Memasuki awal tahun 2026, perbincangan mengenai arah pembangunan bangsa tidak lagi cukup bertumpu pada indikator ekonomi semata. Tantangan global yang kian kompleks menuntut Indonesia untuk memperkuat dimensi spiritual, etika sosial, dan keberlanjutan lingkungan sebagai fondasi peradaban masa depan.
Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana 51动漫 (UNAIR), Prof. Dr. H. Suparto Wijoyo, SH., M.Hum, dalam program Ranah Publik di Suara Muslim Radio Network, Senin (5/1/2026). Ia menekankan pentingnya menjadikan pergantian tahun sebagai momentum audit spiritual dan ekologis secara kolektif.
Resolusi Harus Berwujud Aksi Nyata
Prof. Suparto menyoroti kecenderungan resolusi tahun baru yang sering kali berhenti pada tataran simbolik. Menurutnya, tahun 2026 harus menjadi titik balik perubahan perilaku, baik dalam relasi manusia dengan Tuhan maupun dengan alam.
淩esolusi jangan hanya berhenti pada catatan di atas kertas. Kita membutuhkan komitmen nyata untuk memperbaiki kualitas kemanusiaan. Sudah saatnya melakukan hijrah dari perilaku eksploitatif terhadap alam menuju perilaku yang memuliakan ekosistem, tegasnya.
Ia menilai krisis lingkungan dan sosial yang berulang merupakan refleksi dari krisis etika yang belum tertangani secara serius.
Hukum yang Mengedepankan Keberadaban
Dalam konteks ruang publik yang semakin kompleks, terutama di ranah digital, Prof. Suparto menekankan urgensi literasi hukum yang berorientasi pada keadaban sosial. Menurutnya, efektivitas hukum tidak semata diukur dari aspek represif.
淗ukum di tahun 2026 harus hadir sebagai instrumen yang merangkul, bukan memukul. Ukuran keberhasilan hukum adalah terciptanya harmoni dan rasa saling menghormati, baik di ruang fisik maupun digital, ujarnya.
Ia menambahkan bahwa etika bermedia dan kesadaran hukum masyarakat menjadi penopang penting dalam menjaga kohesi sosial di tengah derasnya arus informasi.
Pendidikan Tinggi sebagai Menara Air Solusi
Sebagai akademisi, Prof. Suparto juga menegaskan komitmen Sekolah Pascasarjana UNAIR untuk menjadikan pendidikan tinggi sebagai pusat solusi sosial. Ia mengibaratkan perguruan tinggi bukan sebagai menara gading, melainkan menara air yang mengalirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
淪ekolah Pascasarjana UNAIR berkomitmen memastikan riset dan pengabdian tidak berhenti di ruang akademik, tetapi berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat dan keberlanjutan lingkungan, ungkapnya.
Pendekatan lintas disiplin dan kolaboratif dinilai menjadi kunci dalam menjawab persoalan bangsa yang semakin kompleks.
Optimisme Menuju Indonesia yang Berkeadilan dan Hijau
Menutup perbincangan, Prof. Suparto menyampaikan optimisme bahwa Indonesia memiliki modal sosial yang kuat untuk menghadapi tantangan global 2026. Integrasi antara kecerdasan intelektual, kesalehan sosial, dan kepedulian ekologis diyakini mampu menjadi fondasi resolusi nasional.
淭antangan global memang tidak ringan, tetapi dengan integrasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai moral, saya optimis Indonesia dapat melangkah menuju masa depan yang lebih hijau, adil, dan berkeadaban, pungkasnya.
Tahun 2026, menurutnya, bukan sekadar penanda waktu baru, melainkan peluang kolektif untuk membangun peradaban yang sehat secara spiritual, sosial, dan ekologis.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




