Surabaya, [5 November 2025] “ Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) Gelombang 44 Tandem 1 Kelompok 1A Fakultas Kedokteran Hewan 51¶¯Âþ Melaksanakan Kuliah Tamu tentang Manajemen dan Reproduksi Ayam Breeder
Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) Gelombang 44 Tandem 3 Kelompok 3A Fakultas Kedokteran Hewan 51¶¯Âþ melaksanakan kegiatan kuliah tamu di Teaching Farm 51¶¯Âþ. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pembelajaran lapangan yang bertujuan untuk memperdalam pemahaman mahasiswa terhadap sistem manajemen, reproduksi, dan kesehatan ayam breeder (induk pembibit) sebagai dasar penting dalam industri perunggasan modern.
Kuliah tamu tersebut dihadiri oleh 12 mahasiswa PPDH dan menghadirkan pemateri drh. Ricko Nurdianto Saputra dengan drh. Nur Hidayat, M.Si sebagai moderator. Materi yang disampaikan meliputi topik Cross-breeding dan Pedigree Line, Feed Conversion Ratio (FCR), serta Program Vaksinasi Ayam Breeder.
Dalam pembahasannya, pemateri menjelaskan bahwa keberhasilan industri perunggasan modern tidak lepas dari kemajuan teknologi pemuliaan dan seleksi genetik. Melalui proses cross-breeding, galur jantan dan betina dengan sifat unggul disilangkan untuk menghasilkan keturunan dengan produktivitas tinggi, tingkat konversi pakan yang efisien, serta ketahanan tubuh yang baik. Sistem pedigree line diterapkan secara ketat guna menjaga kemurnian genetik dan mengontrol tingkat inbreeding agar tetap di bawah batas aman (<1% per generasi). Struktur rantai pembiakan ayam modern mengikuti piramida breeding yang terdiri dari great grandparent stock (GGP), grandparent stock (GP), parent stock (PS), hingga ayam komersial yang dipelihara oleh peternak.
Selain aspek genetik, pemateri juga menekankan pentingnya Feed Conversion Ratio (FCR) sebagai indikator efisiensi produksi. FCR menggambarkan seberapa banyak pakan yang dikonsumsi untuk menghasilkan satu kilogram daging atau telur. Semakin rendah nilai FCR, semakin efisien ayam dalam mengonversi pakan menjadi produk ternak. Ayam broiler jenis Cobb dan Ross dijelaskan memiliki FCR yang berbeda pada setiap fase umur, di mana ayam Ross umumnya menunjukkan efisiensi sedikit lebih tinggi pada fase akhir pertumbuhan.
Selain itu, konsep Feed Intake (FI) dan Point Feed (PI) juga dibahas sebagai dasar manajemen pakan. FI menunjukkan rata-rata konsumsi pakan per ekor ayam, sedangkan PI menggambarkan titik optimal konsumsi pakan untuk mencapai produksi telur maksimal. Mahasiswa diajak untuk memahami bagaimana keseimbangan nutrisi, usia ayam, dan kondisi lingkungan dapat memengaruhi performa produksi dan efisiensi ekonomi peternakan.
Pada sesi berikutnya, topik Program vaksinasi ayam breeder dibahas secara mendalam. Vaksinasi menjadi salah satu dari tiga pilar utama dalam sistem manajemen peternakan unggas modern, selain Good Management Practice (GMP) dan biosekuriti. Program vaksinasi yang tepat bertujuan menghasilkan antibodi induk (maternal derived antibody) untuk melindungi anak ayam (DOC) sejak hari pertama menetas. Vaksin hidup (live attenuated) dan vaksin mati (killed vaccine) sering dikombinasikan untuk membentuk kekebalan yang kuat dan berkelanjutan.
Pemateri menegaskan bahwa vaksinasi tidak dapat menggantikan kegagalan manajemen atau lemahnya biosekuriti. Oleh karena itu, sebelum menentukan program vaksinasi, peternak harus melakukan survei penyakit lapangan untuk menyesuaikan jenis vaksin yang digunakan. Dalam masa produksi telur, hanya vaksin mati yang diberikan untuk menghindari dampak negatif terhadap performa produksi.
Melalui kegiatan kuliah tamu ini, mahasiswa PPDH memperoleh wawasan yang komprehensif tentang keterkaitan antara genetika, nutrisi, dan kesehatan dalam manajemen ayam breeder. Pemahaman tersebut menjadi bekal penting bagi calon dokter hewan untuk berperan dalam peningkatan efisiensi, kesehatan, dan produktivitas industri perunggasan nasional.
Kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kompetensi profesional dan integritas ilmiah mahasiswa dalam menghadapi tantangan nyata di bidang peternakan unggas, serta mempersiapkan mereka menjadi dokter hewan yang handal dan berkontribusi dalam pengembangan sektor pangan hewani berkelanjutan di Indonesia.




