51动漫

51动漫 Official Website

Summer Courses FIB Ulas Perkembangan Kampung sebagai Komunitas di Indonesia

FIB NEWS – Dihadiri oleh mahasiswa asing dari mancanegara, Fakultas Ilmu Budaya 51动漫 mengadakan Summer Courses bertemakan Culture, History, and Local Society. Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan yang ada, pada kamis (4/7/2024), para peserta diajak untuk mengenal lebih dalam mengenai perkembangan kampung sebagai komunitas di Indonesia melalui materi yang dipaparkan oleh Edi Dwi Riyanto, S.S., M.Hum., Ph.D.

Materi dibuka dengan Edi yang menjelaskan secara singkat mengenai kata 渒ampung yang berasal dari bahasa Melayu atau bahasa Indonesia. Tidak hanya itu, ia juga menjelaskan bagaimana kata 渒ampung sendiri seringkali dikaitkan dengan stigma tertentu seperti kotor, kumuh, kurangnya fasilitas yang memadai, dan padat penduduk. Lebih lanjut, ia turut membandingkan mengenai perkembangan kampung di dua daerah berbeda di Indonesia, yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta dan Surabaya. 

Edi menjelaskan bahwa Keraton Yogyakarta sendiri sudah ada sejak tahun 1755, yang mana memiliki status spesial sebagai daerah yang dipimpin oleh seorang Raja atau Sultan sebagai Gubernur dan tidak menerapkan sistem pemilihan umum. Dahulu, Yogyakarta merupakan daerah yang sangat tersentralisasi dengan keraton sebagai pusatnya. Sedangkan, untuk daerah perkampungan dibagi menjadi 2, yaitu perkampungan di dalam benteng, dan di luar benteng.

淜ampung-kampung yang ada di dalam benteng, secara khusus didesain oleh kerajaan untuk membantu dan mendukung kehidupan di istana, jelas Edi.

Berbeda dengan Yogyakarta yang lebih dikenal dengan nilai-nilai kebudayaan tradisionalnya yang kuat, Surabaya justru lebih banyak dipengaruhi oleh aspek  dan militer. Tentunya, hal ini terlihat jelas dari banyaknya pangkalan-pangkalan militer yang tersebar di berbagai daerah di Surabaya, dan adanya jejak-jejak zaman kolonialisme Belanda.

Sebagai contoh, Edi memaparkan mengenai keunikan kampung Peneleh di Surabaya. Ia menyebutkan bahwa di kampung Peneleh, ada banyak hal menarik yang dapat dipelajari. 

Mulai dari sumur Jobong peninggalan kerajaan Majapahit, Masjid Peneleh sebagai bukti persebaran Islam, makam Peneleh peninggalan sebagai jejak kolonialisme Belanda, hingga rumah HOS Tjokroaminoto yang merupakan salah satu situs bersejarah di Surabaya.

淒apat ditemukan jejak-jejak masa sebelum (masuknya) Islam, setelah (masuknya) Islam, era kolonial, hingga era nasionalisme, dalam satu daerah yang sama. Ucap Edi pada para peserta yang hadir hari itu.

Penjelasan Edi lanjutkan membahas seputar tantangan-tantangan yang masih dihadapi oleh komunitas kampung pada saat ini. Salah satunya adalah padatnya penduduk, pengembangan yang belum merata, hingga bagaimana seringkali masyarakat masih terlalu terpaku pada kebiasaan dan tradisi yang sudah lama ada, menyebabkan sulitnya untuk membina dan melakukan pengembangan lebih lanjut.

淛ika masyarakat mengetahui keunggulan dari kampung mereka, maka akan lebih mudah untuk memanfaatkannya dalam pengembangan komunitas kampung, lanjutnya.

Penulis: Audrey Itsnina Azzahra 

Editor: Nuri Hermawan

AKSES CEPAT