Berita UNAIR Pascasarjana, Sabtu, 12 Oktober 2024 “ Sekolah Pascasarjana 51¶¯Âþ pada acara Airlangga Forum kali ini menggelar diskusi bertajuk “Sambut Transisi Kepemimpinan Nasional di Bawah Bayang-Bayang Deflasi”, Jumat, 11 Oktober 2024. Diskusi ini menghadirkan para pakar dari berbagai bidang, termasuk Dr. Ir. Zulkipli, M.Si., Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur, Yudi Ariyanto, ST, M.SE., dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur, serta Dr. Ni Made Sukartini, SE., M.Si., MIDEC, Koordinator Program Studi Magister Ekonomi Kesehatan 51¶¯Âþ. Dalam forum yang berlangsung secara daring ini, para narasumber membahas dampak transisi kepemimpinan nasional terhadap kondisi ekonomi, khususnya terkait ancaman deflasi, serta solusi untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah perubahan politik. Ilham Dianta dari Radio Persada Blitar bertindak sebagai moderator dalam acara ini.
Dr. Ir. Zulkipli, M.Si., memulai pemaparannya dengan menjelaskan bahwa deflasi adalah kondisi di mana daya beli masyarakat menurun secara signifikan, sementara harga barang terus mengalami penurunan. Tahun 2024 menjadi tahun yang anomali karena deflasi terjadi sebanyak lima kali dalam setahun. Saat memaparkan data grafik dari tahun 2020 hingga 2024, Dr. Zulkipli menunjukkan bahwa anomali mulai terlihat pada tahun 2022 dan 2023.
“Lonjakan yang terjadi pada tahun 2022 dan 2023 umumnya dipengaruhi oleh tiga kelompok utama, yaitu makanan, minuman, dan tembakau. Selain itu, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) juga turut berperan,” jelasnya. Beliau menambahkan bahwa, secara global, situasi di luar Indonesia tidak terlalu menguntungkan, misalnya harga emas yang mengalami kenaikan signifikan. Secara umum, inflasi global pada periode tersebut mencapai 6,5%.
Pada tahun 2023, kondisi ekonomi yang penuh tantangan terus berlanjut, terutama di Jawa Timur. Beberapa komoditas, seperti emas dan cabai, mengalami kenaikan harga yang signifikan. Memasuki tahun 2024, pada bulan Januari, terjadi deflasi sebesar 0,10%.
Dalam penutupan diskusi, Yudi Ariyanto menjelaskan bahwa, œSebagian besar impor cabai kita berasal dari negara-negara seperti India, Vietnam, China, Myanmar, dan Pakistan. Sementara itu, untuk ekspor beras, lebih banyak ditujukan ke negara tetangga seperti Jepang dan Taiwan, khususnya untuk jenis beras tertentu yang dikonsumsi di sana.” Yudi menjelaskan bahwa impor dari negara-negara seperti China dan India cenderung lebih murah karena tidak adanya tekanan nilai tukar yang signifikan, sehingga harga komoditas lebih stabil.
Dr. Ni Made kemudian menambahkan bahwa seiring waktu, ada kemungkinan penurunan kualitas makanan akibat impor. “Ini menjadi perhatian penting, tidak hanya dalam konteks aktivitas ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan kualitas kesehatan dan ekonomi kita,” ucapnya
Dr. Ni Made, menjelaskan bahwa secara akumulatif dalam lima bulan terakhir tahun 2024, penurunan harga yang terjadi disebabkan oleh over capacity di sisi produksi, di mana pasokan melebihi permintaan. Dalam kondisi ini, tidak diperlukan banyak intervensi, karena situasi ini menguntungkan bagi konsumen. Namun, Dr. Made juga menyoroti bahwa jika dilihat dari inflasi yang terjadi sebelumnya, banyak fluktuasi yang memengaruhi harga, dengan beberapa komoditas yang masih stabil dan sebagian lainnya cenderung mengalami penurunan.
“Jika komoditas yang terpengaruh adalah kebutuhan pokok, maka penurunan harga ini merupakan dampak lanjutan dari penurunan harga BBM. Dalam konsep distribusi barang, sektor transportasi memegang peran penting. Pada tahun 2023, inflasi di sektor transportasi cenderung konsisten, sehingga pemerintah berupaya keras untuk menurunkan harga BBM guna menstabilkan angka inflasi,” jelasnya.
Menurut Dr. Ni Made dalam beberapa bulan terakhir terlihat adanya tren penurunan harga. Berdasarkan data BPJS, beberapa komoditas yang banyak diimpor, seperti sayur-sayuran, sebenarnya bisa diproduksi dalam negeri. Namun, produksi dalam negeri belum merata dalam hal kuantitas dan distribusi. Lalu muncul pertanyaan, “Apakah tren penurunan harga belakangan ini terjadi karena produksi dalam negeri yang membaik, meskipun impor masih berjalan? Bagaimana tren deflasi ini bisa menjadi keseimbangan baru tanpa menimbulkan kekhawatiran bagi pelaku ekonomi?”
Menanggapi hal ini, Dr. Zulkipli, menjelaskan bahwa deflasi yang terjadi lima kali sepanjang tahun 2024 dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti penurunan biaya transportasi (tiket pesawat), harga BBM, serta penurunan harga komoditas bahan makanan akibat anomali.
Yudi Ariyanto dalam pemaparannya, menjelaskan beberapa komoditas yang turut mempengaruhi inflasi di Jawa Timur. Ia memberikan gambaran bahwa dalam setahun terakhir, telah terjadi perubahan dalam pengelolaan harga dan ketersediaan komoditas secara nasional. Awalnya, pengelolaan ini menjadi bagian dari tugas dan fungsi Kementerian Perdagangan, namun kini sebagian tanggung jawab telah dialihkan ke pemerintah provinsi atau kabupaten/kota. Saat ini, pemerintah berupaya menguatkan peran Badan Pangan Nasional.
Komoditas seperti beras, telur, daging ayam, dan gula mengalami perubahan pengelolaan yang paling signifikan. Penetapan harga eceran tertinggi (HET) dan harga acuan konsumen kini ditetapkan oleh Badan Pangan Nasional, sementara komoditas minyak goreng masih berada di bawah kendali Kementerian Perdagangan.
“Pada beberapa kesempatan sebelumnya, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur telah melakukan berbagai upaya untuk menjaga harga di tingkat konsumen. Jika harga terlalu tinggi, usaha stabilisasi harga dilakukan,” ungkap Yudi. Ia juga menjelaskan bahwa harga komoditas saat ini mengikuti HET terbaru, kecuali untuk cabai rawit dan cabai merah besar yang sangat bergantung pada kondisi lapangan dan panen petani. Di sisi lain, harga daging relatif lebih stabil.
“Walaupun deflasi terjadi dalam beberapa bulan terakhir, penyesuaian harga di tingkat konsumen untuk beberapa komoditas tetap berlangsung di lapangan,” tambahnya, menyoroti dinamika yang terjadi di pasar.
Dr. Ir. Zulkipli, M.Si., menjelaskan bahwa deflasi ini sebagian besar dipicu oleh penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) dari Pertamina serta koreksi harga komoditas yang sebelumnya melonjak tajam pada tahun 2022 dan 2023. Penurunan harga ini memberikan dampak signifikan dalam menekan laju inflasi, namun juga mencerminkan penurunan daya beli di beberapa sektor.
Menurut Dr Zupliki œdeflasi tidak selalu baik, dan inflasi juga tidak selalu buruk dalam perekonomian kita. Kondisi saat deflasi yang saat ini lebih banyak terjadi karena komoditas yang harganya tadinya terlalu tinggi karena anomali, ditambah juga supply kita yang lebih baik di tahun 2024 dia mengamai penurunan saat ini. œPertanyaannya mengapa harga tetap tinggi walaupun inflasi melandai? Jawabannya adalah karena secara umum deflasi yang terjadi saat ini, kalau misalnya didorong oleh harga komoditas yang tadinya mengalami anomali di tahun berkitnya tentu nantinya memperi dampak positif bagi konsumen yang tadinya harga itu mahal. Secara umum deflasi mengaggu perekonomian kalau komoditas yang penting, nanti banyak usaha yang menurunkan produksi dan ini diikuti dengan penurunan tenaga kerja
Menurut Dr. Ir. Zulkipli, M.Si., “Deflasi tidak selalu baik, dan inflasi juga tidak selalu buruk dalam perekonomian kita.” Dijelaskan bahwa deflasi yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh komoditas yang harganya sebelumnya terlalu tinggi akibat anomali, ditambah dengan pasokan yang lebih baik pada tahun 2024. Kondisi ini menyebabkan penurunan harga di beberapa sektor.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




