Pada tanggal 7 September 2025, di Rumah Sakit Hewan Pendidikan 51动漫, datang pasien anjing shih tzu bernama Tong-tong berumur 11 tahun 8 bulan dengan keluhan sudah dua hari tidak bisa urinasi namun sering merejan, menurut pemilik, anjing biasanya minum banyak dan pipis banyak, namun sejak dua hari tidak bisa pipis. Setelah dilakukan palpasi vesika urinaria, terasa VU penuh, ketika VU di pijat urin masih belum bisa keluar, sehingga dilakukan kateterisasi utuk membantu mengeluarkan urin. Kateter yang dipasang berupa feeding tube ukuran 6 dan dibuka setiap 3 jam sekali. Setelah dipasang kateter, urin dapat keluar, dan ditemukan sedimen pada urin dan ketika dicek mikroskop tampak seperti pada foto berikut.
Selanjutnya anjing dirawat inap dan dijadwalkan untuk x ray keesokan harinya untuk mengetahui ada tidaknya batu di sistem perkemihannya.
Tanggal 8 september 2025, anjing Tong-tong dilakukan X ray, menggunakan posisi lateral dan ventrodorsal dengan fokus pada vesika urinaria. Dan didapatkan hasil sebagai berikut
Dari hasil tersebut tampak massa radioopaque pada vesika urinaria dan bagian abdomen sisi dorsal. Setelah dilakukan interpretasi oleh Dr. Miyayu Soneta Sofyan drh., M.Vet, selaku dokter penanggung jawab, massa radioopaque pada vesika diindikasi sebagai batu kandung kemih, sedangkan massa pada sisi dorsal abdomen adalah artefak dikarenakan ada kerak keras menempel pada rambut di sisi dorsal abdomen hewan. Selanjutnya anjing Tong-tong dijadadwalkan untuk operasi pengangkatan batu pada 10 September 2025 jam 10.00 WIB. Selama menunggu jadwal operasi terapi harian anjing tong-tong berupa buka kateter dan tampung urin tiap 3 jam, flushing kateter 2 kali sehari, dan pemberian obat resep yang terdiri dari antibiotik, antihistamin, dan multivitamin B.
Operasi pada hewan geriatrik memiliki risiko yang lebih tinggi dibanding operasi pada hewan dewasa pada umumnya, umumnya hewan geriatrik lebih sensitif terhadap efek obat pre anestesi dan obat anestesi, selain itu juga harus diperhatikan agar tidak terjadi terlalu banyak pendarahan pada saat prosedur operasi.
Operasi pengangkatan batu kandung kemih dilaksanakan pada tanggal 10 September 2025 jam 10.00 di Ruang Operasi 2 RSHP Unair, oleh Dr. Miyayu Soneta Sofyan drh., M.Vet. dan dibantu oleh paramedis Bayu dan dokter muda koasistensi Bryan Rahma, Annisa Septiara dan Gita Anggelina. Anjing dipasangkan infus dan dilakukan preanestesi dan anestesi menggunakan atropin 0,5 cc dan zoletil 0,65cc untuk mengurangi efek samping dari preanestesi. Operasi berjalan lancar dan berlangsung selama 1 jam 17 menit. Batu yang diangkat berupa kalsium oksalat berbentuk seperti oval dengan panjang 0,7 cm dan lebar 0,3 cm.
Anjing kemudian dipasangkan kateter (feeding tube) yang dibuka setiap 3 jam sekali untuk memantau kondisi urin selama tiga hari, kemudian untuk 24 jam pasca operasi dirawat secara intensif untuk memulihkan kondisi anjing. Setelah 2 jam pasca operasi, anjing mulai stabil, ada respons menelan ketika diberi air minum, dan 30 menit kemudian anjing mau makan wet food.
Sehari pasca operasi kondisi anjing membaik, mau makan mau minum, kondisi stabil, suhu normal. Anjing diberikan obat resep dan dilakukan penggantian perban sehari sekali, perawatan ini berlangsung selama 10 hari hingga lepas jahitan. Selama perawatan, anjing aktif, nafsu makan baik, urinasi dan defekasi normal, progres kesembuhan luka jahitan baik hingga hari ke 10.
Karena perkembangan pasien cukup baik, maka setelah lepas jahitan pada hari ke 10 anjing Tong-Tong dapat dipulangkan dari RSHP.
Kasus ini tidak hanya menjadi pembelajaran klinis, tetapi juga mendukung beberapa poin Sustainable Development Goals (SDGs):
- SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera Penanganan tepat pada kasus urolithiasis meningkatkan kesejahteraan hewan, yang juga berkontribusi pada kesehatan masyarakat melalui konsep One Health.
- SDG 4: Pendidikan Berkualitas Keterlibatan dokter muda dalam prosedur operasi memberikan pengalaman nyata berbasis keterampilan klinis, mendukung pendidikan kedokteran hewan yang berkualitas.
- SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab Proses terapi dengan manajemen antibiotik, analgesik, serta penggunaan alat medis secara efisien mencerminkan praktik kedokteran hewan yang aman dan bertanggung jawab.
Penulis: Bryan Rahma Gunawan




