Tanggal 2 juni 2025 ada panggung menarik di area kampus fakultas perikanan dan kelautan. Bukan kuliah dan Bukan cuma jadi bahan obrolan di kelas, mahasiswa semester 6 Program Studi Teknologi Hasil Perikanan membuktikan bahwa algabaik mikro maupun makropunya potensi lebih dari sekadar bahan kuliah. Dalam praktikum mandiri mata kuliah Bioteknologi Mikro dan Makroalga, mereka bertransformasi dari pembelajar jadi peracik inovasi. Hasilnya? Produk-produk eksperimental yang bukan hanya aplikatif, tapi juga punya nilai ekonomi dan lingkungan. Semua akan dibawa ke meja publik lewat gelaran expo pada 2 Juni 2025, sebagai bagian dari rangkaian evaluasi sekaligus perayaan kreativitas berbasis riset.
Di antara produk yang dikembangkan, ada contoh yang cukup mencuri perhatian: hidrogel dari ekstrak alginat, sunscreen alami dari Spirulina, dan sosis ikan patin. Tiga ini bukan produk utama, tapi gambaran konkret tentang bagaimana teori bioteknologi bisa diterjemahkan jadi barang nyata. Hidrogel berbahan alginat menunjukkan potensi sebagai material medis dan kosmetik berkelanjutan. Sunscreen spirulina bukan sekadar wacana skincare hijau, tapi realisasi formula anti-UV berbasis mikroalga lokal yang aman untuk kulit dan laut. Sementara sosis patin menjadi bukti bahwa bioteknologi juga punya tempat di dapurmemadukan protein lokal dengan teknologi pangan berbasis hasil perikanan.
Expo ini bukan cuma pameran tugas akhir praktikum, tapi jadi panggung di mana mahasiswa bisa unjuk gigi sebagai calon teknolog masa depan. Lewat pendekatan berbasis bioteknologi kelautan dan perairan, mereka memperlihatkan bahwa inovasi bisa lahir dari laboratorium kampus, dan menyasar isu-isu besar seperti keberlanjutan, pangan fungsional, dan kosmetik ramah lingkungan. Lewat karya-karya ini, mahasiswa semester 6 bukan hanya mengikuti kelas, tapi ikut mendesain masa depan industri berbasis sumber daya hayati akuatik Indonesia.




