Surabaya, 1 Agustus 2025 “ Di tengah prosesi pengukuhan calon wisudawan Sekolah Pascasarjana 51¶¯Âþ (SPS UNAIR), sosok Ditya Riski Taher, M.Si., mencuri perhatian. Lulusan terbaik dari Program Magister Ilmu Forensik ini membagikan pengalaman belajar yang unik, mendalam, dan sangat aplikatif “ membuktikan bahwa kuliah di UNAIR bukan sekadar teori, tetapi juga praktik nyata di lapangan.
Didampingi oleh ibunda tercinta, Ditya menyampaikan kesan mendalamnya selama menempuh studi di UNAIR. Ia mengungkapkan bahwa dunia ilmu forensik membuka ruang berpikir baru, sekaligus menantang perspektif budaya masyarakat terkait kematian dan jenazah.
œBelajar di forensik itu unik. Domain ilmunya melawan kebudayaan kita tentang mayat, ujarnya.
Kurikulum yang Kuat dan Praktis
Salah satu kekuatan utama dari Program Magister Ilmu Forensik UNAIR terletak pada kurikulumnya yang relevan dan para pengajarnya yang merupakan praktisi profesional. Ditya menyebutkan nama-nama besar seperti Prof. Myrta dan Prof. Tuti dari bidang antropologi forensik sebagai contoh pengajar yang tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga berbagi pengalaman nyata dari lapangan.
œKami mendapatkan teori, dan para pengajar juga kebetulan praktisi di bidangnya masing-masing, tambahnya.
Pengalaman Langsung di Ruang Autopsi
Puncak dari pembelajaran Ditya selama kuliah adalah kesempatan mengikuti autopsi secara langsung. Ia mengisahkan bagaimana dirinya dipercaya oleh Prof. Febia untuk terlibat dalam proses tersebut. Meskipun harus menghadapi bau menyengat dari sampel jenazah, pengalaman itu menjadi validasi nyata bahwa ilmu yang dipelajari di kelas sangat relevan dengan kondisi di lapangan.
œIlmu yang saya dan teman-teman dapatkan saya kira sesuai dengan apa yang terjadi di dunia nyata, tegasnya.
Inspirasi dari Perjuangan dan Harapan Masa Depan
Di akhir sambutannya, Ditya tidak hanya berbicara sebagai seorang akademisi, tetapi juga sebagai pribadi yang telah melalui perjuangan berat “ bekerja sambil kuliah dan mengurus keluarga. Ia menegaskan bahwa keberhasilan hari ini bukanlah akhir, melainkan permulaan dari perjalanan berikutnya.
œSemoga saya dan teman-teman yang berdiri di sini bisa segera menemukan jalannya di masyarakat, tuturnya, menyiratkan harapan agar para lulusan UNAIR tidak hanya menjadi akademisi, tetapi juga pelaku perubahan di masyarakat.
Pendidikan Ilmu Forensik UNAIR: Mencetak Profesional Siap Pakai
Kisah Ditya Riski Taher menjadi bukti konkret bahwa Program Magister Ilmu Forensik di Sekolah Pascasarjana UNAIR memiliki kekuatan dalam memadukan teori dan praktik. Pendidikan yang berorientasi pada realitas lapangan inilah yang menjadikan lulusan UNAIR unggul, siap bekerja, dan berkontribusi secara langsung bagi penegakan hukum dan kemajuan bangsa.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




