Di tengah tuntutan transformasi berkelanjutan, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kerap diibaratkan sebagai kapal tanker besar: kokoh, namun menantang untuk bermanuver cepat di tengah arus perubahan. Tantangan adaptabilitas inilah yang mendorong Amminudin MarufWakil Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus mantan Wakil Menteri BUMNkembali ke bangku akademik untuk membedah formula kelenturan organisasi perusahaan negara.
Pada Rabu (14/1/2026), Amminudin berhasil mempertahankan tesisnya dalam Program Studi Magister Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM), Sekolah Pascasarjana 51 (UNAIR). Di hadapan dewan penguji, ia mengemukakan bahwa performa adaptif BUMN tidak semata ditentukan oleh kebijakan struktural, melainkan oleh sinergi antara kepemimpinan puncak dan budaya belajar organisasi.
Menembus Sekat Birokrasi
Penelitian ini melibatkan 420 karyawan dari 90 perusahaan BUMN yang tersebar di tujuh sektor bisnis. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik proportional random sampling, Amminudin menyoroti dua pilar strategis dalam penguatan daya adaptif BUMN, yakni Cultural Learning (pembelajaran budaya) dan Top Management Team Behavioral Integration (integrasi perilaku tim manajemen puncak).
Hasil riset menunjukkan bahwa kekompakan direksi bukan sekadar urusan administratif atau formalitas tata kelola. Integrasi perilaku manajemen puncakyang ditopang oleh budaya belajar yang kuatmenjadi energi penggerak yang memungkinkan organisasi merespons perubahan secara lebih lincah dan terkoordinasi.
Kapabilitas Perubahan sebagai Jembatan Transformasi
Pengolahan data menggunakan SmartPLS mengungkap fenomena full mediation. Temuan ini menegaskan bahwa pembelajaran budaya dan integrasi manajemen puncak tidak serta-merta berdampak langsung pada adaptive performance. Keduanya baru memberikan hasil optimal ketika dimediasi oleh Organizational Change Capability atau kapabilitas perubahan organisasi yang terlembaga.
Dengan kata lain, wacana transformasi tidak cukup berhenti pada slogan atau program pembelajaran. Organisasi perlu menerjemahkan pembelajaran dan kepemimpinan kolaboratif ke dalam kapabilitas perubahan yang operasional, terukur, dan berkelanjutan.
Kekuatan di Balik Tekanan Institusional
Temuan menarik lainnya adalah peran Institutional Pressure (tekanan institusional) yang selama ini kerap dipersepsikan sebagai beban bagi BUMN. Dalam konteks perusahaan negara, tekanan tersebut sering hadir dalam bentuk coercive pressure, baik melalui regulasi, tuntutan publik, maupun ekspektasi pemangku kepentingan.
Riset ini justru membuktikan bahwa tekanan institusional berperan sebagai moderator positif. Tekanan tersebut memperkuat pengaruh kapabilitas perubahan terhadap kinerja adaptif organisasi. Dengan konfigurasi kepemimpinan dan budaya belajar yang tepat, tekanan eksternal justru meningkatkan daya lenting (resilience) BUMN dalam menghadapi perubahan lingkungan strategis.
Ujian di Meja Para Ahli
Sidang ujian tugas akhir ini dipimpin oleh para akademisi yang memiliki kompetensi kuat di bidang PSDM dan manajemen organisasi, yaitu:
-
Dr. Nur Ainy Fardana, S.Psi., M.Si., Psikolog (Ketua Penguji)
-
Prof. Dr. Nuri Herachwati, Dra. Ec., M.Si., M.Sc. (Anggota)
-
Prof. Dr. H. Jusuf Irianto, Drs., M.Com. (Anggota)
-
Dr. Sendy Ayu Mitra Uktutias, S.ST., M.Kes. (Anggota)
-
Dr. Fiona Niska Dinda Nadia, S.E., M.SM. (Anggota)
Keberhasilan Amminudin menuntaskan studi magister di tengah tanggung jawabnya sebagai pejabat publik mengirimkan pesan kuat bagi tata kelola BUMN ke depan. Bahwa transformasi organisasi idealnya tidak hanya digerakkan oleh intuisi kebijakan, tetapi berpijak pada landasan empiris dan kajian akademik yang solid.
Bagi Sekolah Pascasarjana UNAIR, tesis ini menegaskan peran PSDM sebagai ruang dialektika antara praktik kebijakan publik dan pengembangan ilmu pengetahuan, demi membangun BUMN yang lebih lentur, adaptif, dan berdaya saing di masa depan.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




