51动漫

51动漫 Official Website

Edukasi Berbasis Budaya untuk Meningkatkan Kepatuhan Self Care Management Pasien Hipertensi

NERS NEWS – Hipertensi disebut sebagai ““silent killer” oleh World Health Organization (WHO) yang menyebabkan jumlah beban penyakit terbesar di seluruh dunia (Xiong et al., 2018). Penyebab tingginya angka komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakit hipertensi adalah kepatuhan yang rendah terhadap obat antihipertensi (Georgiopoulos et al., 2018) dan gaya hidup yang tidak sehat. Komplikasi yang dapat terjadi akibat tidak terkontrolnya hipertensi adalah penyakit kardiovaskular, stroke, penyakit ginjal stadium akhir, dan kematian (Shim et al., 2020). Data WHO tahun 2015 menunjukkan sekitar 1,13 miliar orang di dunia menderita hipertensi, artinya 1 dari 3 orang di dunia terdiagnosis hipertensi. Jumlah penderita hipertensi terus meningkat setiap tahunnya, diperkirakan pada tahun 2025 akan ada 1,5 miliar orang yang terkena hipertensi dan diperkirakan setiap tahunnya 10,44 juta orang meninggal akibat hipertensi serta komplikasinya. Menurut Kemenkes RI (2019), jumlah penderita hipertensi yang rutin minum obat yaitu sebanyak 54,4%, sedangkan jumlah penderita yang tidak rutin minum obat yaitu sebanyak 32,27 % dan yang tidak minum obat sama sekali sebanyak 13,33%.

Indonesia merupakan suatu negara yang terdiri dari berbagai daerah dimana masing-masing daerah memiliki adat kebiasaan yang berbeda-beda dalam menangani masalah kesehatan di masyarakat. Perilaku budaya terkait dengan sehat sakit pada masyarakat masih banyak dilakukan secara turun temurun (Pratiwi, 2011). Aspek budaya sebagai norma sosial terkait dengan kurangnya pengetahuan tentang pengobatan dan pemahaman negatif terhadap obat mempengaruhi kepatuhan program pengobatan hipertensi. Intervensi keperawatan melalui edukasi dan konseling, dapat membantu untuk mengatasi masalah klien dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotor sesuai latar belakang budayanya. Strategi yang digunakan adalah mempertahankan budaya bila budaya klien tidak bertentangan dengan kesehatan, negosiasi budaya untuk membantu klien beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih menguntungkan kesehatannya dan restrukturisasi budaya klien jika budaya yang dimiliki merugikan kesehatannya. Edukasi suportif memberikan motivasi kepada individu dalam menjalani prosedur perubahan perilaku dengan mempengaruhi nilai, kepercayaan, dan sikap individu yang berisiko atau sudah mengidap penyakit. Edukasi suportif tidak hanya meningkatkan pengetahuan pasien, tetapi juga melakukan pemberian motivasi dan bimbingan melalui konsultasi secara aktif serta mengajarkan hal-hal yang baru kepada pasien (Kusuma, 2021).

 

Penulis: Vitta Sofianita Botilangi
Editor: Fadiya Rizkyna Asadanie (Airlangga Nursing Journalist)

AKSES CEPAT