51

51 Official Website

Menggali Teladan dari Rumah Ulama di Tebuireng: Warisan Kepahlawanan dan Gagasan Mendunia

Bedah Buku di Tebuireng: Menyambung Warisan Pemikiran Ulama Besar

Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang kembali menjadi pusat diskusi intelektual dengan digelarnya Bedah Buku Teladan dari Rumah Ulama pada Sabtu (22/11/2025). Acara yang digelar di Gedung Yusuf Hasyim, lantai 3, ini menyorot jejak keluarga pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari, serta relevansi pemikiran mereka dalam menghadapi tantangan zaman.

Buku ini ditulis oleh dr. KH Umar Wahid, putra bungsu KH Wahid Hasyim dan Nyai Solichah. Melalui sudut pandang orang dalam, buku ini mengulas karakter, kiprah, dan perjalanan lima saudaranya:
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Ny. Aisyah Hamid Baidlowi, Nyai Lili Chadijah Wahid, KH Salahuddin Wahid (Gus Solah), dan KH Hasyim Wahid (Gus Im).

Sinopsis Buku dan Intisari Keteladanan

Teladan dari Rumah Ulama menampilkan catatan personal mengenai bagaimana nilai pesantren, disiplin, dan cinta ditanamkan dalam keluarga KH Wahid Hasyim dan Nyai Solichah. Menariknya, dr. Umar Wahid menyebut bahwa karakter Betawi banyak mewarnai keenam saudaranya, karena sebagian besar tinggal dan tumbuh di Jakarta.

Porsi terbesar dalam buku ini diberikan kepada Gus Dur, yang digambarkan sebagai sosok penuh warna dan lintas batasdari keluarga, organisasi, budaya, hingga dunia internasional. Penulis juga memiliki kedekatan khusus karena pernah menjadi dokter pribadi Gus Dur hingga beliau menjabat Presiden.

Tiga Pahlawan Nasional dari Satu Keluarga

Acara ini turut dihadiri oleh rombongan Sekolah Pascasarjana 51 (UNAIR), dipimpin oleh Wakil Direktur 3, Prof. Dr. H. Suparto Wijoyo, S.H., M.Hum., bersama Dr. Hendro Puspito, S.E., M.PSDM., yang juga alumni SPS UNAIR.

Prof. Suparto menyampaikan apresiasi mendalam atas lahirnya buku ini. Ia menekankan bahwa keluarga ulama Tebuireng telah melahirkan tiga Pahlawan Nasional:

  • KH Hasyim Asyari

  • KH Wahid Hasyim

  • KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Menurutnya, gagasan keluarga ini telah memberi kontribusi besar bagi bangsa. Dari Resolusi Jihad, Komite Hijaz, hingga perumusan dasar negara, semuanya hadir dari rumah ulama dan layak menjadi teladan, terutama dalam momentum Hari Pahlawan di bulan November.

Inspirasi Perpustakaan Homey dari Tiongkok

Dalam perbincangan mengenai pengembangan perpustakaan Masjid Nuruzzaman UNAIR, Pengasuh Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) menyampaikan inspirasi menarik dari perjalanannya ke Tiongkok.

Di Tiongkok, perpustakaan terasa sangat homey. Orang bisa membaca dengan nyaman, sesuai gaya mereka, tanpa formalitas yang membatasi, ujarnya.

Pesan ini menjadi refleksi penting bagi pengembangan literasi: ruang baca seharusnya ramah, fleksibel, dan mendorong kegemaran membaca secara alami.

Menapak Tilas Jejak Sang Pendiri NU

Salah satu momen paling istimewa dalam kunjungan SPS UNAIR adalah kesempatan memasuki kamar pribadi Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari. Ruangan sederhana tersebut menyimpan buku-buku, Al-Quran, replika tempat tidur, tongkat, hingga Wayang Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari.

Melihat koleksi bersejarah ini, para peserta merasakan kontras mendalam antara kesederhanaan hidup dengan keluasan ilmu dan gagasan yang mendunia. Jejak pemikiran beliau telah menjadi pondasi besar bagi perjalanan bangsa Indonesia.

Rangkaian acara ditutup dengan ziarah ke kompleks pemakaman pesantren serta kunjungan ke deretan toko koperasi Tebuireng. Para peserta membawa pulang inspirasi tentang keteladanan, kepahlawanan, dan semangat literasi langsung dari rumah ulama yang telah membentuk sejarah bangsa.

Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =

AKSES CEPAT