NERS NEWS – Asuhan keperawatan pada pasien penyakit ginjal tahap akhir sangat penting diperhatikan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien selama menjalani perawatan di rumah sakit. Banyak literatur yang belum menjelaskan terkait standar asuhan keperawatan pada penderita penyakit ginjal tahap akhir. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) telah menerbitkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) untuk dapat menjadi acuan bagi perawat Indonesia dalam meningkatkan mutu asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien.
Penyakit ginjal tahap akhir ditandai dengan fungsi ginjal yang menurun sehingga ginjal tidak dapat berfungsi dengan baik. Hal ini dinilai dari GFR < 15 mL/min/1,73m2. Dokumentasi asuhan keperawatan merupakan catatan penting dari tindakan keperawatan sebagai bukti telah melakukan asuhan keperawatan yang digunakan untuk kepentingan klien, perawat, dan tim kesehatan lain. Dokumentasi keperawatan di Indonesia harus berdasarkan standar PPNI, yaitu SDKI, SLKI, dan SIKI. Diagnosis keperawatan menurut SDKI dibagi menjadi 2 jenis, yaitu diagnosis negatif dan diagnosis positif serta memiliki 2 komponen, yaitu masalah (problem) dan Indikator diagnostik. Luaran menurut SLKI terbagi menjadi 2, yaitu luaran negatif dan luaran positif dengan komponen label, eksptektasi, dan kriteria hasil. Setiap intervensi keperawatan menurut SIKI terdiri atas tiga komponen yaitu label, definisi dan tindakan.
Proses pengembangan instrumen asuhan keperawatan penyakit ginjal tahap akhir dilakukan menggunakan desain penelitian research and development dengan 2 tahap. Tahap pertama, yaitu melakukan evaluasi instrumen asuhan keperawatan pada rekam medis pasien penyakit ginjal tahap akhir sejumlah 101 rekam medis. Hasil evaluasi rekam medis muncul isu strategis yang didiskusikan dalam kegiatan FGD 1 bersama 11 perawat, selanjutnya dilakukan konsultasi pakar. Sesuai hasil FGD 1 dan konsultasi pakar, peneliti menyusun pengembangan instrumen asuhan keperawatan berbasis SDKI, SLKI, dan SIKI pada pasien penyakit ginjal tahap akhir dan dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Pada tahap kedua, hasil pengembangan instrumen dibahas pada kegiatan FGD 2 bersama 9 perawat. Hasil FGD 2 digunakan sebagai rekomendasi penelitian tentang pengembangan instrumen asuhan keperawatan berbasis SDKI, SLKI, dan SIKI pada pasien penyakit ginjal tahap akhir dan instrumen sudah dilakukan penyempurnaan dan siap untuk diaplikasikan.
Didapatkan lima diagnosis keperawatan yang dirumuskan oleh perawat saat melakukan asuhan keperawatan pada pasien penyakit ginjal tahap akhir, antara lain pola napas tidak efektif, hipervolemia, defisit nutrisi, risiko ketidakseimbangan elektrolit, dan risiko jatuh. Terlebih dahulu dilakukan penyusunan Panduan Asuhan Keperawatan (PAK) penyakit ginjal tahap akhir, kemudian selanjutnya pengembangan instrumen asuhan keperawatan berbasis SDKI, SLKI, SIKI sebanyak 10 diagnosis keperawatan. Hasil uji validitas 10 instrumen asuhan keperawatan penyakit ginjal tahap akhir menggunakan I-CVI dinyatakan valid. Hasil uji reliabilitas instrumen menggunakan KR 20 dinyatakan reliabel. hasil sosisalisasi terkait terkait pendapat perawat dan tim manajemen keperawatan. Sebagian besar responden berpendapat bahwa dari aspek functionallity, efficiency, dan usability dalam kategori baik. Rekomendasi hasil penelitian pengembangan instrumen asuhan keperawatan ini dapat diaplikasikan dan dilakukan sosialisasi lebih lanjut.
Kesimpulan peneliti adalah 1) Hasil evaluasi instrumen asuhan keperawatan dari semua aspek instrumen berdasarkan komponen diagnosis, luaran, intervensi, implementasi, dan evaluasi keperawatan sebagian besar sudah sesuai dengan standar SDKI, SLKI, SIKI, namun masih perlu dilakukan penyempurnaan 2) Instrumen yang dikembangkan berjumlah 10 instrumen asuhan keperawatan berbasis SDKI, SLKI, SIKI pada penyakit ginjal tahap akhir diantaranya hipervolemia (D.0023), pola napas tidak efektif (D.0005), risiko defisit nutrisi (D.0032), risiko jatuh (D.0143), risiko ketidakseimbangan elektrolit (D.0037), intoleransi aktivitas (D.0056), ansietas (D.0080), gangguan pertukaran gas (D.0003), risiko perfusi renal tidak efektif (D.0016), dan kesiapan peningkatan nutrisi (D.0026). Sebelumnya dilakukan penyusunan Panduan Asuhan Keperawatan (PAK) penyakit ginjal tahap akhir. 3) Pengembangan instrumen asuhan keperawatan berbasis SDKI SLKI SIKI pada penyakit ginjal tahap akhir telah dinyatakan valid dan reliabel. 4) Pengembangan instrumen asuhan keperawatan berbasis SDKI, SLKI, SIKI pada penyakit ginjal tahap akhir dinyatakan baik dari aspek functionallity, efficiency, dan usability sehingga dapat direkomendasikan digunakan di Instalasi Penyakit Dalam.
Penulis : Nauvilla Fitrotul ‘Aini, Magister Keperawatan
Editor: Rifdayanti M. Amalia (Airlangga Nursing Journalist)




