51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

ARTIKEL KEGIATAN JAE™S VET KAB. MAGETAN 2025

Fakultas Kedokteran Hewan 51¶¯Âþ melaksanakan program Belajar Bersama Komunitas (BBK) yang diikuti oleh seluruh mahasiswa program studi S1 Kedokteran Hewan angkatan 2022. Program ini dilaksanakan di beberapa kabupaten dan kota di Jawa Timur, salah satunya di Kabupaten Magetan. Pada minggu pertama BBK, tepatnya 17“19 September 2025, penulis berkesempatan mengikuti praktik dan pembelajaran di salah satu klinik hewan di Magetan. Kegiatan berlangsung dari pukul 09.00 hingga 17.00 WIB setiap harinya. Selama mengikuti kegiatan, terdapat sejumlah kasus menarik yang memberikan pengalaman baru bagi penulis.

Hari Pertama

Pada hari pertama, klinik menerima pasien seekor kucing dengan kondisi luka robek pada bibir dan tidak mau makan. Setelah dilakukan pemeriksaan fisik, ditemukan adanya ulcer berdarah pada mukosa mulut serta pembengkakan di sekitar mata yang mengeluarkan cairan menyerupai nanah. Dari hasil pemeriksaan, kucing tersebut didiagnosis menderita infeksi Calicivirus. Terapi suportif diberikan berupa antiinflamasi, antibiotik, dan immune booster.

Pasien berikutnya adalah seekor anak kucing yang dibawa oleh seorang warga untuk diperiksa sebelum diadopsi. Dari pemeriksaan fisik, anak kucing ini menderita scabies, terdapat infestasi pinjal, serta menunjukkan tanda malnutrisi dengan berat badan kurang dari 1 kg. Meskipun demikian, kucing tersebut masih memiliki nafsu makan yang baik. Penanganan dilakukan dengan pemberian obat kutu secara topikal pada tengkuk serta vitamin untuk mendukung sistem imun.

Hari Kedua dan Ketiga

Pada hari-hari berikutnya, penulis kembali membantu menangani berbagai kasus. Salah satu kasus yang cukup berat adalah seekor kucing dengan luka terbuka bernanah pada daerah anterior dan posterior siku kaki kiri. Luka tersebut diduga berawal dari gigitan gigi taring. Karena letaknya di area persendian yang sering bergerak, luka semakin melebar hingga membentuk abses. Nanah yang terlihat berasal dari abses yang pecah.

Penanganan dilakukan melalui beberapa tahap, yakni pemotongan bulu di sekitar luka, pembersihan dengan antiseptik, pengeluaran cairan, serta pembuangan jaringan kulit mati untuk memudahkan proses penjahitan. Luka pada bagian anterior dijahit dengan teknik terputus sederhana, sedangkan luka pada bagian posterior yang lebih besar dijahit dengan pola Y untuk mengurangi risiko robekan ulang akibat letaknya yang berdekatan dengan luka anterior.

Pengalaman lapangan dalam kegiatan BBK ini memiliki keterkaitan dengan beberapa Sustainable Development Goals (SDGs), di antaranya:

  • SDG 3 (Good Health and Well-Being): Penanganan kasus penyakit menular dan perawatan luka pada hewan peliharaan secara langsung mendukung kesehatan hewan sekaligus mencegah potensi penyebaran zoonosis.

  • SDG 4 (Quality Education): Mahasiswa mendapatkan pembelajaran langsung dari kasus-kasus klinis nyata, sehingga meningkatkan keterampilan profesional dan pemahaman praktis yang tidak hanya diperoleh dari teori.

  • SDG 15 (Life on Land): Perawatan hewan peliharaan turut berkontribusi pada kesejahteraan satwa domestik dan menjaga ekosistem dari ancaman penyakit.

  • SDG 17 (Partnerships for the Goals): Program ini menunjukkan kerja sama antara perguruan tinggi, tenaga medis hewan, dan masyarakat sebagai bentuk sinergi dalam pembangunan berkelanjutan di bidang kesehatan hewan.

Oleh: Joceline Sonia Lestari C

AKSES CEPAT