51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Hari Kebangkitan Nasional sebagai Momentum Perjuangan Mahasiswa

SURABAYA “ ADM WEB | Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pada hari tersebut berdiri organisasi Budi Utomo yang menjadi tonggak perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan penindasan para penjajah secara diplomatis. Sebagai organisasi yang didirikan oleh kelompok muda, Budi Utomo menjadi simbol bangkitnya semangat nasionalisme bangsa Indonesia untuk mewujudkan kemerdekaan. 

Mahasiswa sebagai kelompok intelektual sekaligus penggerak memiliki peranan penting untuk menciptakan perubahan bangsa ke arah yang progresif. Dalam FISIP Statement kali ini,Tuffahati Ullayyah selakuMenteri Politik dan Kajian Strategis (Polstrat) BEM UNAIR memaknai kebangkitan nasional sebagai momentum bagi para pemuda untuk bergerak memperjuangkan kepentingan bangsa. œBerawal dari Boedi Utomo, perlahan-lahan banyak lahir pergerakan anak-anak muda yang membangkitkan semangat nasionalisme yang anti perpecahan. Tercermin bahwa anak-anak muda memiliki gagasan yang besar dengan diiringi dengan semangat yang besar pula, mampu mengubah nasib suatu bangsa, ujarnya.

Menurutnya, mahasiswa memiliki potensi dan peluang yang besar untuk melahirkan pemikiran dan gerakan baru yang dapat mendorong kemajuan bangsa Indonesia. œKita memiliki sumber daya manusia yang mumpuni untuk bersinergi. Maka akan sangat merugi, apabila kita hanya diam termenung, dan justru tenggelam dalam kemudahan-kemudahan yang tersedia, dan tidak menciptakan dampak yang besar bagi masyarakat, ungkap Menteri Polstrat BEM FISIP.

Harapan besar pada kelompok mahasiswa tentu dihadapakan pada berbagai tantangan, salah satunya apatisme mahasiswa terhadap isu sosial dan politik. Mahasiswi yang akrab disapa Tuffa tersebut menyebutkan, stereotype buruk terhadap politik menjadi salah satu faktor yang membuat kesadaran mahasiswa terhadap isu dan dinamika politik di lingkungan sekitar semakin rendah. œBuruknya sistem pemerintahan akibat dari kotornya strategi politik, menjamurnya nepotisme dari lapisan masyarakat paling atas hingga bawah. Ini membuat beberapa rekan sesama mahasiswa saya merasa muak dan akhirnya memilih untuk tidak ikut campur dalam hal-hal yang berbau politik (pemerintahan), ujarnya. 

Tuffa menyebutkan, mahasiswa harus bijaksana dalam melihat suatu fenomena maupun isu sosial dan politik dari berbagai perspektif. Maka diperlukan upaya untuk mendorong kesadaran mahasiswa melalui berbagai ruang diskusi dari mahasiswa maupun ormawa. œMenurut saya, kuncinya adalah pencerdasan dan pemahaman yang dapat dilakukan dalam berbagai upaya, baik secara terorganisir maupun tidak, tuturnya.

Di akhir wawancara Tuffa berpesan agar sinergisasi antara ormawa dan mahasiswa dapat terus diperkuat sehingga mahasiswa FISIP memiliki ruang untuk menghasilkan berbagai gagasan dan gerakan baru yang dapat berdampak luas bagi masyarakat dan kemajuan bangsa Indonesia. 

Artikel ini mencerminkan poin ke- 4 dan 17 Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan PBB. (SA).

AKSES CEPAT