SURABAYA “ ADM WEB | Setiap tanggal 8 Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional atau International Women™s Day. Hari tersebut dirayakan sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan para perempuan di seluruh dunia. Hari Perempuan Internasional juga menjadi ajang kampanye untuk mewujudkan kesetaraan gender sehingga perempuan diakui serta memiliki hak dan peluang yang sama dalam seluruh aspek kehidupan. Dalam FISIP Statement kali ini, Prof. Myrtati Dyah Artaria, Dra., MA., Ph.D., dosen Antropologi UNAIR, membagikan pandangannya tentang women™s empowerment dan upaya perlindungan terhadap hak-hak perempuan yang tengah ramai digencarkan.
Menurut perempuan yang akrab dipanggil Prof. Myrta ini, women™s empowerment hadir sebagai upaya untuk mendukung perempuan keluar dari konstruksi sosial dan budaya yang dibangun oleh masyarakat yang menempatkan perempuan pada posisi marginal. Padahal, perempuan memiliki peran yang sangat besar dalam pembangunan ekonomi. œGerakan ini tentu dapat membantu mereka yang kurang berdaya ini agar dapat mengatasi kesulitan-kesulitannya. Banyak penelitian yang sampai pada simpulan bahwa economic empowerment pada perempuan sangat berkontribusi pada penurunan angka kemiskinan dan pembangunan yang berkelanjutan, ujarnya.
Ia menyebutkan bahwa untuk menghadapi permasalahan kesenjangan yang masih berlangsung diperlukan upaya perubahan di berbagai aspek secara mendasar. œUntuk mengatasi kesenjangan karena gender ini, perlu ada perubahan-perubahan yang sistemik dan transformatif. Misalnya, meningkatkan akses pada pendidikan, proteksi sosial, dan childcare, tuturnya.
Sebagai salah satu perguruan tinggi yang mendukung perlindungan terhadap hak-hak perempuan, UNAIR mewujudkannya melalui berbagai kebijakan kampus yang ramah bagi perempuan. Prof. Myrta menyebutkan UNAIR menjadi institusi yang menjunjung kesetaraan bagi perempuan. œIni saya alami sendiri selama saya bekerja di sini, saya diperbolehkan bekerja membawa anak saya, sejauh tidak mengganggu di kelas. Saat ini di fakultas tempat saya bekerja, memberikan ASI pada anak juga sudah diberi ruang tersendiri, cuti melahirkan pun diperbolehkan, pemberian honor tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Selain itu, perempuan yang mencalonkan diri sebagai pimpinan tidak ada larangan, demikian juga pimpinan di tingkat fakultas dan universitas pun ada yang perempuan, ujarnya.
Selain itu, melalui Satuan Tugas (satgas) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS), UNAIR berkomitmen untuk memperhatikan permasalahan pelecehan seksual di lingkungan kampus. Prof. Myrta yang juga merupakan Ketua satgas PPKS berharap dengan adanya satgas tersebut dapat memenuhi hak, memberikan bantuan, dan pendampingan pada korban pelecehan seksual.
Di akhir wawancara, dosen Antropologi UNAIR tersebut berpesan agar perempuan di seluruh dunia semakin berdaya sebab keberadaan perempuan akan menentukan dunia di masa depan. œMemang dari sisi kekuatan otot tidak sebanding dengan laki-laki. Namun dari sisi endurance perempuan lebih unggul. Tetaplah bertahan dan tetap kuat dalam menghadapi berbagai perubahan dari masa ke masa karena perempuan dibutuhkan oleh orang-orang di sekitarnya, pungkasnya.
Artikel ini mencerminkan poin 5 dan 10 Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan PBB. (SA).




