51

51 Official Website

Visitasi Produk Riset FKG Unair Oleh Kemendiktisaintek Guna Siapkan Hilirisasi Prioritas 2025

Surabaya Fakultas Kedokteran Gigi 51 (FKG UNAIR) menerima kunjungan dari tim ahli Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Republik Indonesia pada Senin, 3 November 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari program nasional Hilirisasi Riset Prioritas Skema Dorongan Teknologi 2025 yang berlangsung selama tiga hari, mulai 3 hingga 5 November 2025.

Tim yang dipimpin oleh dr Lia Faridah, M.Si., hadir untuk melakukan evaluasi terhadap dua produk hasil riset unggulan FKG UNAIR, yaitu Graptodent dan Graptocare. Kedua produk ini merupakan pembersih gigi tiruan berbahan dasar herbal dari daun ungu (Graptophyllum pictum L.), yang dikembangkan oleh drg Ratri Maya Sitalaksmi, M.Kes., Ph.D., Sp.Pros., Subsp. TMD-OP, dosen sekaligus peneliti di FKG UNAIR.

Produk yang telah memperoleh pendanaan dari Kemendiktisaintek pada tahun 2024 ini dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara komersial karena mengusung konsep ramah lingkungan dan bernilai ekonomi tinggi.

Dekan FKG UNAIR, Prof. Dr. drg. Muhammad Luthfi, M.Kes., PBO, menjelaskan bahwa kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari keberhasilan mahasiswa dan dosen FKG UNAIR dalam meraih penghargaan pada ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2023 di Universitas Padjadjaran, Bandung.

Visitasi ini bertujuan untuk memberikan pendampingan dalam menyusun dan mengembangkan naskah riset juara agar dapat diarahkan menuju tahap komersialisasi, ujar Prof. Luthfi.

Ia menegaskan bahwa hasil riset tidak boleh berhenti di laboratorium, melainkan harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Oleh karena itu, pendampingan dari tim pakar Kemendiktisaintek sangat penting untuk memperkuat sinergi antara akademisi dan industri.

Tim ini akan memberikan arahan strategis terkait metodologi dan tahapan menuju komersialisasi. Meski tidak menjamin produk langsung bisa dikomersialisasikan, setidaknya mereka membantu memetakan langkah-langkah penting yang harus ditempuh, tambahnya.

drg Ratri Maya Sitalaksmi menambahkan bahwa tim pakar juga bertugas menyusun Pra-Studi Kelayakan (Pre-Feasibility Study/Pre-FS) secara sistematis dan sesuai standar nasional. Tahapan ini penting untuk menjembatani kesenjangan antara hasil riset di laboratorium dan penerapannya di dunia industri, atau yang dikenal sebagai valley of death.

Selama kunjungan, tim melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek teknologi, potensi pasar, dan kelayakan komersial produk. Mereka juga memberikan rekomendasi strategis untuk memperkuat kesiapan hilirisasi dan peluang kolaborasi dengan industri, jelas drg Ratri.

Visitasi ini menjadi momentum penting bagi FKG UNAIR untuk memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dalam mendorong transformasi riset menjadi produk inovatif yang memiliki daya saing global dan nilai ekonomi tinggi.

AKSES CEPAT