51动漫

51动漫 Official Website

Mengenal tentang IIOR, FKG UiTM Ajarkan Cara Penggunaannya

Kasus maloklusi merupakan hal yang cukup umum di masyarakat saat ini. Namun, maloklusi tidak hanya tentang susunan gigi yang tidak beraturan atau tidak rapi. Ternyata, sangat banyak yang dapat menjadi komponen kasus maloklusi. Oleh karena itu, Fakulti Pergigian Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia memperkenalkan penggunaan IIOR (Index for Interceptive Orthodontics Referral) untuk mengidentifikasi komponen dan grading kasus maloklusi yang terjadi. Sebanyak 39 mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi 51动漫 (UNAIR) yang mengikuti Dental Enrichment Program terlihat sangat antusias dengan workshop yang diadakan kali ini.

Index for Interceptive Orthodontics Referral (IIOR) adalah alat skrining yang mengidentifikasi anomali gigi dan oklusal untuk memprioritaskan rujukan ortodontik bagi anak-anak yang mengalami maloklusi. IIOR penting untuk dipelajari karena penggunaannya dapat membantu dalam mengidentifikasi dan dan merujuk kasus maloklusi pada anak-anak yang sedang berkembang agar mendapatkan perawatan yang tepat secara tepat waktu. Dengan deteksi dini, perawatan ortodontik yang lebih sederhana dapat dilakukan, dan dapat mencegah perkembangan maloklusi yang lebih kompleks.

Workshop ini dilakukan pada hari Jumat, 1 November 2024 di ruang Al-Razi FKG UiTM. Dengan bimbingan Dr. Nagham dan Dr. Mohd Amir Mukhsin, workshop kali ini dimulai dengan pemaparan materi penggunaan IIOR secara singkat. Setelah pemaparan materi, agar mahasiswa dapat lebih memahami bagaimana cara penggunaan IIOR ini, mahasiswa FKG UNAIR akan melakukan praktik identifikasi menggunakan metode IIOR.

Gambar 1. Pemaparan materi oleh Dr. Nagham

Workshop kali ini dilaksanakan dengan membagi 39 mahasiswa menjadi 10 kelompok dengan masing-masing kelompok beranggotakan 3-4 mahasiswa. Setelah diberikan penjelasan tentang IIOR secara singkat, seluruh kelompok akan diberikan 1 model study dan 1 kertas informasi mengenai model tersebut, kemudian setiap kelompok akan mengidentifikasi dan menentukan grading maloklusi pada model tersebut. Setelah selesai mengerjakan 1 model, setiap kelompok akan menukar model yang dikerjakan dengan milik kelompok lain, sehingga setiap kelompok berkesempatan untuk mengidentifikasi setiap model.

Gambar 2. Praktik identifikasi maloklusi dengan metode IIOR

Salah satu peserta workshop, Vemilia, memberikan respon mengenai workshop kali ini, 渟eru bangett, saya jadi bisa belajar banyak tentang metode IIOR ini. Workshop kali ini memberikan banyak insight mengenai penggunaan IIOR yang dapat membantu menganalisa kasus maloklusi. Pada akhir sesi, seluruh mahasiswa diminta untuk mengisi kuesioner mengenai kegiatan yang sudah dilakukan, hal ini bertujuan untuk dapat terus mengembangkan metode IIOR ini agar dapat lebih efektif dan bermanfaat kedepannya.

AKSES CEPAT