51动漫

51动漫 Official Website

Dari Kandang ke Kesadaran : Pelajaran Magang Mahasiswa di Peternakan Sapi Perah

Magang merupakan salah satu kegiatan pembelajaran nyata yang memberikan pengalaman langsung bagi mahasiswa untuk memahami industri di lapangan. Selama dua belas hari (23 Desember 2025 – 3 Januari 2026), kami mengikuti program magang di Peternakan Sapi Perah Waskita Dharma yang berada di Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Waskita Dharma merupakan salah satu unit peternakan yang tidak hanya berfokus pada produksi susu sapi, tetapi juga membantu menyejahterakan masyarakat sekitar dalam sektor perekonomian. Dimana peternakan ini menjalankan sebuah koperasi dengan sistem Gaduhan, yaitu meminjamkan secara cuma – cuma satu ekor sapi perah kepada warga yang bersedia merawat sapi perah tersebut hingga memproduksi susu dan menjual hasil susunya kepada pihak Peternakan Waskita Dharma.

Peternakan ini memiliki manajemen pakan yang terencana dengan baik. Di Waskita Dharma, pakan diberikan tidak hanya sekedar hijauan dan konsentrat saja, tetapi juga memperhatikan kualitas ransum agar sapi perah tetap sehat dan produktif. Pemberian pakan konsentrat dibuat lebih kaya nutrisi pada sapi betina karena berpengaruh terhadap produksi susu, sementara hijauan diberikan dalam jumlah cukup untuk mendukung kerja mikroba rumen yang menghasilkan energi lebih optimal bagi sapi perah.

Selama magang, kami berkesempatan mengamati praktik inovatif terkait pengembangan suplemen herbal temuan lokal dalam manajemen pakan sapi perah, yakni temu ireng (curcuma aeuruginosa Roxb.). Temu ireng dikenal sebagai salah satu tanaman herbal yang memiliki berbagai kandungan bioaktif, seperti alkaloid, flavonoid, dan minyak atsiri, yang dapat memberikan efek peningkatan nafsu makan dan sebagai antioksidan serta antibakteri. Di Waskita Dharma ini sendiri, temu ireng diproses terlebih dahulu dengan cara ditumbuk hingga halus sebelum dipadukan ke dalam pakan sapi perah. Temu ireng yang digunakan memiliki takaran sebanyak 5 kg, kemudian tumbukkan tersebut didiamkan selama kurang lebih enam sampai tujuh hari untuk memungkinkan terjadinya proses pembusukkan alami. Proses ini berlangsung dengan bantuan berbagai mikroorganisme lingkungan yang secara umum terdapat di udara dan tanah. Lalu, pada hari ke lima diberikan penambahan garam sebanyak 2 kg ke dalam tumbukan temu ireng tersebut. Dengan demikian, perbandingan antara temu ireng dan garam yang digunakan adalah 5:2. Tahapan ini memiliki peran penting karena temu ireng secara alami memiliki rasa pahit yang kurang disukai oleh sapi perah. Melalui proses pembusukan alami yang dikombinasikan dengan penambahan garam, terjadi perubahan karakteristik rasa, di mana rasa pahit berangsur berkurang dan menjadi lebih netral, bahkan cenderung lebih disukai oleh sapi perah. Dengan demikian, campuran tumbukan temu ireng dan garam sebagai suplemen herbal dapat diterima dengan baik ketika dicampurkan ke dalam ransum pakan, serta berperan dalam mendukung konsumsi pakan dan produktivitas sapi perah.

Pengalaman magang di Peternakan Waskita Dharma memberikan gambaran nyata bahwa pengelolaan peternakan tidak hanya berbicara tentang produksi, tetapi juga tentang inovasi, keberlanjutan, dan kepedulian terhadap kesehatan ternak. Pemanfaatan temu ireng sebagai suplemen herbal lokal yang diolah melalui pembusukan alami menunjukkan bahwa pendekatan sederhana, berbasis kearifan lokal, dapat meberikan dampak positif terhadap nafsu makan dan kondisi sapi perah. Praktik ini menjadi contoh bahwa ilmu pengetahuan dapat berjalan selaras dengan pengalaman lapangan, tanpa harus bergantung pada teknologi yang rumit dan mahal.

Apa yang dilakukan oleh Peternakan Waskita Dharma ini berkaitan erat dengan Sustainable Development Goals (SDGs)nomor tiga, yaitu Good Health , yang mana maknanya tidak hanya sebatas bebas dari penyakit, tetapi mencakup kondisi tubuh yang sehat, nyaman, dan mampu berfungsi secara optimal. Dalam konteks peternakan, kesehatan sapi perah yang terjaga melalui manajemen pakan yang baik akan berpengaruh langsung pada kualitas susu yang dihasilkan. Susu yang sehat dan berkualitas bukan hanya berdampak pada kesejahteraan ternak, tetapi juga pada kesehatan masyarakat sebagai konsumen. Dengan demikian, upaya menjaga kesehatan hewan ternak secara tidak langsung menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan manusia.

Melalui kegiatan magang ini, kami sebagai mahasiswa semester awal belajar bahwa hal-hal sederhana yang dilakukan langsung di lapangan ternyata bisa membawa dampak yang besar. Contohnya, perhatian terhadap kesehatan ternak, seperti cara pemberian pakan dan pemanfaatan bahan lokal, bukan hanya berpengaruh pada kondisi sapi perah, tetapi juga pada kualitas hasil ternak yang dikonsumsi manusia. Dari pengalaman ini, kami memahami bahwa pengetahuan dasar yang dipelajari di kelas dapat diterapkan secara nyata dan berperan dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi hewan, manusia, dan alam sekitarnya.

 

Oleh: Chika Dwi Amelia, Hazimahtul Husni, Yohana Irene Saragih

AKSES CEPAT