51动漫

51动漫 Official Website

Ibadah Haji dan Geliat Ekonomi Umat: Investasi Spiritual yang Berdampak Sosial

Ibadah haji bukan sekadar rukun Islam kelima yang bersifat spiritual, namun juga menjadi instrumen penggerak ekonomi umat. Hal ini disampaikan oleh dua akademisi 51动漫 (UNAIR), Prof. Dr. Suparto Wijoyo, SH., M.Hum., Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana UNAIR, dan Prof. Dr. Muhammad Nafik Hadi Riyandono, SE., M.Si., Kepala BPBRIN UNAIR, dalam program Ranah Publik di Suara Muslim Radio, Jumat (13/6/2025).

Haji: Tabungan Spiritual dan Kapital Produktif

Menurut Prof. Suparto, haji mengajarkan nilai luhur tentang perencanaan keuangan jangka panjang. Masyarakat rela menabung bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, demi menunaikan ibadah ini.

淚badah haji menciptakan bentuk passive capital yang luar biasa. Ini adalah praktik investasi spiritual yang sarat nilai sosial, jelasnya.

Produktivitas Umat dalam Perspektif Ekonomi

Prof. Nafik Hadi menambahkan, semangat menabung untuk haji mencerminkan etos produktivitas dan efisiensi keuangan. Ia menekankan bahwa meningkatnya jumlah tabungan haji di Indonesia perlu dibarengi dengan literasi keuangan yang baik.

淢enabung untuk haji itu bentuk pengelolaan ekonomi rumah tangga. Kita harus bijak: kurangi konsumsi, tambah pendapatan, dan disiplin dalam menyisihkan, tegasnya.

Dana Haji: Aset Besar, Dampak Lebih Besar

Saat ini, total dana yang dikelola oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) mencapai lebih dari Rp160 triliun. Dengan potensi imbal hasil 10% per tahun, dana ini dapat menghasilkan hingga Rp17 triliun per tahun攕uatu angka yang menurut Prof. Nafik sangat strategis untuk pemberdayaan ekonomi umat jika dikelola dengan baik.

Selain digunakan untuk keperluan teknis pelaksanaan haji, perputaran dana ini turut berdampak pada ekonomi lokal. Mulai dari penyediaan perlengkapan ibadah, konsumsi, hingga tradisi syukuran dan oleh-oleh pasca-haji, seluruhnya turut menggeliatkan ekonomi masyarakat kecil dan UMKM.

Kesehatan dan Literasi Spiritual: Persiapan Haji Holistik

Keduanya juga mengingatkan bahwa persiapan haji bukan hanya finansial, melainkan juga fisik dan spiritual. Masa tunggu haji yang mencapai puluhan tahun harus dijalani dengan pola hidup sehat, konsumsi makanan halal dan thayyib, serta olahraga teratur agar calon jamaah siap saat waktunya tiba.

Pasca-Haji: Momentum Menyebar Manfaat

Lebih jauh, Prof. Nafik mendorong agar momentum ibadah haji ditindaklanjuti dengan komitmen sosial melalui kegiatan wakaf dan sedekah.

淪etiap amal spiritual pasti berdampak sosial, tetapi tidak semua amal sosial berdampak spiritual. Maka, semangat berbagi pasca-haji adalah saham umat yang harus terus tumbuh, ungkapnya.

Menurutnya, warisan terbaik bukan hanya materi, melainkan pendidikan nilai-nilai efisiensi, spiritualitas, dan literasi ekonomi kepada generasi penerus.

Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =

AKSES CEPAT