Anjing merupakan salah satu hewan peliharaan yang paling populer di seluruh dunia. Dikenal karena sifat setia dan kecerdasannya, anjing telah berinteraksi dengan manusia selama ribuan tahun, berperan sebagai teman, penjaga, dan bahkan asisten dalam berbagai pekerjaan. Namun, pemilik anjing juga harus memperhatikan kesehatan reproduksi hewan peliharaan mereka, termasuk risiko serius penyakit seperti pyometra.
Pyometra adalah infeksi pada rahim anjing betina yang sering terjadi terutama pada anjing yang belum disteril dan belum pernah dikawinkan. Penyakit ini ditandai dengan akumulasi nanah di dalam rahim akibat kesinambungan hormonal, biasanya setelah siklus estrus. Anjing betina yang berusia lebih dari enam tahun sangat rentan terhadap penyakit ini, dengan rata-rata usia kejadian sekitar 7,25 tahun. Gejala pyometra meliputi keluarnya nanah dari vagina, lemas, muntah, diare, dehidrasi, serta penurunan nafsu makan.
Kasus Pyometra di Rumah Sakit Hewan 51动漫
Salah satu kasus pyometra yang terjadi di Rumah Sakit Hewan Pendidikan 51动漫 (RSHP UNAIR) melibatkan seekor anjing betina berusia tujuh tahun delapan bulan dengan berat 2,2 kg. Hewan ini dibawa dengan keluhan lemas, muntah, tidak mau makan selama dua hari, tetapi masih mau mengonsumsi camilan tertentu. Selain itu, anjing tersebut mengalami diare dan dehidrasi, serta belum pernah disteril maupun dikawinkan.
Pada pemeriksaan fisik, palpasi abdomen menunjukkan adanya pembesaran dan kekerasan di area perut, serta ditemukan discharge vaginal. Pemeriksaan lanjutan menggunakan X-ray menunjukkan pembesaran uterus dan peningkatan radioopasitas, sehingga anjing tersebut disarankan untuk menjalani perawatan inap sebelum dilakukan tindakan operasi. Setelah kondisi stabil dalam 10 hari, akhirnya dilakukan operasi ovariohisterektomi pada 21 Oktober 2025.
Ovariohisterektomi sebagai Solusi Pencegahan
Ovariohisterektomi adalah prosedur pembedahan yang dilakukan untuk mengangkat ovarium dan rahim pada hewan betina seperti anjing dan kucing. Prosedur ini bertujuan untuk mensterilkan hewan, mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, serta mengatasi berbagai masalah kesehatan pada sistem reproduksi, termasuk pyometra, tumor, dan infeksi. Dengan melakukan ovariohisterektomi, risiko penyakit reproduksi dapat diminimalkan dan kualitas hidup hewan peliharaan dapat meningkat.
Dalam kasus ini, setelah menjalani operasi, anjing tersebut menjalani rawat inap selama tiga hari sebelum diperbolehkan pulang pada 24 Januari 2025. Pemilik dianjurkan untuk melakukan perawatan lanjutan berupa pemberian obat resep, penggantian perban dua kali sehari, serta kontrol pada 27 Januari 2025 untuk melepas jahitan.
Kaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)
Peningkatan kesejahteraan hewan peliharaan, termasuk pencegahan dan penanganan penyakit seperti pyometra, berhubungan erat dengan beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), di antaranya:
- SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
Dengan melakukan sterilisasi, kesehatan reproduksi hewan peliharaan dapat terjaga, mengurangi risiko penyakit serius, serta meningkatkan kesejahteraan mereka. - SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab
Kontrol populasi hewan melalui sterilisasi membantu mengurangi jumlah hewan liar yang dapat mengalami kelaparan, penyakit, atau penelantaran. - SDG 15: Ekosistem Darat
Pengendalian populasi hewan peliharaan juga berkontribusi dalam menjaga keseimbangan ekosistem, mengurangi jumlah hewan liar yang bisa berdampak pada satwa asli di suatu wilayah.
Sterilisasi bukan hanya solusi medis tetapi juga langkah berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan hewan peliharaan dan lingkungan. Oleh karena itu, pemilik anjing disarankan untuk mempertimbangkan prosedur ini sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kesehatan hewan dan keseimbangan ekosistem secara keseluruhan.
Penulis: Penulis: Angel Dwi Fortuna Sagala




