Kediri “ Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) 51¶¯Âþ (Unair) menyambangi Puskeswan Kandat, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, dalam program Magang Bersama Ternak Besar (MASTER) 2025. Kegiatan yang digelar selama dua pekan, tepatnya mulai 2 hingga 15 Juli 2025 ini, menjadi ajang penguatan keterampilan klinis dan pengelolaan kesehatan ternak di lapangan bagi para calon dokter hewan muda.
Dalam program ini, sembilan mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Minat Profesi Veteriner Ternak Besar (KMPV TB) diuji kemampuannya secara langsung. Mereka tidak hanya dituntut memahami teori kesehatan hewan dari bangku kuliah, tetapi juga harus mampu mempraktikkan pengetahuan tersebut di tengah kondisi nyata di lapangan yang penuh tantangan.
“Kami ingin membekali diri dengan pengalaman langsung menangani hewan di lapangan. Karena untuk menjadi dokter hewan yang baik, tidak cukup hanya teori. Dibutuhkan keterampilan praktis, observasi yang tajam, dan kemampuan pengambilan keputusan di tempat,” ungkap Fahri Budi Syahrian, Ketua KMPV TB.
Langsung Terjun ke Kasus Nyata di Peternakan
Selama magang, mahasiswa FKH Unair dilibatkan dalam berbagai prosedur medis dan manajerial peternakan. Mulai dari vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang sempat menjadi ancaman serius bagi ternak nasional, hingga operasi penanganan hernia pada sapi. Tidak hanya itu, peserta juga berlatih penanganan prolaps uteri dan prolaps vagina, dua kondisi darurat yang kerap ditemui pada sapi betina pasca melahirkan.
Mahasiswa juga diberikan kesempatan untuk mempraktikkan teknik pemeriksaan reproduksi, seperti pemeriksaan kebuntingan serta pengenalan lebih dalam tentang organ reproduksi ternak. Tak kalah penting, mereka mempelajari teknik thawing straw sperma beku sebagai persiapan untuk inseminasi buatan (IB), yang menjadi salah satu upaya meningkatkan kualitas genetika ternak di Indonesia.
Selain keterampilan klinis, mahasiswa juga mendapat bekal dalam manajemen kandang dan pakan, yang merupakan kunci menjaga kesehatan dan produktivitas ternak. Mereka turut terlibat dalam pemeriksaan antemortem dan postmortem di Rumah Potong Hewan (RPH) Wates, Kediri ” pengalaman penting untuk memahami standar kesehatan sebelum dan sesudah pemotongan hewan.
Pembelajaran Lapangan yang Menyentuh Realita Profesi
Salah satu peserta magang, Mohamad Riski Firdaus, mengaku banyak memperoleh wawasan baru dari kegiatan ini. œKami jadi paham bagaimana kondisi riil di lapangan, mulai dari menangani kasus ringan seperti myasis pada kambing pasca melahirkan, hingga kasus berat seperti hipokalsemia pada sapi yang harus segera ditangani dengan infus, ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pengalaman semacam ini sangat penting untuk membangun kesiapan mental dan keterampilan teknis sebelum benar-benar terjun sebagai dokter hewan profesional. œTentu saja tantangan di lapangan berbeda jauh dengan apa yang dibayangkan saat belajar di kelas, imbuhnya.
Membangun Jembatan Akademik dan Praktik Lapangan
Program magang MASTER ini tidak hanya penting bagi mahasiswa, tetapi juga menjadi wujud nyata kolaborasi antara dunia akademik dan praktisi kesehatan hewan di lapangan. Puskeswan Kandat sebagai mitra magang berperan besar dalam membimbing dan memberikan pengalaman autentik kepada mahasiswa.
Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Unair, Prof. Dr. Mirni Lamid, drh., MP, dalam sambutannya mengapresiasi kegiatan ini sebagai salah satu cara Unair mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga tangguh menghadapi tantangan profesi di masyarakat.
œKami ingin mahasiswa FKH Unair menjadi dokter hewan yang bukan hanya kompeten secara teori, tetapi juga piawai di lapangan, mampu beradaptasi, cepat tanggap, dan memiliki empati terhadap kondisi peternak, tegas Naufal Dini Tahtadiy, Ketua BEM FKH Unair.
Harapan dan Kontribusi ke Depan
Program yang berlangsung intensif ini ditutup dengan pelepasan peserta pada 15 Juli 2025. Kegiatan tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi semua peserta, yang diharapkan menjadi pemicu semangat untuk terus mengembangkan diri di bidang kedokteran hewan, khususnya terkait ternak besar.
Dengan berakhirnya program magang ini, harapan besar turut mengemuka. Mahasiswa diharapkan tak hanya mampu menangani kasus-kasus kesehatan hewan secara klinis, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan peternakan nasional. Pengalaman di Puskeswan Kandat menjadi bekal penting dalam mewujudkan dokter hewan yang berkarakter, berilmu, dan berdaya saing tinggi di dunia profesional.




