Perjalanan panjang akademik Achmad Edwyn Anedi, S.Sos., M.M. mencapai puncaknya di Ruang Ujian Terbuka Lantai II Gedung Sekolah Pascasarjana 51动漫, Senin (29/12/2025). Ia resmi dikukuhkan sebagai Doktor ke-116 Program Studi Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) dengan predikat sangat memuaskan.
Sidang terbuka ini dipimpin oleh Direktur Sekolah Pascasarjana UNAIR, Prof. Dr. dr. Achmad Chusnu Romdhoni, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk. (K), FICS, dan berlangsung dalam suasana khidmat. Turut hadir Bupati Lamongan Dr. H. Yuhronur Efendi, M.B.A., M.E.K., yang menegaskan bahwa ilmu pengetahuan merupakan instrumen utama untuk meninggikan derajat manusia dan memajukan peradaban.
Ilmu sebagai Kompas Moral Pembangunan
Dalam pemaparan disertasinya, Edwyn menegaskan bahwa kemajuan bangsa tidak lagi dapat bertumpu semata pada kekayaan alam. Menurutnya, kualitas sumber daya manusia merupakan faktor penentu utama daya saing dan keberlanjutan pembangunan.
淕elar doktor ini hanyalah simbol akademik. Ujian sesungguhnya adalah bagaimana ilmu yang kita miliki mampu menjawab persoalan masyarakat dan memberi manfaat nyata, ujar Edwyn di hadapan para penguji.
Pandangan tersebut mencerminkan orientasi keilmuan PSDM UNAIR yang menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan. Pendidikan, bagi Edwyn, merupakan proses pembentukan karakter, integritas, dan tanggung jawab sosial, bukan sekadar akumulasi pengetahuan teoretis.
Ujian Ilmiah Lintas Disiplin
Disertasi Edwyn diuji oleh tim penguji lintas disiplin yang terdiri dari Prof. Dr. Muslich Anshori, S.E., M.Sc., Ak., CA; Prof. Dr. Nurul Hartini, S.Psi., M.Kes.; Prof. Sulikah Asmorowati, S.Sos., M.DEVSt., Ph.D.; Prof. Dr. Achmad Rizki Sridadi, S.H., M.M., M.H.; Dr. Karnaji, S.Sos., M.Si.; serta Mhd. Zamal Nasution, Ph.D.
Kehadiran para pakar tersebut memberikan kedalaman akademik pada proses pengujian, sekaligus menegaskan karakter PSDM UNAIR sebagai program studi multidisipliner yang responsif terhadap tantangan pengembangan manusia di tingkat nasional.
Pesan Promotor: Gelar sebagai Bentuk Keberbak颅tian
Suasana akademik berubah menjadi reflektif saat Promotor Prof. Dr. H. Suparto Wijoyo, S.H., M.Hum., didampingi Co-Promotor Dr. Erna Setijaningrum, S.IP., M.Si., menyampaikan pesan penutup.
淕elar ini adalah mahkota yang kau sematkan untuk ibumu, tutur Prof. Suparto dengan nada penuh haru. Ia mengingatkan bahwa capaian akademik tertinggi tidak pernah lahir dari kerja individual semata, melainkan dari doa, pengorbanan, dan cinta seorang ibu yang tak terucap.
Lebih jauh, Prof. Suparto menekankan agar Edwyn tidak menjadi intelektual yang terkungkung dalam menara gading. Seorang doktor, menurutnya, harus mampu memanusiakan manusia, membaca realitas sosial, dan menghadirkan ilmu sebagai cahaya yang membumi.
Awal Pengabdian bagi Bangsa
Bagi Edwyn, kelulusan doktoral ini merupakan hasil kerja kolektif keluarga, almamater, dan jejaring akademik yang menopang proses panjang studinya. Di tengah perubahan global yang cepat, ia menawarkan gagasan bahwa pengembangan manusia adalah investasi paling strategis bagi masa depan bangsa.
淪etiap individu adalah potensi. Tugas kita adalah menyalakan apinya agar menjadi penerang bagi sesama, pungkas Edwyn.
Ketika palu sidang diketuk, yang mengemuka bukan sekadar penetapan kelulusan, melainkan kesadaran bahwa gelar doktor adalah titik awal pengabdian yang lebih luas攑engabdian yang berakar pada ilmu, nilai kemanusiaan, dan tanggung jawab kebangsaan.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




