51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Menggebrak Batas Sains: Nanoteknologi Buka Era Baru Pengobatan Diabetes dan Imunologi

SURABAYA, 8 Agustus 2025 “ Nanoteknologi kini menjadi jembatan yang menghubungkan pengobatan tradisional dengan inovasi medis modern. Terobosan ini menjadi topik utama dalam kuliah tamu Program Studi Magister Imunologi Sekolah Pascasarjana 51¶¯Âþ (UNAIR) yang menghadirkan Associate Professor ChM. Dr. Noraini Ahmad dari Universiti Malaya. Acara berlangsung di Gedung Putih Sekolah Pascasarjana UNAIR, dihadiri akademisi, peneliti, dan mahasiswa.

Dr. Noraini, pakar kimia fisik dan formulasi nanopartikel sekaligus Direktur Universiti Malaya Community Engagement Centre (UMCares), memaparkan potensi besar nanomaterial drug delivery systems (NDDS) untuk mengoptimalkan khasiat produk alami seperti curcumin dan Brucea javanica. Menurutnya, meskipun memiliki efek imunomodulator yang kuat, bahan-bahan alami tersebut kerap terkendala rendahnya kelarutan, stabilitas, dan bioavailabilitas, serta metabolisme yang cepat.

œKita bisa meningkatkan efektivitas bahan alami dengan nanoteknologi tanpa mengubah senyawa aktifnya, ujarnya.


Inovasi Niosom untuk Terapi Diabetes

Dalam paparannya, Dr. Noraini membahas pengembangan niosom, sejenis nanocarrier lipid, untuk mengenkapsulasi ekstrak Brucea javanica sebagai agen antidiabetes. Hasil penelitian menunjukkan ukuran partikel yang kecil, indeks polidispersitas rendah, dan stabilitas tinggi terhadap creaming maupun sedimentasi.

Efisiensi enkapsulasi (EE) pun tercatat sangat tinggi: Niosom T20 mencapai 98,0%, disusul OG/T20 sebesar 82,5%. Tingginya nilai ini diyakini karena ukuran partikel yang memungkinkan lebih banyak ekstrak terperangkap di dalamnya.

Pengujian pelepasan in vitro juga menunjukkan durasi pelepasan ekstrak yang lebih panjang dibandingkan ekstrak bebas. Hal ini membuka peluang penggunaan dosis lebih rendah, efek samping minimal, dan efektivitas terapi yang lebih baik.


Nanoteknologi untuk Masa Depan Kesehatan Indonesia

Dr. Noraini menegaskan bahwa pengembangan nanocarrier lipid seperti niosom bukan sekadar riset akademis, tetapi langkah nyata menuju terapi antidiabetes yang inovatif. Nanoteknologi, menurutnya, mampu meningkatkan efikasi pengobatan tradisional sekaligus membuka peluang komersialisasi produk kesehatan baru.

Penerapannya di bidang farmasi dan kesehatan diharapkan menciptakan masyarakat yang lebih sehat, memperluas lapangan kerja, serta melahirkan generasi ilmuwan unggul. œDengan inovasi yang berkelanjutan, nanoteknologi dapat menjadi pilar dalam memperkuat ketahanan kesehatan dan menekan angka kematian akibat penyakit kronis seperti diabetes, pungkasnya.

Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =

AKSES CEPAT