UNAIR hadir dalam Konferensi Internasional PCINU Belanda ke-4 bersama akademisi dunia, membahas krisis ekologi, teknologi, dan perdamaian global dengan perspektif faith, climate justice, dan global peace.
UNAIR Berkontribusi dalam Dialog Internasional tentang Faith, Climate Justice, and Global Peace
Belanda “ Isu krisis ekologi global, ancaman teknologi tak terkendali, hingga tantangan perdamaian dunia menjadi sorotan utama dalam Konferensi Internasional Biennial PCINU Belanda ke-4 yang digelar bersama Rijksuniversiteit Groningen dan Wubbo Ockels School for Energy & Climate, 1“3 dan 12 Oktober 2025.
Forum internasional bertema œHarmony in Turbulence: The Intersection of Faith, Climate Justice, and Global Peace ini mempertemukan sarjana, akademisi, dan pemimpin agama dunia untuk mencari solusi holistik atas turbulensi multidimensi peradaban modern.
Kritik atas Pandangan Eksploitatif terhadap Alam
Dalam sambutannya, Nur Ahmad, Ketua PCINU Belanda, menegaskan bahwa krisis ekologi dan sosial tidak bisa dilihat sekadar sebagai masalah teknis. Menurutnya, akar krisis terletak pada hilangnya akal (al-˜aql) yang membuat alam direduksi hanya sebagai objek eksploitasi.
œKrisis ini adalah konsekuensi logis dari paradigma yang mereduksi eksistensi pada utilitas dan konsumsi, ujar Nur Ahmad.
Konferensi hadir sebagai ruang dialog yang menyatukan sains, etika, dan tradisi keimanan demi masa depan berkelanjutan.
Ancaman Eksistensial Sains Sekuler
Shaykh Abdal Hakim Murad, Profesor dari Cambridge Muslim College, dalam pidato kuncinya menyoroti ancaman eksistensial dari perkembangan teknologi modern yang tidak terkendali.
Ia menyebut risiko serius mulai dari senjata nuklir, nanoteknologi, rekayasa patogen, kecerdasan buatan (AI) yang tidak sejalan dengan kepentingan manusia, hingga keruntuhan iklim.
Shaykh Murad menyerukan perlunya model baru human flourishing yang menekankan pembatasan konsumsi serta pengawasan ketat terhadap aplikasi teknologi berisiko tinggi.
Alissa Wahid Soroti Tiga Perpecahan Dunia
Dari Indonesia, Alissa Wahid, putri Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), menyampaikan pidato kunci berjudul œFaith, Mother Earth, and Peace.
Ia menyoroti tantangan kemanusiaan yang berasal dari Three Divides: perpecahan ekologi, perpecahan sosial, dan perpecahan spiritual.
œMenurut Gus Dur, peran terpenting agama adalah mencerahkan setiap pengikutnya agar menjadi bagian dari kemanusiaan. Hari ini, peran itu dipanggil lebih keras dari sebelumnya, tegas Alissa Wahid.
Peran UNAIR dalam Dialog Keadilan Iklim
Sekolah Pascasarjana 51¶¯Âþ (SPS UNAIR) turut hadir membawa perspektif akademik Indonesia. Salah satu mahasiswa UNAIR menjadi pembicara, sementara Prof. Dr. Suparto Wijoyo, S.H., M.Hum., Wakil Direktur 3 SPS UNAIR, berkesempatan berdiskusi langsung dengan Shaykh Abdal Hakim Murad.
Partisipasi UNAIR menegaskan komitmen universitas dalam kontribusi akademik global, memperkaya dialog internasional dengan kearifan lokal dan keimanan, sekaligus menggaungkan peran Indonesia dalam isu climate justice dan global peace.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




