51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

AIRFOR Geopolitik Teknologi Indonesia Emas 2045

AIRFOR Geopolitik Teknologi Indonesia Emas 2045

Berita UNAIR Pascasarjana, Jumat,31 Januari 2025 “ Pada tanggal 31 Januari 2025, Sekolah Pascasarjana 51¶¯Âþ menggelar diskusi Airlangga Forum bertajuk “Geopolitik Teknologi Indonesia Emas 2045”, menghadirkan Prof. Badri Munir Sukoco, SE., MBA., Ph.D., selaku narasumber. Acara ini bertujuan membahas bagaimana teknologi berperan dalam membentuk peta geopolitik dunia serta bagaimana Indonesia dapat memanfaatkannya demi mencapai visi Indonesia Emas 2045.

Dalam pemaparannya, Prof. Badri menyoroti pentingnya ketahanan energi sebagai bagian dari strategi menuju Indonesia maju pada 2045. Ia mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJMN) 2025-2045 yang menargetkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencapai 33.000 USD per kapita, dengan pertumbuhan sekitar 8,87% per tahun. Untuk mencapai hal tersebut, sektor-sektor ekonomi harus tumbuh di atas 10%, terutama di bidang energi, mengingat Indonesia masih sangat bergantung pada impor energi.

Prof. Badri menekankan bahwa diskusi mengenai geopolitik masih kurang, karena selama ini lebih banyak ditekankan di level nasional, padahal wawasan tentang geopolitik ini sangat krusial untuk bisa bersaing secara global. Ia juga mengkritisi “Selama ini, kita hanya fokus pada geopolitik yang bersifat tangible, seperti batas wilayah dan sumber daya alam. Padahal, aspek intangible seperti teknologi dan budaya juga memiliki pengaruh besar terhadap posisi Indonesia di dunia.”

Fenomena techno-nationalism yang saat ini dirasakan di berbagai negara, yaitu negara kini lebih berfokus pada kepentingan nasional mereka sendiri dibandingkan mendorong globalisasi. Hal ini, menurutnya, menjadi ancaman tersendiri bagi Indonesia seperti yang masih bergantung pada teknologi impor.

Sebagai contoh nyata dari geopolitic of technology, Prof. Badri mengulas kembali pengalaman Indonesia di era Presiden Habibie, ketika proyek pengembangan pesawat nasional harus ditunda akibat tekanan dari IMF. Negara-negara maju, menurutnya, sering kali tidak menginginkan negara berkembang memiliki industri teknologi mandiri karena sektor ini memiliki dampak ekonomi berlipat ganda (multiplier effect) yang sangat besar.

Mengutip buku The Art of Economic Catch-Up karya Keun Lee, Prof. Badri Prof. Badri menegaskan “Jika kita ingin menjadi negara maju, pendidikan harus maju. Selain itu, kita harus memiliki kapabilitas dalam berinovasi.

Oleh karena itu, ia mendorong peningkatan public awareness mengenai pentingnya geopolitic of technology. Kesadaran ini, menurutnya, dapat dibangun melalui dunia akademik, sebagaimana yang telah diterapkan di Iran, di mana pendidikan tentang geopolitik teknologi sudah diperkenalkan sejak jenjang sekolah menengah pertama (SMP). Ia menilai pendekatan ini bisa menjadi acuan bagi Indonesia agar generasi muda memiliki gairah berpikir ke depan.

Melalui diskusi ini, diharapkan para akademisi, mahasiswa, dan masyarakat luas semakin memahami urgensi geopolitic of technology dalam membangun masa depan Indonesia. Kesadaran akan pentingnya teknologi sebagai alat kedaulatan nasional perlu ditanamkan sejak dini agar Indonesia tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga pemain utama dalam revolusi teknologi global.

Selain itu, forum ini juga diharapkan dapat mendorong lebih banyak kajian dan kebijakan yang mendukung pengembangan teknologi dalam negeri, baik melalui pendidikan, riset, maupun kebijakan industri yang lebih berpihak pada inovasi lokal. Dengan pemahaman dan langkah strategis yang tepat, Indonesia dapat lebih siap menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang menuju Indonesia Emas 2045.

Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =

AKSES CEPAT