Airlngga Forum: Membersamai Indonesia Membaca
Indonesia menduduki peringkat pertama gemar membaca whatsapp, instagram alias sosial media. Lalu bagaimana dengan kegemaran soal membaca yang sesungguhnya? UNESCO menyebutkan Indonesia berada di urutan kedua dari bawah dalam kategori literasi dunia. Minat baca yang sangat rendah ini sungguh memprihatinkan, jumlahnya hanya 0,001%.
Mengakui setuju akan fakta tersebut, Founder KUBACA, Diah Litasari, S.Pd., M.Pd menyatakan saat ini Indonesia memang sedang mengalami krisis membaca. Terbukti dalam Gerakan Anak Indonesia Membaca yang dimulainya sejak tahun 2005 ternyata, hasilnya tidak signifikan. Belum lagi ditambah dengan era saat ini di mana gadget sudah banyak diminati oleh anak usia dini.
Penundaan membaca karena beranggapan akan memberatkan anak usia dini dan masanya tidak menjadi 渇un pun menjadi sorotannya. 淒i pemerintah kita, anak usia dini (0-7 tahun) dilarang belajar baca, tulis, hitung, padahal ada masa periode golden age (2-5 tahun) yakni di usia 3 tahun anak sebenarnya sudah menyimpan 12.000 kosa kata, hal ini yang perlu diketahui guru, pengasuh anak usia dini, praktisi, pemerhati, dan pemerintah. Bahwa perkembangan memori anak mendapatkan stimulus sangat pesat sekali di usia tersebut, namun sayang hal tersebut yang tidak dikerjakan secara serius karena beranggapan bahwa membaca itu nanti setelah berada di sekolah sebenarnya yakni sekolah dasar.
Keresahan tersebut tidak berhenti hanya pada Bunda Lita sebagai seorang pendidik. Penggiat Parenting, Neneng Sri Mulyaniar Rachman, S.Psi, juga turut menyatakan ketidaksetujuan akan kepercayaan yang dinilai banyak merugikan ini. 淒ari keresahan saya, saya berfikir bagaimana formula saya untuk mencegah anak berkenalan dengan gadget terlebih dulu. Paling tidak kita memperkenalkan buku, banyak buku yang dijual dengan warna dan bergambar, ungkapnya.
Gadget tak dapat dipungkiri akan dipakai oleh anak dan dapat membantu proses belajarnya, namun kecenderungan anak pada gadget bisa menjadi sesuatu yang fatal. Tak jarang, Neneng mendapati lambannya perkembangan aspek kognitif anak dan kurangnya bounding antara orang tua dan anak karena gadget menjadi satu-satunya solusi untuk 渕endiamkan atau menenangkan anak.
Praktisi Komunikasi asal Bandung, Hj Neneng Athiatul F.S.Ag.M.Ikom CT sependapat dengan dua narasumber sebelumnya. 淪aya percaya bahwa mendidik anak usia dini berarti sedini mungkin mempersiapkan masa depan bangsa, tegasnya.
Dirinya memiliki perspektif akan detail dari solusi, selain bahan bacaan dan praktik-praktik yang bisa dilakukan seperti metode sekalipun, satu hal yang pasti kita (sebagai orang tua) harus menyediakan bahan bacaan yang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak. Selain itu penting untuk adanya dukungan dari pendidik serta orang tua dalam hal membaca bersama agar timbul suasana yang antusias.
Kondisi membaca yang cukup mengkhawatirkan ini juga sudah lama menjadi kegundahan bagi Musisi Pejuang Literasi, Ferry Curtis. 淢enyampaikan lagu adalah bagaimana kita melontarkan sebuah gagasan, dan gagasan itu harus menjadi sebuah pergerakan, ungkapnya.
Berjuang dari jalur musik, sejak tahun 2001 ada lima lagu bertema literasi yang ia ciptakan yaitu Ke Pustaka, Mari Membaca, Jangan berhenti Membaca, Buku Sahabatku, dan Cinta untuk Semua Guru. Harapannya, lagu-lagu anak di Indonesia semakin banyak diberi perhatian, pula dengan pemasarannya yang semakin digiatkan.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




