UNAIR NEWS – Mahasiswa 51动漫 (UNAIR) tak hentinya menorehkan prestasi membanggakan melalui inovasinya. Kali ini tim ARTERRA UNAIR yang beranggotakan lima orang yakni Eka Rachma Aprilidanti (Fakultas Vokasi), Al A檙aafat Jaya Putra (Fakultas Vokasi), Galih Triatmojo (Fakultas Vokasi), Adela Febry Widiana (Fakultas Perikanan dan Kelautan), dan Abdurrahman Al Faiz A. A. (Fakultas Vokasi) berhasil meraih banyak penghargaan pada kompetisi bergengsi nasional yakni National Essay Competition 3 tahun 2025.
Kompetisi yang diadakan Lembaga Setara Prisma Nusantara (Nusantara Muda) dengan tema 淜olaborasi Inovasi, Ide dan Kreativitas Pemuda untuk Indonesia Emas kali ini berlangsung pada 17-18 Mei 2025 di Universitas Dhyana Putra, Bali, Indonesia. Tim ARTERRA yang mengembangkan 3 Inovasi di bidang Teknologi ini berhasil mendapatkan penghargaan Gold Medal, Silver Medal, Bronze Medal, Best Presentation, Juara 1, Favorite Video, Favorite Paper dan 2 Favorite Poster.
1. Robot Otonom Berbasis AI dan Machine Learning
Ketua tim ARTERRA, Eka menyampaikan bahwa Inovasi Robot ini tidak hanya dibuat untuk mendeteksi IUU fishing, tetapi juga dibuat untuk mengumpulkan sampah di lautan. Polusi laut yang disebabkan oleh sampah plastik yang dapat membahayakan ekosistem laut di Indonesia.
淩obot ini nantinya dapat digunakan oleh banyak pihak yang lebih hemat, disuplai sel tenaga surya dan dapat mengawasi secara real-time sehingga mampu mendeteksi IUU fishing dan sampah di lautan didesain cepat, akurat, dan reliable. Selain itu, robot ini juga disertai AI dan Machine Learning membuktikan bahwa inovasi ini mendukung perkembangan teknologi dan SDGS ungkapnya.
Eka juga mengatakan bahwa aplikasi ini juga sejalan dengan pengembangan SDGs ke-8, 12 dan 14 yaitu tentang menjaga keberlanjutan ekosistem laut, mendukung ekonomi masyarakat pesisir, dan mengurangi dampak lingkungan.
2. Alat Pendeteksi Polutan di Kawasan Hunian Industri
Eka mengatakan bahwa Polusi udara menjadi permasalahan lingkungan yang semakin mengkhawatirkan di Indonesia, terutama di kawasan permukiman yang berada di dekat zona industri dan Indonesia menduduki peringkat ke-26 sebagai negara dengan kualitas udara terburuk di dunia, dengan konsentrasi PM2.5 rata-rata mencapai 30,5 碌g/m鲁, jauh melebihi standar aman yang di ditetapkan oleh World Health Organization.
淎lat pendeteksi yang dilengkapi Internet of Things (IoT) menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk memantau dan menganalisis kualitas udara secara real-time di kawasan hunian dekat industri menjadi trobosan baru dalam mengatasi polusi udara di kawasan pemukiman industri di Indonesia. Sistem ini mengintegrasikan data dengan berbagai sensor. Sehingga, sistem ini dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat akan kesehatan pernapasan, mengurangi biaya (cost-effective), sistem yang user friendly. Ungkapnya
3. Sistem Irigasi berbasis IoT
Galih Mengatakan inovasi ini muncul akibat permasalahan pertanian Indonesia dari hulu hingga hilir yang menghambat kemajuan pertanian Indonesia. Dimana pertanian yang merupakan salah satu sektor vital Sumber daya alam Indonesia sangat melimpah,terutama dalam sektor pertanian.
淩ancangan sistem irigasi otomatis berbasis IoT ini penting karena mampu untuk meningkatkan kualitas teknologi pertanian yang ada di Indonesia dan membantu para petani untuk melakukan proses irigasi secara otomatis tanpa perlu datang ke sawah, serta cukup memantau dan melakukan proses irigasi di rumah saja. Selain itu, inovasi ini juga mendukung perkembangan teknologi dan SDGS Ungkapnya.




