51

51 Official Website

Seminar Prodi Bahasa dan Sastra Jepang Bedah Representasi Filipina dalam Manga

Dr. Karl Ian Uy Cheng Chua, pada saat pemaparan materi

FIB NEWS , (FIB) 51 (UNAIR) Menggelar Seminar Internasional bertajuk Japanese Studies in South East Asia. Acara yang berlangsung di Sriwijaya Hall, ASEEC Tower ini menghadirkan Dr. Karl Ian Uy Cheng Chua dari University of the Philippines sebagai salah satu narasumber. Kegiatan tersebut sukses terselenggarakan pada Kamis (31/7/2025).

Wakil Dekan III, Lina Puryanti, S.S., M.Hum., Ph.D., turut hadir menjadi salah satu tamu kehormatan pada acara ini. Dalam sambutannya, Lina menyoroti pentingnya Kajian Wilayah Jepang sebagai kacamata untuk memahami dinamika sosial, budaya, dan politik di Asia Tenggara.

Kajian ini tidak hanya berbicara soal budaya, bahasa, dan ekonomi, tetapi juga bagaimana Jepang dan Asia Tenggara saling memengaruhi satu sama lain secara mendalam, ujarnya.

Lina menambahkan bahwa seminar internasional ini merupakan kesempatan untuk saling terhubung, bertukar ide dan membayangkan kolaborasi baru untuk mengembangkan bidang ini di masa depan.

Isu Representasi dalam Manga Jepang

Dalam paparannya, Dr. Karl Ian Uy Cheng Chua mengangkat isu representasi warga Filipina di Jepang yang seringkali terpelintir dalam media populer, termasuk manga. Ia menyebut bahwa banyak representasi Filipina yang bersifat static, tidak akurat, dan bahkan merugikan secara sosial.

Kita harus mempertanyakan bagaimana representasi orang Filipina atau lebih luas lagi warga Asia Tenggara dalam manga Jepang. Mereka kerap tergambar sebagai karakter nelayan, istri imigran dan anak-anak tanpa identitas yang sah, jelas Dr. Karl dalam presentasinya.

Ia juga menyoroti sejarah migrasi warga Filipina ke Jepang terbentuk dari kedatangan para entertainer perempuan pada era 1990-an hingga awal 2000-an, yang kemudian berkembang menjadi fenomena pernikahan internasional dan imigrasi kerja. Namun, di balik itu semua terdapat masalah struktural seperti perdagangan manusia dan diskriminasi.

Politik, Budaya, dan Tanggung Jawab Akademisi

Dr. Karl juga mengaitkan isu ini dengan bangkitnya partai-partai politik konservatif di Jepang seperti Sanseito yang membawa narasi Japan First sehingga cenderung mempersempit ruang bagi keragaman budaya.

Bahasa penting untuk memahami Jepang, tetapi kita juga harus sadar bahwa akses terhadap bahasa dan budaya itu tidak setara. Akademisi punya peran besar untuk menghentikan narasi-narasi yang menyudutkan minoritas, tegasnya.

Ia mengajak para akademisi dan mahasiswa untuk tidak melupakan posisi mereka sebagai warga Asia Tenggara yang mengkaji Jepang, serta pentingnya memahami relasi kuasa dalam representasi budaya.

Seminar ini membuka ruang refleksi dan kolaboratif bagi para peserta dari berbagai kalangan seperti akademisi, mahasiswa, dan praktisi budaya.  Departemen Bahasa dan Sastra Jepang FIB UNAIR berkomitmen untuk terus menghadirkan kegiatan akademik yang dapat memperluas wawasan mahasiswa dalam berbagai aspek budaya dan politik internasional.

Kegiatan ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu quality education.

Penulis: Pudja Safana Dwi Putri

Editor: Arina Nida Arussyda

AKSES CEPAT