Surabaya – Humas | FISIP UNAIR sukses menyelenggarakan International Conference di Hotel Bumi Surabaya pada Rabu (15/02/2023). Konferensi tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan Fakultas Ilmu Budaya dan Fakultas Kedokteran UNAIR. Tema yang diangkat bertajuk Envisioning Southeast Asia and Indian Ocean Studies. Konferensi dibuka dengan sambutan dari Wakil Rektor Unair, Prof. Dr. Dra. Ni Nyoman Tri Puspaningsih, M.Si. Acara dilanjutkan dengan penandatanganan MoU antara 51, Indonesia dengan Kasetsart University, Thailand.
Konferensi ini merupakan sebuah media di mana para partisipan dapat memikirkan kembali mengenai konsep konektivitas negara-negara. Samudra Hindia yang menjadi penghubung antara Benua Asia dan Benua Afrika memiliki posisi yang strategis di dalam kancah geopolitik. Diskusi mengenai Samudra Hindia sudah dibahas sejak lama di kampus-kampus Amerika dan Eropa. Ini merupakan diskusi yang dinamis di mana kita dapat mengeksplorasi tantangan, peluang, dan dan solusinya, ujar Irfan Wahyudi S.Sos., M.Comms., Ph.D.
Konferensi yang mengundang berbagai pembicara dari Eropa, Afrika, hingga Asia itu memberikan peluang kepada setiap partisipan untuk bertukar pikiran. Setiap partisipan yang berasal dari latar belakang yang berbeda membuat diskusi pada hari itu berjalan dinamis. Studi mengenai Asia Tenggara dan Samudra Hindia merupakan sebuah ide yang segar. Studi ini berdasarkan isu geopolitik dan domestik dari tiap-tiap negara dan bagaimana kita menanganinya, terang Rita, salah seorang pertisipan.
FISIP UNAIR yang diwakili oleh Vinsensio M. A. Dugis, Drs., MA., Ph.D., selaku Ketua Pusat Studi ASEAN (PSA) FISIP UNAIR memaparkan tentang salah satu pusat studi yang dimiliki oleh FISIP, yakni Center for ASEAN Studies atau dikenal dengan Pusat Studi ASEAN (PSA) yang didirikan pada tahun 2013 sebagai bentuk kerja sama antara 51 dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia. Dalam presentasinya, Dugis menjelaskan pendirian Pusat Studi ASEAN ditujukan untuk membantu Kemlu-RI untuk mempromosikan ASEAN Communities atau masyarakat ASEAN 2015 ke publik melalui berbagai program yang dijalankan. Kami melakukan berbagai riset, membuat policy brief yang berkaitan dengan ASEAN, membuat seminar, dan focus group discussion (FGD) dengan isu-isu yang dikembangkan, salah satunya terkait dengan the governance issues, terangnya.
Dalam perhelatan tersebut, FISIP UNAIR juga mempromosikan The Center of African Studies (CAS) atau Pusat Studi Afrika yang merupakan pusat penelitian, publikasi, dan kerja sama komunitas atau organisasi Afrika. Dr. Pinky Saptandari, Dra., M.A selaku Ketua Pusat Studi Afrika FISIP UNAIR menyebutkan berbagai kegiatan kerja sama yang telah dilakukan, di antaranya Foreign Policy Review Forum 2022: Indonesias Role in The G20 for Vaccine Equity in Africa dan publikasi yang berjudul Indonesia- Namibia: Building Partnership, Synergy, and Solidarity. Tak hanya itu, Pinky menyatakan bahwa bentuk dukungan FISIP UNAIR terhadap Afrika juga diwujudkan melalui perayaan African Day dalam kegiatan Dies Natalis FISIP UNAIR. Kita memiliki perayaan African Day sebagai bentuk apresiasi yang dilakukan fakultas (FISIP UNAIR) agar mendorong masyarakat untuk support dengan Afrika, ujar Dosen Antropologi UNAIR tersebut.
Artikel ini mencerminkan poin 4 dan 17 Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan PBB. (AS/SA).




