Banyuwangi, Juli 2025 “ Di balik hiruk-pikuk Pelabuhan Ketapang dan aktivitas medis RSUD Blambangan, terpahat kisah kemanusiaan yang menggetarkan. Sebuah tim kecil dari civitas akademika 51¶¯Âþ (Unair) turut bergerak dalam operasi Disaster Victim Identification (DVI), menyatukan empati, keahlian, dan semangat pengabdian untuk mengidentifikasi para korban tenggelamnya KMP Tunu Jaya Pratama.
Mahasiswa Sebagai Garda Terdepan Misi Kemanusiaan
Salah satu anggota tim, Tasyakarina Ayu Kinasih Santoso (Karin), menjadi bagian dari Tim Postmortem bersama tiga rekannya: Dortji Leonora Saruning, Wiwin Nur Aisyah, dan Ndaru Trisni Larasati. Selama 9“11 Juli 2025, mereka bekerja di RSUD Blambangan, menjalankan tugas penting: pengumpulan data postmortem, dokumentasi, notulensi, hingga pembersihan properti jenazah.
œKami bertugas mendukung tim DVI dalam proses identifikasi korban, yang menuntut ketelitian dan ketahanan mental tinggi, ujar Karin.
Sebanyak delapan mahasiswa S2 Ilmu Forensik Sekolah Pascasarjana Unair terlibat dalam operasi ini. Tim dibagi dua: tim antemortem yang bertugas di Pelabuhan Ketapang dan tim postmortem di RSUD Blambangan. Kolaborasi intens antar tim menunjukkan sinergi akademik dalam merespons krisis.
Ketangguhan Emosional di Balik Ketakziman Proses
Identifikasi jenazah bukanlah proses teknis semata. Ada dimensi emosional yang dalam, terutama saat berhadapan langsung dengan keluarga korban. Karin mengungkap bahwa dukungan dari rekan-rekan satu tim, dokter forensik Unair, pihak kepolisian (Biddokes), dan tim DVI menjadi pondasi yang menguatkan mereka.
œKami diberi arahan jelas agar mengikuti protokol dengan tepat. Ini bukan hanya soal prosedur, tapi juga etika kemanusiaan, jelasnya.
Tri Dharma dalam Aksi Nyata
Keterlibatan mahasiswa Unair dalam operasi ini bukan hanya bentuk empati, tetapi juga implementasi nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
œIni bukan sekadar praktik lapangan, tapi juga panggilan hati. Kami ingin menjadi bagian dari solusi, tegas Karin.
Keterlibatan langsung dalam operasi forensik menjadi ladang pengembangan profesionalisme dan kemanusiaan yang mendalam bagi mahasiswa.
Saat Kelelahan Mental Menyapa
Proses identifikasi tidak lepas dari tekanan mental. Karin mengakui, momen-momen tertentu sangat menguras emosi, terutama saat berinteraksi dengan keluarga korban dan menyaksikan duka mendalam.
œAda saat di mana kesedihan itu tak tertahankan. Tapi kami tetap harus profesional, demi memberikan kepastian bagi keluarga, kenangnya.
Kekuatan di Balik Hasil Kerja Nyata
Semangat tim kembali menyala ketika melihat hasil kerja mereka berkontribusi langsung dalam mengungkap identitas korban. Setiap data yang berhasil disusun menjadi kunci pembuka harapan bagi keluarga yang menunggu.
œSaat korban berhasil diidentifikasi, semua lelah terasa terbayar, ucap Karin.
Pesan Harapan di Setiap Jejak
Dalam setiap langkahnya, Karin menggenggam satu kutipan yang menjadi pelecut semangat:
œSetiap jejak menyimpan kisah, dalam hening, harapan takkan sirna.
Kutipan ini menjadi filosofi mendalam dari seluruh proses DVI: bahwa di balik setiap barang, potongan, atau properti jenazah, selalu ada harapan untuk menghadirkan kepastian, keadilan, dan kemanusiaan.
Kampus Berdampak, Misi Kemanusiaan Tak Pernah Usai
Kisah Karin dan tim DVI Unair adalah cerminan semangat “Kampus Berdampak”, menjadikan keilmuan sebagai jalan pengabdian. Di ujung timur Pulau Jawa, mereka tidak hanya memulihkan identitas korban, tetapi juga merawat martabat kemanusiaan.
🌿 Jejak mereka tidak akan hilang, sebab setiap langkah menyimpan arti bagi mereka yang menunggu kejelasan dan keadilan.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




