51动漫

51动漫 Official Website

Kolaborasi Akademisi untuk Aksi Kemanusiaan: MMB UNAIR Merajut Asa Korban Bencana Sumatera

Kolaborasi Akademisi untuk Aksi Kemanusiaan: MMB UNAIR Merajut Asa Korban Bencana Sumatera

Di tengah duka dan tantangan pemulihan pascabencana alam di Sumatera Barat, Magister Manajemen Bencana (MMB) Sekolah Pascasarjana 51动漫 (UNAIR) hadir memberikan kontribusi nyata di garis depan. Tidak berhenti pada tataran akademik, keterlibatan ini menjadi bukti komitmen UNAIR dalam memastikan keselamatan warga dan percepatan pemulihan layanan dasar di wilayah terdampak bencana.

Pada Minggu (14/12/2025), dua alumni MMB UNAIR, Rizqy Tasnima Fadhilah dan Ni Kadek Briggita Brillianti, memimpin langsung misi kemanusiaan di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kehadiran keduanya merepresentasikan peran aktif Program Studi MMB UNAIR yang berkolaborasi dengan Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM), serta Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Berkelanjutan (LPMB) UNAIR.

Fokus Pemulihan Layanan Dasar di Wilayah Terdampak

Kegiatan tanggap darurat dibagi ke dalam dua tim utama, yakni Tim Lubuk Basung dan Tim Malalak. Peran strategis alumni MMB UNAIR menonjol dalam Tim Malalak yang berfokus pada asesmen kebutuhan esensial pascabencana.

Berdasarkan peninjauan lapangan, tim menetapkan rencana pemasangan tiga paket sarana pendukung utama, meliputi penyediaan air bersih, suplai tenaga listrik, serta perangkat komunikasi berbasis satelit. Ketiga aspek ini dinilai krusial untuk mendukung aktivitas warga dan koordinasi bantuan di wilayah terdampak.

Di Jorong Limo Badak, tim menemukan sarana penjernihan air dan perangkat komunikasi satelit sudah berfungsi. Namun, kondisi berbeda dijumpai di wilayah Palembayan yang masih mengalami keterbatasan sinyal komunikasi serta belum tersedianya dukungan listrik dan jaringan informasi. Temuan ini menjadi dasar penting dalam menentukan prioritas distribusi bantuan agar tepat sasaran.

Sementara itu, Tim Lubuk Basung melakukan koordinasi intensif dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam, khususnya melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik. Koordinasi difokuskan pada pendataan warga terdampak serta pengamanan logistik berupa alas tidur untuk pusat kegiatan lapangan, yang kemudian disepakati penambahan sebanyak 20 unit.

Krisis Air Bersih dan Tantangan Kesehatan Lingkungan

Langkah strategis tim MMB UNAIR berlanjut ke wilayah Tanjung Raya untuk mendalami kondisi lingkungan dan kesehatan di lokasi pengungsian. Informasi dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Agam mengungkapkan persoalan serius terkait ketersediaan air bersih dan sanitasi.

Banyak sarana penyediaan air masyarakat mengalami kerusakan akibat longsor, sehingga debit air yang tersedia sangat terbatas. Kondisi kesehatan lingkungan juga dinilai memprihatinkan, terutama di lokasi pengungsian besar yang sulit dijangkau.

Salah satu musala di ujung Nagari Maninjau, misalnya, menampung lebih dari seratus pengungsi, namun hanya dilengkapi satu kamar mandi layak pakai dan satu jamban bergerak. Rasio ini jauh di bawah standar sanitasi minimal dalam situasi darurat.

Permasalahan lain yang turut memperburuk kondisi adalah pengelolaan sampah. Terputusnya akses jalan menyebabkan layanan kebersihan tidak berjalan optimal, sementara keterbatasan wadah sampah menyulitkan upaya pemilahan yang telah diinisiasi oleh Dinas Lingkungan Hidup setempat.

Kolaborasi Multidisiplin untuk Solusi Terpadu

Dalam semangat kolaborasi lintas institusi, tim MMB UNAIR juga berdiskusi dengan tim dari Universitas Brawijaya dan Universitas Muhammadiyah Malang di Lubuk Basung. Diskusi ini memperkuat rencana aksi terpadu, khususnya setelah ditemukan kondisi air tidak mengalir di Puskesmas Maninjau.

Kecepatan adaptasi dan ketepatan asesmen lapangan yang dilakukan oleh alumni MMB UNAIR mencerminkan hasil nyata dari pendidikan manajemen bencana yang holistik dan aplikatif. Fokus penanganan tidak hanya pada distribusi logistik, tetapi juga pada analisis risiko, koordinasi antar-lembaga, serta pemulihan layanan dasar yang berkelanjutan.

Melalui aksi kemanusiaan ini, Magister Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana UNAIR menegaskan peran strategis akademisi dalam mitigasi dan tanggap darurat bencana. Ilmu pengetahuan diwujudkan menjadi aksi nyata yang terencana, kolaboratif, dan berdampak langsung bagi keselamatan serta pemulihan kehidupan masyarakat terdampak.

Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =

AKSES CEPAT