Suasana haru menyelimuti Ruang Ujian Doktor Terbuka (UDT) Sekolah Pascasarjana 51动漫 (UNAIR), Surabaya, Senin (19/1/2026). Di akhir sidang, Muzakki berdiri tegak, bukan hanya sebagai lulusan doktor, tetapi sebagai simbol kemenangan atas keterbatasan yang pernah membelenggu masa lalunya.
Muzakki resmi meraih gelar Doktor dari Program Studi Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) setelah berhasil mempertahankan disertasi berjudul Studi Organizational Innovation pada UKM Jawa Timur: Pendekatan Cross Level. Atas capaian akademik tersebut, ia dinyatakan lulus dengan predikat Dengan Pujian (Cumlaude).
Ujian Doktor Terbuka ini dipimpin oleh Dr. Karnaji, S.Sos., M.Si., yang menyaksikan langsung bagaimana riset akademik yang kompleks berpadu dengan perjalanan hidup penuh ketekunan dari sang promovendus.
Pendidikan sebagai Senjata Melawan Kemiskinan
Bagi Muzakki, kelulusan ini bukan sekadar pencapaian akademik. Dalam pesan dan kesannya, ia secara terbuka menceritakan latar belakang keluarga yang berasal dari kondisi ekonomi terbatas. Sejak kecil, kerja keras menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupannya.
淪aya berasal dari latar belakang keluarga yang bisa dibilang kurang mampu, ungkap Muzakki dengan suara tenang namun sarat makna.
Pengalaman hidup tersebut membentuk keyakinannya bahwa pendidikan adalah jalan paling rasional dan bermartabat untuk memutus rantai kemiskinan. Nilai kesabaran, ketulusan, dan ketekunan yang ia pelajari sejak kecil menjadi modal utama dalam menempuh studi doktoral.
Peran Penting Para Promotor
Keberhasilan ini, menurut Muzakki, tidak lepas dari bimbingan para promotor yang ia sebut sebagai orang tua akademik. Mereka adalah:
-
Promotor: Prof. Dr. Nuri Herachwati, Dra. Ec., M.Si., M.Sc.
-
Ko-Promotor 1: Dr. Muhammad Fakhruddin Mudjakkir, S.E., M.Si.
-
Ko-Promotor 2: Dr. Sabar, S.E., M.Si.
Ia menegaskan bahwa peran promotor tidak hanya sebatas membimbing penelitian, tetapi juga membentuk pola pikir dan karakter ilmiah.
淭anpa bimbingan beliau-beliau, kapabilitas saya bukan apa-apa. Berkat mentoring yang konsisten, keterbatasan saya justru bertransformasi menjadi kekuatan akademik, tuturnya dengan penuh emosi.
Ilmu dan Filosofi Pengorbanan
Selama menempuh studi doktoral, Muzakki mengaku tidak hanya ditempa secara intelektual, tetapi juga secara mental dan spiritual. Ia mengutip pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang menjadi refleksi perjalanan akademiknya: Ilmu tidak akan memberimu sebagian darinya sebelum engkau memberikan seluruh dirimu kepadanya.
Bagi Muzakki, gelar doktor bukanlah garis akhir. Justru, capaian tersebut menjadi awal dari tanggung jawab moral yang lebih besar dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang pengembangan sumber daya manusia.
淧encapaian akademik menuntut pengorbanan dan kesungguhan. Ini bukan akhir perjalanan, melainkan awal tanggung jawab saya untuk memberi manfaat yang lebih luas, tegasnya.
Dukungan Ekosistem Akademik UNAIR
Selain faktor personal, Muzakki juga menyoroti peran ekosistem akademik UNAIR yang kondusif. Dukungan dari pimpinan Sekolah Pascasarjana, dosen, hingga rekan seangkatan di Program Doktor PSDM menjadi support system penting dalam menyeimbangkan tuntutan akademik, profesi, dan keluarga.
Kini, Dr. Muzakki membawa pulang lebih dari sekadar ijazah. Ia membawa pesan kuat bagi generasi muda bahwa latar belakang ekonomi bukanlah batas untuk mencapai puncak tertinggi pendidikan. Dengan kerja keras, ketekunan, dan komitmen pada ilmu pengetahuan, keterbatasan dapat diubah menjadi kekuatan untuk mengabdi pada masyarakat dan bangsa.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




