51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Kenali Penyakit Feline Calicivirus (FCV) pada Kucing

Apa itu Feline Calicivirus?
Penyakit feline calicivirus merupakan patogen berupa virus calici yang menyerang kucing dengan tingkat infeksi dan penularan yang tinggi. Virus ini secara spesifik akan menyebabkan gangguan pada daerah oral dan saluran pernafasan (Radford, dkk, 2014). Virus ini merupakan virus single strain “ RNA yang menyerang kucing domestik dan kucing eksotis di seluruh dunia.

Mengapa Kucing dapat Terinfeksi Feline Calicivirus?
Proses penularan virus dapat terjadi secara langsung dari kucing terinfeksi kepada kucing sehat, selain itu proses penularan juga dapat terjadi dengan adanya kontaminasi dari tangan pemilik
ataupun peralatan kandang yang tercemar virus. Rute infeksi biasanya berasal dari nasal, oral dan conjungtiva. Setelah masuk ke dalam tubuh, virus akan segera bereplikasi di jaringan target yaitu conjungtiva, mukosa mulut, mukosa hidung dan paru “ paru (Subronto, 2008). Apabila memelihara kucing lebih dari satu ekor, maka perlu memisahkan antara kucing yang sakit dengan yang sehat supaya tidak terjadi penyebaran virus tersebut.

Apa gejala yang terjadi pada kucing penderita Feline Calicivirus?
Gejala klinis infeksi FCV pada kucing adalah demam, sekret hidung dan mata, ulserasi mulut, dan konjungtivitis. Dalam beberapa kasus, infeksi FCV menyebabkan pneumonia berat dan kematian mendadak. Gejala klinis pada kucing yang terinfeksi feline calicivirus dapat terjadi secara akut, kronis atau tidak sama sekali. Pemilik kucing seringkali tidak menyadari gejala “
gejala awal yang mengindikasikan bahwa kucing peliharaannya memiliki resiko penyakit feline calicivirus. Oleh karena itu, kucing perlu dibawa ke klinik hewan atau rumah sakit hewan terdekat untuk pemeriksaan lebih lanjut serta penanganan yang tepat.

Kasus
Seekor kucing betina masuk untuk rawat inap pada tanggal 1 November 2024 dengan keluhan tidak mau makan selama 2 hari disertai dengan flu, lemas, tidak ada muntah, halitosis, terdapat
ulcer pada lidah, mengalami dehidrasi serta memiliki riwayat belum vaksin.

Apa pemeriksaan pendukung untuk Feline Calicivirus?
Pemeriksaan yang dilakukan sebagai pendukung dalam penegakan diagnosa infeksi Feline Calicivirus (FCV) meliputi isolasi virus, imunofluoresensi, dan tes Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) (Yang et al, 2020).

Bagaimana Pengobatan serta Pencegahan dari Feline Calicivirus?
Tidak ada pengobatan yang dapat menghentikan virus. Maka dari itu, penanganan yang dapat diberikan yaitu perawatan suportif yang terdiri dari suplemen dan multivitamin. Selain itu, juga pemberian terapi cairan untuk mengembalikan cairan tubuh yang hilang. Pemberian antibiotik diberikan pula dengan tujuan mencegah adanya infeksi sekunder karena virus membuat pertahanan tubuh kucing melemah sehingga memungkinkan mikroorganisme lain menyerang serta pemberian antiradang untuk menurunkan respon radang yang terjadi. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Oleh karena itu, pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan melakukan vaksinasi. Vaksin FCV merupakan salah satu vaksin yang direkomendasikan sebagai vaksin inti untuk kucing. Maka dari itu, vaksin FCV perlu diketahui agar resiko Feline Calicivirus menyerang kucing kesayangan menjadi rendah

Feline Calicivirus (FCV) merupakan penyakit viral yang sangat menular pada kucing dan memiliki dampak signifikan terhadap kesejahteraan hewan peliharaan. Penyakit ini juga relevan dalam konteks Sustainable Development Goals (SDGs) karena mencakup aspek kesehatan hewan, kesejahteraan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan. Beberapa poin SDGs yang berkaitan dengan penanganan FCV adalah sebagai berikut:

  1. SDG 3: Good Health and Well-being
    Meskipun FCV adalah penyakit yang menyerang kucing, dampaknya dapat meluas ke kesehatan masyarakat dalam konsep One Health, yang menekankan keterkaitan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Penyakit ini dapat menyebar melalui peralatan kandang yang terkontaminasi, sehingga pemilik hewan perlu meningkatkan kesadaran tentang kebersihan dan pencegahan infeksi. Vaksinasi FCV sebagai tindakan preventif merupakan langkah penting dalam menjaga kesehatan hewan dan mencegah penyebaran penyakit.
  2. SDG 11: Sustainable Cities and Communities
    Keberadaan kucing liar dan kucing peliharaan di kota menuntut adanya komunitas yang lebih peduli terhadap kesehatan hewan. Penyakit menular seperti FCV dapat menyebar dengan cepat di lingkungan padat, terutama di shelter atau rumah yang memiliki banyak kucing. Oleh karena itu, manajemen kesehatan hewan dalam komunitas perkotaan sangat penting untuk mencegah wabah penyakit dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
  3. SDG 12: Responsible Consumption and Production
    Penggunaan antibiotik dalam pengobatan FCV bertujuan untuk mencegah infeksi sekunder, tetapi penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi antimikroba (Antimicrobial Resistance/AMR). Resistensi antibiotik merupakan tantangan global yang juga berdampak pada kesehatan manusia dan lingkungan. Oleh karena itu, perlu ada pengelolaan yang bijak dalam penggunaan obat hewan serta peningkatan kesadaran terhadap pentingnya vaksinasi sebagai langkah preventif untuk mengurangi ketergantungan terhadap antibiotik.
  4. SDG 15: Life on Land
    Feline Calicivirus sering menyerang kucing domestik dan kucing liar, yang berkontribusi pada keseimbangan ekosistem perkotaan dan pedesaan. Penyakit ini dapat menyebabkan penurunan populasi kucing liar secara drastis, yang berpotensi mengganggu keseimbangan ekologi. Pengelolaan kesehatan hewan dan pencegahan penyakit menular menjadi bagian dari upaya konservasi dan kesejahteraan hewan.
  5. SDG 17: Partnerships for the Goals
    Pencegahan dan pengendalian FCV memerlukan kolaborasi antara dokter hewan, pemilik hewan, komunitas pecinta kucing, serta lembaga kesehatan hewan. Kerja sama ini mencakup edukasi tentang pentingnya vaksinasi, kebersihan lingkungan kandang, serta pengelolaan penyakit infeksius di shelter dan klinik hewan. Kampanye kesadaran vaksinasi dapat melibatkan akademisi, organisasi kesejahteraan hewan, serta pihak pemerintah untuk meningkatkan cakupan imunisasi pada kucing domestik dan kucing liar.

(Nisrina Sarah Afiyah).

AKSES CEPAT