Aktivitas Manusia Jadi Pemicu Utama Bencana Hidrometeorologi
Ancaman cuaca ekstrem yang melanda Provinsi Jawa Timur kembali disoroti oleh Aditya Prana Iswara, S.T., M.Sc., Ph.D., Koordinator Program Studi Magister Manajemen Bencana (MMB), Sekolah Pascasarjana 51动漫 (UNAIR). Ia menegaskan bahwa peningkatan frekuensi bencana hidrometeorologi bukan semata fenomena alam, melainkan output dari aktivitas manusia yang terakumulasi selama bertahun-tahun.
Menurutnya, paradigma mitigasi bencana harus bergeser dari pola reaktif menuju pola proaktif dan berkelanjutan (continuous disaster management).
淵ang kita terima saat ini sebenarnya adalah dampak dari sekian tahun aktivitas manusia. Bencana bukan muncul tiba-tiba, tetapi merupakan hasil dari tata kelola lingkungan yang kurang bijak, ujarnya.
Pandangan ini sejalan dengan semangat School of Collaborative Leadership yang diusung Sekolah Pascasarjana UNAIR攂ahwa ilmu pengetahuan harus mampu menggerakkan kebijakan publik dan perubahan sosial yang berdampak nyata.
Korelasi Tegas antara Penggunaan Lahan dan Risiko Bencana
Aditya menjelaskan bahwa penggunaan lahan memiliki korelasi langsung terhadap jenis dan skala bencana di suatu wilayah.
淪alah satu yang memperparah perubahan iklim adalah banyaknya aktivitas yang bersinggungan dengan tata kelola lahan. Di Batu misalnya, saat ini lebih banyak vila ketimbang daerah resapan. Akibatnya, karakteristik bencana pun berubah, paparnya.
Ia mencontohkan bahwa Surabaya cenderung menghadapi banjir, sementara Malang dan Batu lebih rentan longsor. Perbedaan topografi memperkuat perlunya tata ruang yang memperhitungkan daya dukung lingkungan agar pembangunan tidak berbalik menjadi ancaman.
Kontinuitas Program dan Pergeseran Budaya Mitigasi
Dalam menyoroti kinerja BPBD Jawa Timur, Aditya menilai bahwa sistem manajemen bencana yang sudah berjalan攕eperti Sembada攑atut diapresiasi. Namun, tantangan terbesar justru terletak pada kontinuitas program mitigasi.
淜adang kita mengenal bencana hanya ketika bencana terjadi. Padahal, proses persiapan itu membutuhkan waktu panjang. Jangan sampai perhatian menurun ketika cuaca kembali tenang, tegasnya.
Ia menambahkan bahwa pendidikan bencana adalah kunci untuk membentuk budaya kesiapsiagaan jangka panjang.
淓dukasi yang baik akan melahirkan budaya tangguh. Setelah budaya terbentuk, sistem akan berjalan dengan sendirinya. Ini pekerjaan rumah terbesar kita, ujarnya.
Data, Literasi, dan Teknologi sebagai Pilar Antisipasi
Sebagai akademisi, Aditya juga menekankan pentingnya pengelolaan data dan komunikasi publik yang efektif. Ia mengingatkan agar data mentah seperti curah hujan tidak disajikan secara teknis tanpa interpretasi yang mudah dipahami masyarakat.
淛angan sampai data mentah seperti 160 mm curah hujan langsung disampaikan ke publik. Lebih baik disajikan dengan konteks: 楬ujan sangat deras, disarankan untuk tidak keluar rumah. Informasi harus human-friendly, jelasnya.
Ia juga menyoroti perlunya kolaborasi antara BMKG, BPBD, dan institusi pendidikan untuk menerjemahkan data menjadi kebijakan adaptif yang dapat diakses publik secara digital.
Jangan Menyangkal Fakta: Akui Peran Manusia dalam Bencana
Di akhir paparannya, Aditya menyoroti mentalitas sebagian pihak yang cenderung menyangkal kontribusi manusia terhadap bencana.
淪ampai sekarang masih banyak kepala daerah yang menyangkal fakta ini. Padahal, aktivitas manusia jelas berkontribusi pada kerusakan lingkungan dan memicu bencana, tandasnya.
Ia menegaskan bahwa kejujuran dalam membaca data dan mengakui peran manusia adalah langkah awal menuju kebijakan mitigasi yang efektif.
Meneguhkan Peran Akademisi UNAIR dalam Mitigasi Berkelanjutan
Pesan Aditya menegaskan bahwa ketangguhan Jawa Timur menghadapi cuaca ekstrem hanya dapat dicapai melalui sinergi tiga pilar: pendidikan yang berkelanjutan, kolaborasi multisektor, dan pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab.
Melalui peran Sekolah Pascasarjana UNAIR sebagai School of Collaborative Leadership, universitas ini terus berkomitmen menghadirkan solusi akademik yang berdampak langsung bagi masyarakat dan lingkungan.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




