51动漫

51动漫 Official Website

Ulas Sosok Perempuan di Balik Pertarungan, Alumni FIB UNAIR Terbitkan Buku Antologi Sejarah

Wildan Haffata Yahfitu Zahra, Wisudawan Berprestasi 2018 sekaligus penulis buku Bara Api Kemerdekaan

Penulis: Aidatul Fitriyah | Editor: Ilma Arrafi Nafi檃

Berprestasi tidak hanya saat mengemban perkuliahan di 51动漫 (UNAIR) saja, tetapi juga saat telah lulus juga. Sebagaimana salah satu alumni (FIB) UNAIR, Wildan Haffata Yahfitu Zahra berhasil menerbitkan sebuah buku antologi bertajuk . Buku ini diterbitkan oleh asosiasi dan resmi diluncurkan pada Jumat (14/4).

Alumni Departemen Ilmu Sejarah itu menuturkan keinginannya untuk ikut berkontribusi memperkaya khazanah sejarah perempuan di Indonesia. Sehingga baginya, minimal publik terutama perempuan-perempuan muda tau bahwa perempuan selalu punya pilihan untuk berjuang di bidangnya masing-masing, karena pada dasarnya itulah tugas sejarah.

Disusun oleh Sejarawan Berbagai Keilmuan

Buku Bara Api Kemerdekaan adalah sebuah antologi yang disusun oleh sejarawan dari berbagai latar belakang dan peminatan.

“Kami dengan bidang dan peminatan masing-masing berkolaborasi dalam menyajikan penelitian sejarah masa Revolusi di Indonesia.” ujar Alumni UNAIR angkatan 2018 itu.

“Secara sederhana, buku ini merupakan paket penelitian lintas peminatan yang sedikitnya dapat memberi gambaran betapa pelik perjuangan masa Revolusi di Indonesia. Pada bagian 1945-1950 merupakan kajian yang kompleks dan menarik,” pungkas Haffata.

Menurut Haffata, keseluruhan bab dari buku ini menarik untuk dibaca, sehingga pembaca harus membaca dari awal hingga akhir untuk mendapatkan informasi secara holistik.

“Namun jika pembaca ingin mendapatkan referensi tertentu, pembaca dapat membaca lebih detail di bab-bab yang telah disajikan di dalam buku ini,” Tuturnya.

Berawal dari Minat Penelitian hingga Menjadi Karya

Hafatta mengaku bahwa ia memiliki minat yang besar terhadap Sejarah Perempuan sejak semester empat.

“Ada beberapa buku bagus yang memberi saya inspirasi tentang perempuan dan peranannya dalam sejarah. Salah satunya, saat saya membaca buku tentang Pertempuran 10 November 1945 yang membuat Surabaya dikenal sebagai kota Pahlawan.” Ungkapnya.

“Pertanyaan saya sederhana, diantara semua pejuang laki-laki yang disebutkan di berbagai jurnal dan dikenal heroik, ada di mana perempuan saat itu? Dalam asumsi saya saat itu, apakah mungkin semua perempuan di Surabaya memilih mengungsi dan membiarkan para laki-laki berjuang, sedangkan ide tentang emansipasi telah kita dapatkan sejak 1800-an,” Imbuh alumni Ilmu Sejarah itu.

Kemudian dari situ, Haffata mendapatkan sumber pendukung yang menyebutkan bahwa perempuan berperan saat itu dan membuatnya mengambil tema ini untuk diteliti sebagai tugas akhir.

Perjalanan Panjang Menulis Buku

Penulisan buku ini tentu juga mengalami perjalanan yang cukup panjang selama melakukan riset. Ide tersebut telah dipikirkan sejak tahun 2015, serta proses penelitian sendiri yang dimulai sejak tahun 2016-2018. Sehingga buku ini merupakan cuplikan dari tugas akhirnya.

Buku ini juga merupakan representasi usaha dari kompilasi peristiwa dramatis yang dialami perempuan saat itu, sekaligus manifestasi dalam mengumpulkan dan menginterpretasi sumber-sumber yang fundamental.

Untuk mendapatkan cukup sumber dokumen dan arsip gambar baik oral history dari sumber sekunder, Ia mengumpulkan sumber dokumen dari berbagai tempat seperti, Perpustakaan Nasional Jakarta, Monumen Pers Nasional di Surakarta, Jogja Library Centre di Yogyakarta, Gedung Juang DHD 45 Surabaya, Kantor Arsip Provinsi Jawa Timur, dan banyak sumber-sumber independen lainnya.

Lebih lanjut Haffata mengungkapkan bahwa mengalami kesulitan dalam mendapatkan narasumber primer yaitu para pejuang perempuan yang masih hidup.

“Sedikitnya pernyataan langsung dari para pejuang perempuan ini membuat saya kesulitan menelaah dengan pendekatan psiko-historis, sedangkan sejak awal saya berharap karya ini saya kerjakan dengan kolaborasi dari ilmu sosial lainnya. Saya juga bertemu dengan beberapa sumber yang secara mental tidak cukup sehat dan baik, akibat dari kerasnya hidup di masa perang. Sehingga saya harus bekerja extra di tahap interpretasi,” Ungkapnya.

Haffata juga mengungkapkan bahwa proses interpretasi dan penulisan juga memakan waktu yang lama dan tidak terlepas dari kontribusi para dosen terutama Dr. Sarkawi Binti Husein dan Ibu Shinta Devi, M.A., serta pembimbing penelitian Dr. Muryadi, serta penguji sidang, Dr. Sukaryanto.

“Meskipun begitu, saya yakin bahwa penelitian ini belum sempurna, mengingat keterbatasan yang saya miliki sebagai penulis, namun saya tetap berkeinginan untuk menyempurnakannya jika suatu saat mendapatkan sumber arsip yang lebih lengkap dan detail.” Ujarnya.

Di akhir sesi wawancara Haffata mengungkapkan rasa terima kasihnya terhadap penerbit PASAK dan para rekan-rekan yang berkontribusi dalam proyek menulis ini. Ia juga berharap, potongan-potongan sejarah yang disajikan dapat menghidupkan gairah perjuangan dalam hidup masing-masing terhadap pembaca. Serta dapat memberi gambaran historis bagaimana kemudahan hidup yang kita rasakan sekarang, lahir dari perjalanan dan perjuangan panjang selama perjuangkan kemerdekaan dan usaha mempertahankannya.

Capaian ini mendukung FIB dalam mewujudkan 厂顿骋檚 poin 4 yakni Quality Education.

AKSES CEPAT