Pengalaman koas merupakan salah satu fase terpenting dalam perjalanan saya sebagai calon dokter hewan. Saya menjalani program koas divisi klinik di Rumah Sakit Hewan Pendidikan Fakultas Kedokteran Hewan 51动漫 pada tahun 2024. Masa tersebut berlangsung selama sepuluh minggu, dengan pengalaman di berbagai bidang, seperti bedah, interna, opname, menerima poli hingga menghadapi ujian dan kegiatan demonstrasi. Sebelum masuk ke RSHP kami menjalani kuliah umum selama 2 minggu di divisi klinik sebagai bekal untuk menjalani RSHP.
Stase bedah merupakan salah satu pengalaman paling berkesan selama saya menjalani koas di Rumah Sakit Hewan Pendidikan Fakultas Kedokteran Hewan 51动漫 pada tahun 2024. Di stase ini, saya belajar secara langsung bagaimana teori yang sebelumnya hanya saya pahami di kelas benar-benar diterapkan pada pasien hewan dengan berbagai kondisi. Peran saya sebagai asisten, yaitu menyiapkan instrumen operasi seperti obat dan alat kesehatan, memastikan prosedur sterilisasi berjalan dengan baik, serta membantu dalam menjaga posisi pasien di meja operasi. Walaupun terlihat sederhana, saya segera menyadari betapa pentingnya peran tersebut. Sedikit kelalaian pada tahap persiapan dapat berdampak besar terhadap jalannya operasi. Dari sini, saya belajar ketelitian dan disiplin menjadi kunci utama dalam bidang bedah.
Selain keterampilan teknis, stase bedah juga melatih kemampuan kerja sama tim. Setiap operasi membutuhkan komunikasi yang jelas antara operator, asisten, dan tim anestesi. Saya belajar yang harus dilakukan dalam situasi darurat, seperti ketika terjadi perdarahan mendadak atau perubahan tanda vital pasien. Kondisi seperti ini menuntut saya untuk berpikir cepat dan tetap tenang.
Di stase interna, saya banyak menemui pasien dengan kasus kronis, seperti gagal ginjal, penyakit kulit, serta kucing dengan FLUTD. Stase ini juga menuntut saya untuk banyak membaca literatur. Setiap kasus membutuhkan pendekatan yang berbeda, sehingga saya dituntut memahami alasan di balik setiap pilihan terapi.
Selain itu, saya juga aktif dalam memantau pasien opname, mulai dari memberikan obat, menjaga asupan cairan, hingga mencatat kondisi harian. Walaupun melelahkan, ada kepuasan tersendiri ketika melihat hewan yang sebelumnya lemah kembali pulih dan dapat dipulangkan ke pemiliknya. Pada opname saya bertugas untuk memberikan obat sesuai jadwal, memastikan infus berjalan dengan baik, memantau suhu tubuh, serta mencatat setiap perubahan kecil pada kondisi pasien. Walaupun terlihat rutin, setiap detail sangat penting, karena sedikit kelalaian bisa berdampak besar. Dari sinilah saya memahami konsistensi dalam perawatan sangat dibutuhkan.
Ada satu pengalaman yang tidak terlupakan ketika saya merawat seekor kucing bernama Gendut datang dengan diagnosa FLUTD. Pasien tersebut datang dalam keadaan sangat lemah dan tidak bisa kencing sudah seminggu. Tindakan medis yang dilakukan Adalah pemasangan kateter. Saat kateter terpasang, urine keluar bercampur darah. Setiap sore saya flushing kateter dan cairan selalu merah serta bercampur debris-debris jaringan yang rupture. Akhirnya dokter senior memutuskan untuk USG dan ditemukan penebalan dinding vesica urinary dan didiagnosa dengan penyakit pseudomembranous cystitis. Dokter senior dan saya berdiskusi pengobatan apa yang dilakukan untuk kucing gendut. Saya beserta dokter mencari literatur dan mendiskusikan dan akhirnya memilih salah satu jurnal sebagai acuan pengobatan. Hari-hari awal terasa berat, namun lambat laun kondisinya membaik. Saat akhirnya pasien tersebut dapat pulang bersama pemiliknya, saya merasa bangga sekaligus terharu, karena upaya kecil saya turut membantu proses penyembuhannya.
Masa ujian menjadi tantangan tersendiri. Saya diuji melalui studi kasus, keterampilan praktis, serta tanya jawab langsung dengan dosen penguji. Momen ini penuh tekanan, tetapi juga melatih saya bagaimana cara berpikir sistematis, menjawab dengan percaya diri, dan tetap fokus pada pasien meskipun dalam kondisi tertekan. Selain itu, pengalaman demo sangat berkesan. Saya bisa langsung diajarkan cara melakukan operasi ovariohisterektomi secara intens. Saya diajarkan Langkah-langkah dengan detail, bagaimana yang benar dan bagaimana yang salah.
Secara keseluruhan, pengalaman koas mengajarkan saya belajar sesungguhnya bukan hanya di ruang kelas, melainkan di lapangan klinis. Kesabaran dan tanggung jawab dibutuhkan setiap waktu dan yang terpenting adalah keselamatan pasien karena dedikasi sangat dibutuhkan dalam profesi ini dan saya harus terus berkembang untuk menjadi dokter hewan yang kompeten dan empatik.
Pengalaman koas di Rumah Sakit Hewan Pendidikan Fakultas Kedokteran Hewan 51动漫 tidak hanya memperkuat keterampilan klinis, tetapi juga berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Dalam praktik sehari-hari, saya belajar bahwa setiap tindakan medis terhadap hewan memiliki dampak luas, baik terhadap kesehatan masyarakat, lingkungan, maupun kesejahteraan hewan itu sendiri.
Melalui perawatan pasien hewan dengan berbagai kondisi, saya turut mendukung SDG 3 (Good Health and Well-Being), karena kesehatan hewan berhubungan erat dengan kesehatan manusia dalam konteks One Health. Penanganan kasus zoonosis, penyakit kulit, serta kondisi kronis membantu mencegah risiko penularan dan meningkatkan kesejahteraan bersama.
Selain itu, keberadaan Rumah Sakit Hewan Pendidikan yang menerima berbagai jenis pasien, termasuk satwa liar, mendukung SDG 15 (Life on Land) dengan berkontribusi pada konservasi keanekaragaman hayati. Kasus-kasus seperti perawatan kucing dengan FLUTD atau pasien satwa liar menegaskan pentingnya peran dokter hewan dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Dari sisi pendidikan, kegiatan pembelajaran klinis di RSHP merupakan wujud nyata SDG 4 (Quality Education)karena memberikan pengalaman praktis yang berkualitas, melatih keterampilan teknis, komunikasi, dan kerja tim. Hal ini memastikan calon dokter hewan memiliki kompetensi yang mumpuni untuk masa depan.
Secara keseluruhan, pengalaman koas mengajarkan bahwa profesi dokter hewan tidak hanya berfokus pada penyembuhan hewan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata pada pembangunan berkelanjutan, dengan mengintegrasikan aspek kesehatan, kesejahteraan, pendidikan, dan konservasi lingkungan.
Penulis: Tesya Siti Myraneva




