51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Dari Hari Anti Tembakau Sedunia Menuju Kota Berkelas Dunia: Refleksi untuk Surabaya

SURABAYA, 31 Mei 2025 ” Setiap 31 Mei, dunia memperingati Hari Anti Tembakau Sedunia, sebuah momen reflektif untuk menakar ulang dampak konsumsi tembakau terhadap kesehatan publik. Namun di Indonesia, peringatan ini kerap diwarnai paradoks: asap rokok dikecam, namun cukainya dipuja.

Menurut data Kementerian Keuangan, cukai hasil tembakau menyumbang Rp 230 triliun ke APBN tahun 2024, menjadikannya salah satu sumber penerimaan terbesar negara. Di sisi lain, Kementerian Kesehatan mencatat beban ekonomi akibat dampak kesehatan dari rokok mencapai Rp 27 triliun per tahun. Ketergantungan ini mencerminkan dilema kebijakan yang belum terselesaikan.


Surabaya: Di Antara Visi Global dan Realita Lokal

Surabaya, yang baru saja memperingati ulang tahun ke-732, telah mengusung visi menjadi kota berkelas dunia”maju, humanis, dan berkelanjutan. Berbagai pencapaian seperti pengembangan transportasi massal BRT, penurunan angka kemiskinan, dan revitalisasi ruang hijau patut diapresiasi.

Namun, tantangan serius masih menghadang. Prevalensi perokok yang tinggi dan implementasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang masih lemah menjadi sorotan. Meski Wali Kota Eri Cahyadi telah menggulirkan kampanye KTR, pengawasan di ruang publik masih belum konsisten. Asap rokok masih kerap ditemukan di pusat perbelanjaan, halte, dan taman kota.


Paradoks Tembakau: Kebijakan yang Kontradiktif

Indonesia hingga kini masih menjadi satu-satunya negara di Asia yang belum meratifikasi FCTC (Framework Convention on Tobacco Control). Berdasarkan Riskesdas 2023, jumlah perokok aktif di Indonesia mencapai 65 juta orang, menjadikan negara ini pasar rokok terbesar ketiga di dunia.

Dalam konteks ini, Surabaya harus mengambil posisi yang lebih tegas. Data dari Dinas Lingkungan Hidup menyebutkan bahwa 15% polusi udara di kota ini berasal dari asap rokok, sementara 40% disumbang emisi kendaraan. Maka, jika Surabaya ingin sejajar dengan kota global lain, penguatan regulasi lingkungan dan kesehatan adalah keniscayaan.


Momentum Evaluasi: Kesehatan Publik sebagai Prioritas

Hari Anti Tembakau Sedunia 2025 dapat menjadi titik tolak bagi kebijakan yang lebih progresif. Pemerintah pusat perlu mendorong diversifikasi penerimaan negara, agar tidak lagi bergantung pada industri yang merusak kesehatan masyarakat.

Sementara itu, Surabaya bisa menjadi pelopor kota sehat dengan:

  • Memperluas zona bebas rokok yang benar-benar bebas dari pelanggaran

  • Mengintensifkan edukasi publik mengenai bahaya rokok

  • Mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan hijau sebagai alternatif pembangunan ekonomi


Penutup: Jalan Menuju Kota Berkelas Dunia

Menjadi kota berkelas dunia tidak hanya ditentukan oleh pencakar langit atau moda transportasi modern, tetapi juga oleh kualitas hidup warganya. Surabaya, dengan sejarah perjuangan dan semangat gotong royongnya, memiliki peluang besar untuk menjadi model kota sehat dan berkelanjutan di Indonesia.

Namun itu semua menuntut komitmen tanpa kompromi terhadap kesehatan masyarakat. Di tengah polusi, tekanan ekonomi, dan tantangan budaya merokok, keberanian politik dan kepemimpinan yang visioner akan menjadi pembeda. Karena pada akhirnya, kota yang hebat adalah kota yang melindungi warganya terlebih dahulu.

Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =

AKSES CEPAT