Surabaya “ Ancaman gempa bumi besar dan tsunami kembali menjadi perhatian publik setelah kejadian di Rusia beberapa waktu lalu yang sempat diprediksi berdampak ke wilayah Indonesia. Menanggapi hal ini, Sekolah Pascasarjana 51¶¯Âþ (UNAIR) menggelar diskusi bertajuk Airlangga Forum dengan tema “Blue Print Antigempa: Membangun Resiliensi Indonesia Hadapi Bencana Besar”, pada Jumat, 1 Agustus 2025.
Acara ini disiarkan secara luas melalui jaringan radio anggota LPPL Jawa Timur, dan dipandu oleh Ilham Dianta dari Radio Persada Blitar. Forum menghadirkan sejumlah pakar kebencanaan nasional, yaitu:
-
Dr. Ir. Udrekh, SE., M.Sc. (Direktur Pemetaan dan Evaluasi Bencana BNPB),
-
Agus Hebi Djuniantoro, ST., MT. (Kepala BPBD Surabaya 2023“2025),
-
Dr. Hijrah Saputra, ST., M.Sc. (Ketua Unit Layanan Penelitian & Pengabdian Masyarakat Sekolah Pascasarjana UNAIR),
-
Dr. Arief Hargono, drg., M.Kes. (Koordinator Program Studi Magister Manajemen Bencana UNAIR).
Megathrust: Ancaman Nyata, Tapi Jangan Panik
Dr. Ir. Udrekh memaparkan bahwa Indonesia berada di kawasan seismik paling aktif di dunia karena terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik: Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Potensi gempa besar seperti megathrust bukanlah hal baru, dan harus direspons dengan kesiapan, bukan kepanikan.
œPenyampaian informasi harus tepat. Bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk membangun kesadaran mitigasi, ujar Udrekh.
Edukasi dan Kesiapsiagaan Jadi Kunci
Agus Hebi menegaskan pentingnya edukasi kebencanaan dan literasi publik, terutama untuk menghindari hoaks dan kepanikan massal. Ia juga mendorong masyarakat agar membiasakan diri dengan simulasi dan protokol bencana secara berkala.
Sementara itu, Dr. Hijrah Saputra menyoroti kesiapsiagaan spiritual selain kesiapan fisik. Menurutnya, ketenangan mental adalah elemen penting yang sering terlupakan dalam skema tanggap bencana.
UNAIR Tawarkan Program Magister Manajemen Bencana
Sebagai bentuk kontribusi akademik, UNAIR melalui Sekolah Pascasarjana menawarkan Program Studi Magister Manajemen Bencana (MMB). Program ini bersifat multidisiplin dan bertujuan untuk mencetak lulusan yang mampu:
-
Merancang kebijakan kebencanaan,
-
Mengelola manajemen risiko,
-
Berkolaborasi lintas sektor dalam mitigasi dan penanggulangan bencana.
œKami ingin menghasilkan tenaga ahli yang bukan hanya kompeten secara akademik, tapi juga memiliki kepekaan sosial dan kesiapan dalam kondisi krisis, ujar Dr. Arief Hargono.
Kesimpulan: Perlu Blue Print Antigempa Indonesia
Airlangga Forum menyimpulkan bahwa Indonesia butuh peta jalan (blue print) mitigasi bencana yang terintegrasi antara pemerintah, akademisi, media, dan masyarakat sipil. Tidak hanya dalam hal pembangunan infrastruktur tahan gempa, tetapi juga pembangunan budaya resiliensi sejak dini.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




