Sebagai bagian dari program Belajar Bersama Komunitas (BBK), penulis mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan kegiatan praktik di salah satu klinik hewan di Kabupaten Magetan. Kegiatan berlangsung selama empat hari, mulai Rabu, 17 September hingga Senin, 22 September 2025 (dengan hari Sabtu dan Minggu sebagai hari libur). Klinik beroperasi setiap hari kerja pukul 09.00“17.00 WIB.
Hari Pertama (17 September 2025)
Pada hari pertama, terdapat beberapa kasus yang ditangani, sebagian besar adalah pasien kucing. Beberapa kasus di antaranya:
-
Seekor kucing dewasa (5 kg, suhu 39°C) dengan keluhan demam, lemas, serta mata bernanah. Setelah diperiksa, kucing ini didiagnosis suspek herpesvirus atau calicivirus. Selain itu, ditemukan infestasi pinjal meskipun nafsu makan masih normal. Penanganan dilakukan dengan injeksi antibiotik, antiinflamasi, vitamin, serta pemberian obat oral berupa antibiotik dan antiinflamasi untuk rawat jalan.
-
Seekor anak kucing jantan (700 g, suhu 36°C) dengan keluhan scabies, ditangani dengan injeksi vitamin dan obat antiparasit topikal.
-
Seekor kucing jantan (suhu 37,4°C) dengan keluhan feline lower urinary tract disease (FLUTD) yang kambuh dengan gejala sulit buang air kecil. Penanganan dilakukan dengan antibiotik oral, serta injeksi antibiotik dan vitamin.
-
Seekor kucing betina (3,4 kg, suhu 37,9°C) yang datang untuk kontrol pasca operasi ovariohysterectomy. Luka jahitan dibersihkan, diberikan salep, dan perban diganti.
Hari Kedua (18 September 2025)
Kasus yang ditangani lebih bervariasi, antara lain:
-
Seekor kucing (4,65 kg) dengan keluhan diare yang setelah diperiksa didiagnosis gastritis sehingga harus dirawat inap.
-
Seekor kucing dengan keluhan otitis, ditangani dengan obat tetes telinga serta perawatan grooming.
-
Seekor kucing dengan keluhan lemas. Setelah diperiksa, ditemukan anemia akibat infestasi kutu berat. Penanganan dilakukan dengan kombinasi injeksi vitamin, obat penambah darah, dan terapi suportif.
-
Seekor anak kucing (600 g, suhu 36,6°C) dengan kondisi malnutrisi dan dehidrasi, diberikan injeksi antibiotik, vitamin neuro, serta obat oral berupa immunobooster.
-
Seekor kucing dewasa (4,5 kg, suhu 40°C) dengan luka robek pada kaki depan yang sudah terinfeksi selama 4“5 hari tanpa penanganan. Luka dipenuhi nanah, sehingga dilakukan pembersihan dengan antiseptik, pengangkatan jaringan nekrotik, dan penjahitan dengan lebih dari 19 jahitan menggunakan benang bedah. Sebelum tindakan, kucing diberikan anestesi umum. Dari pemeriksaan juga ditemukan atrofi pada kaki depan kiri. Luka dibiarkan tanpa perban agar pemilik lebih mudah memantau kondisinya.
Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengalaman klinis yang berharga bagi mahasiswa, tetapi juga memiliki kaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain:
-
SDG 3 (Good Health and Well-Being): Penanganan penyakit infeksi, parasit, dan luka pada hewan mendukung peningkatan kesehatan hewan serta berkontribusi dalam pencegahan zoonosis.
-
SDG 4 (Quality Education): Melalui pembelajaran langsung di lapangan, mahasiswa memperoleh keterampilan klinis nyata yang memperkuat pendidikan kedokteran hewan berbasis pengalaman.
-
SDG 12 (Responsible Consumption and Production): Penggunaan obat-obatan secara rasional dan sesuai indikasi membantu mengurangi risiko resistensi antimikroba.
-
SDG 15 (Life on Land): Perawatan kesehatan hewan peliharaan turut berkontribusi pada kesejahteraan satwa domestik, sekaligus mendukung kelestarian ekosistem darat.
-
SDG 17 (Partnerships for the Goals): Program BBK memperlihatkan sinergi antara perguruan tinggi, klinik hewan, dan masyarakat dalam upaya mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan di bidang kesehatan hewan.
Oleh : Caroline Tanuwijaya




