51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Serat Ambiyo: Warisan Doa untuk Generasi Mendatang

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Penulis: Kelompok 4 PKL Foklor Kelas B UNAIR

Blitar, 24-25 Mei 2024 “ Desa Kemloko di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, menyimpan kekayaan budaya yang luar biasa. Salah satu elemen penting dari kekayaan ini adalah Serat Ambiyo, sebuah naskah kuno yang tidak hanya mengandung cerita rakyat, mitos, dan legenda, tetapi juga berfungsi sebagai wujud doa dan harapan bagi generasi mendatang. Baru-baru ini, sejumlah mahasiswa dari berbagai universitas melakukan Kuliah Kerja Lapangan (PKL) di desa ini untuk meneliti lebih dalam mengenai peran dan makna Serat Ambiyo dalam kehidupan masyarakat setempat.

Serat Ambiyo adalah manuskrip tradisional yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuno, memuat berbagai kisah yang sarat dengan ajaran moral dan nilai-nilai kehidupan. Masyarakat Kemloko sangat menghargai naskah ini karena dianggap sebagai wujud doa yang mengandung harapan dan panduan hidup yang relevan hingga saat ini.

Para mahasiswa mengumpulkan data melalui wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat, tetua desa, dan warga yang memiliki pengetahuan mendalam tentang Serat Ambiyo. Mereka juga terjun langsung dalam kehidupan sehari-hari warga desa untuk memahami bagaimana naskah ini digunakan sebagai bagian dari tradisi dan harapan masyarakat.

Salah satu kesenian berkesan bagi kami adalah Macapat. Macapat sendiri merupakan salah satu bentuk puisi Jawa kuno yang terdiri dari bait-bait dengan pola tertentu yang dibaca dengan cengkok tertentu pula. Dalam budaya Jawa, Macapat bukan hanya sekadar bentuk hiburan, tetapi juga sarana pendidikan moral dan spiritual.

Serat Ambiya adalah salah satu teks yang dibawakan dalam Macapat di Desa Kemloko, mengisahkan para nabi dan membawa pesan moral yang mendalam bagi pendengarnya. Serat ini sering dimainkan untuk menyambut kelahiran seorang bayi. Melalui pembacaan Serat Ambiya, bayi yang baru lahir dikenalkan dengan kisah-kisah penuh makna, diharapkan agar tumbuh menjadi pribadi yang soleh atau solehah serta mampu berbakti kepada orang tuanya. Serat Ambiyo sendiri awalnya dibawa oleh laskar Diponegoro dari Begelan, Jawa Tengah ketika peperangan pemberontakan Diponegoro menuju ke Timur. Hingga sampailah ke desa Kemloko ini. Peristiwa ini diwujudkan dalam kesenian reog Bulkiyo.

Selain sebagai media pendidikan dan sarana hiburan, Serat Ambiyo juga menjadi alat untuk mempererat hubungan antarwarga. Kegiatan bercerita di malam hari, di mana masyarakat berkumpul untuk mendengarkan kisah-kisah dari naskah ini, menjadi momen untuk bersama-sama menguatkan ikatan sosial dan menanamkan nilai-nilai moral dalam suasana yang penuh kebersamaan.

Bapak Supriyono, Kepala Desa Kemloko, menyambut baik kegiatan PKL ini. Ia berharap penelitian ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, tentang pentingnya melestarikan budaya lokal. PKL di Kemloko Blitar memberikan pengalaman berharga tidak hanya bagi para mahasiswa, tetapi juga bagi masyarakat desa. Kegiatan ini mempererat hubungan antara akademisi dan masyarakat, serta membuka mata kita semua terhadap betapa pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya yang kita miliki. Melalui penelitian dan pelestarian seperti ini, nilai-nilai dan doa-doa yang berharga tetap hidup dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Untuk melihat bagaimana proses kegiatan kami selama berada di Desa Kemloko silakan berkunjung ke youtube kami

AKSES CEPAT