51

51 Official Website

Airlangga Forum: Krisis Literasi Anak di Era Digital, Seruan Kolektif dari UNAIR

Surabaya, Juli 2025 Bulan Juli menjadi momen reflektif dengan hadirnya dua peringatan penting: Hari Pustakawan dan Hari Anak Nasional. Momentum ini membuka ruang diskusi serius mengenai krisis literasi anak-anak Indonesia, sebuah isu mendesak di tengah gempuran era digital.

51 (UNAIR) melalui Airlangga Forum mengangkat tema ini sebagai bagian dari komitmen nyata mewujudkan Kampus Berdampakkampus yang tidak hanya mendidik, tapi juga hadir menjawab tantangan masyarakat.


Krisis Literasi: Tantangan Serius di Masa Golden Age

Indonesia hingga kini masih menghadapi persoalan serius dalam hal minat baca, terutama di kalangan anak-anak. Dalam forum tersebut, Diah Litasari, S.Pd., M.Pd., atau akrab disapa Bunda Lita, mengemukakan bahwa saat ini Indonesia tengah mengalami krisis pembacakhususnya pada anak-anak dan generasi muda.

Usia 06 tahun adalah masa golden age. Ironisnya, pada masa inilah anak-anak belum dikenalkan secara intens pada literasi dasar. Padahal, pada usia tiga tahun, anak bisa menyerap hingga 12.000 kosakata, ungkap Bunda Lita.

Ia juga menyoroti sistem pendidikan yang baru menekankan kemampuan membaca saat anak memasuki Sekolah Dasar, sedangkan tuntutan pembelajaran di SD sudah mengharuskan anak mampu membaca teks kompleks.


Upaya Nyata dari Orang Tua dan Komunitas

Respons terhadap tantangan ini mulai bermunculan dari berbagai kalangan. Neneng Sri Mulyaniar Rachman, S.Psi., seorang penggiat parenting, membagikan pendekatan alternatif yang telah ia terapkan dalam keluarga. Sejak usia tiga tahun, ia mengenalkan anaknya pada metode , yang menitikberatkan pada pengenalan kata bermakna, bukan sekadar huruf.

Kata seperti ‘mama’, ‘papa’, dan ‘ini’ adalah bagian dari dunia anak. Pendekatan ini membuat proses belajar membaca terasa akrab dan menyenangkan, jelas Neneng.


Musik dan Literasi: Kolaborasi Inovatif

Dari dunia seni, Ferry Curtis, seorang musisi dan pegiat literasi, telah sejak 2001 menyuarakan pentingnya budaya membaca melalui lagu anak-anak. Salah satunya adalah lagu Ayo ke Pustaka, yang ia ciptakan sebagai media edukasi yang menyenangkan.

Bangsa pembaca adalah bangsa yang maju. Literasi tidak boleh menjadi beban, melainkan kebiasaan yang dicintai sejak dini, ujarnya.


Literasi dan Lingkungan: Satu Gerakan Terpadu

Semangat literasi yang berdampak luas juga diusung oleh Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, melalui program Adipura Desa yang mengintegrasikan isu literasi dan lingkungan. Inisiatif ini melahirkan gerakan Literasi untuk Bumi yang Lebih Baiksebuah sinergi antara budaya membaca dan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.


Membangun Ekosistem Literasi Sejak Rumah

Airlangga Forum menegaskan kembali bahwa peran orang tua adalah kunci utama. Anak-anak adalah peniru ulung; ketika orang tua memperlihatkan kebiasaan membaca, anak pun akan tumbuh dalam lingkungan yang kaya akan literasi.

Forum ini menjadi seruan bersama untuk membangun budaya baca sejak usia dini, melibatkan semua pihak: orang tua, pendidik, akademisi, hingga pemangku kebijakan. Hanya dengan sinergi itulah Indonesia dapat keluar dari krisis literasi dan mencetak generasi pembelajar yang kritis, kreatif, dan berdaya saing global.

Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =

AKSES CEPAT