Kesenjangan antara temuan riset di lingkungan akademik dan kebutuhan nyata dunia industri masih menjadi tantangan utama dalam transformasi ekonomi nasional. Di tengah agenda besar kemandirian bangsa, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan pelaku usaha menjadi prasyarat penting untuk mengubah inovasi menjadi aset investasi bernilai ekonomi.
Isu strategis tersebut mengemuka dalam program Airlangga Forum bertajuk 淢endorong Inovasi Menjadi Investasi yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekolah Pascasarjana 51动漫 (SPS UNAIR) pada Jumat (19/12/2025). Forum ini menghadirkan perspektif akademisi, regulator riset daerah, dan pelaku industri dalam satu ruang diskusi yang konstruktif.
Kerangka Hukum sebagai Jembatan Inovasi
Wakil Direktur III SPS UNAIR, Prof. Dr. Suparto Wijoyo, S.H., M.Hum., menegaskan bahwa inovasi tidak boleh berhenti pada publikasi ilmiah atau paten semata. Menurutnya, keberhasilan hilirisasi sangat ditentukan oleh kepastian hukum dan kemudahan akses menuju pasar.
淚novasi adalah ruh kemajuan bangsa. Namun tanpa perlindungan hukum dan regulasi yang adaptif, ide-ide besar berpotensi stagnan sebelum berkembang, ujarnya.
Prof. Suparto menekankan bahwa regulasi seharusnya hadir sebagai jembatan antara peneliti dan investor, bukan menjadi hambatan birokrasi. Dalam konteks tersebut, SPS UNAIR memposisikan diri sebagai ruang inkubasi pemikiran strategis yang mendorong riset agar lebih aplikatif dan relevan dengan kebutuhan investasi di Jawa Timur.
Peran Strategis Riset Daerah
Dari perspektif pemerintah daerah, Dr. Andriyanto, S.H., M.Kes., Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Jawa Timur, menyoroti pentingnya riset yang presisi dan berbasis kebutuhan pasar. Menurutnya, investor membutuhkan kepastian bahwa inovasi yang ditawarkan memiliki dampak efisiensi dan skala ekonomi yang terukur.
淭ugas BRIDA adalah memetakan potensi inovasi di daerah serta memastikan kualitas riset agar siap bersaing di tingkat nasional dan global, jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah harus berperan sebagai fasilitator yang memberikan panggung sekaligus perlindungan bagi inovasi lokal. Hilirisasi riset, lanjutnya, menjadi kunci agar manfaat penelitian dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Perspektif Dunia Usaha dan Pasar
Sementara itu, Fitradjaja Purnama, Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Antar Lembaga, Kebijakan Publik, dan Otonomi KADIN Provinsi Jawa Timur, menyampaikan pandangan dari sudut dunia industri. Ia menekankan bahwa inovasi harus memiliki nilai komersial dan mampu menjawab persoalan nyata di lapangan.
淚nvestor mencari kepastian dan keberlanjutan. Karena itu, riset dari kampus perlu selaras dengan kebutuhan industri agar tidak berhenti sebagai konsep, ujarnya.
Fitradjaja juga menegaskan kesiapan dunia usaha untuk berinvestasi pada inovasi anak bangsa, selama didukung jaminan mutu dan proses birokrasi yang efisien. Menurutnya, sinergi antara akademisi, pemerintah, dan industri harus diwujudkan dalam aksi konkret, bukan sekadar kesepakatan formal.
Menuju Ekosistem Inovasi Berbasis Pengetahuan
Diskusi Airlangga Forum menyimpulkan bahwa transformasi inovasi menjadi investasi membutuhkan keberanian untuk menanggalkan ego sektoral. Dengan Jawa Timur sebagai motor penggerak ekonomi nasional, kolaborasi antara pemikiran kritis akademisi SPS UNAIR, fasilitasi riset dari BRIDA Jatim, dan jejaring pasar KADIN diharapkan mampu melahirkan ekosistem ekonomi baru yang berbasis pengetahuan dan berdaya saing tinggi.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




