikan alasannya memfokuskan materi seminar fenomena translanguaging ini di kehidupan masyarakat, alih-alih pada ruang akademik. Ia menjelaskan bahwa area publik seperti jalanan, poster, papan reklame dan infografis merupakan ruang kreatif masyarakat untuk bebas mengekspresikan diri melalui bahasa dan gambar.

Kehidupan sehari-hari merupakan basis dari kultur sosial, ekonomi dan keragaman budaya lokal pada area itu yang mana dapat kita rasakan experience-nya dari sini, jelasnya.

Menurutnya, area publik menjadi ruang nyata yang memperlihatkan konfigurasi sosial masyarakat. Di sinilah translanguaging hidup bukan sebagai teori semata, tetapi sebagai praktik sosial yang dinamis dan penuh makna.

Kajian Ilmu yang Mulai Mencair

Terakhir, Prof Setiono menegaskan bahwa batas antara kajian ilmu seperti linguistik, sastra, kajian budaya, sosiologi dan lainnya kini semakin cair. Menurutnya, perkembangan ilmu saat ini menuntut akademisi untuk berpikir lintas disiplin.

Untuk publikasi di jurnal internasional, jika hanya berfokus pada linguistik saja saat ini kurang relevan. Maka dari itu perlu mengapresiasi dan belajar kajian ilmu yang lain agar dapat mengikuti perkembangan zaman, ungkapnya.

Ia menekankan bahwa mahasiswa linguistik perlu membuka diri terhadap disiplin ilmu lain. Dengan memahami sastra, budaya dan sosiologi, mahasiswa dapat melihat bahasa bukan hanya dari segi struktur tetapi juga dari konteks sosial dan kulturalnya.

Kegiatan ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 4, yaitu quality education.

Penulis: Pudja Safana Dwi Putri

Editor: Arina Nida Arrusyda

AKSES CEPAT