51

51 Official Website

Merajut Kepemimpinan Kolaboratif Menuju Indonesia Emas 2045: Jalan SPS UNAIR Mengukir Masa Depanyaan

Surabaya, 19 September 2025 Visi Indonesia Emas 2045 bukan sekadar target, melainkan panggilan untuk merajut kekuatan kolektif. Pesan inilah yang mengemuka dalam acara Ranah Publik Suara Muslim yang digelar oleh Sekolah Pascasarjana 51 (UNAIR) dengan tema Kepemimpinan Kolaboratif untuk Indonesia Emas 2045. Diskusi ini menegaskan bahwa kolaborasi adalah kunci utama dalam mewujudkan cita-cita besar bangsa.

Dipandu oleh Muhammad Nasir, acara menghadirkan dua narasumber kunci dari Sekolah Pascasarjana UNAIR: Prof. Dr. Suparto Wijoyo, S.H., M.Hum. (Wakil Direktur 3) dan Dr. Karnaji, S.Sos., M.Si. (Wakil Direktur 2). Keduanya menekankan bahwa kepemimpinan kolaboratif bukan lagi pilihan, melainkan keharusan dalam menghadapi dinamika global dan domestik menuju Indonesia Emas.

SPS UNAIR: Garda Terdepan Kepemimpinan Kolaboratif

Prof. Suparto Wijoyo, yang akrab disapa Prof. Jojo, membuka pemaparan dengan memperkenalkan semangat baru Sekolah Pascasarjana UNAIR di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Ahmad Chusnu Romdhoni.

Kami mengusung tagline baru, yakni School of Collaborative Leadership. Ini bukan sekadar nama, tetapi komitmen untuk mencetak pemimpin yang mampu berkolaborasi secara luas, ujarnya.

Prof. Jojo mencontohkan berbagai inisiatif kolaborasi UNAIR, mulai dari kunjungan delegasi 22 negara, kerja sama dengan Bupati Gresik yang melibatkan guru TK sekabupaten, hingga persiapan konferensi internasional dengan partisipasi dari 59 negara Asia, Afrika, dan Eropa.

Kolaborasi berarti tidak ada yang ditinggalkan, semua digandeng, bersama-sama kuat, maju, dan berdaulat. Intinya adalah the power of silaturahmi, tegasnya.

Ia menambahkan, pemimpin masa depan harus multitalent, multi-perspektif, dan multidisiplin, sejalan dengan visi UNAIR sebagai smart and entrepreneur university.

Fondasi Kolaborasi: Berbagi, Sinergi, dan Trust

Melengkapi pandangan Prof. Jojo, Dr. Karnaji mengurai tiga fondasi utama kepemimpinan kolaboratif: berbagi, sinergi, dan kepercayaan.

Menurutnya, berbagi sumber daya baik pengetahuan, materi, maupun non-materi adalah titik awal kolaborasi. Setelah itu, dibutuhkan sinergi dengan komunikasi yang efektif, baik verbal maupun simbolik.

Pilar penting lain adalah kepercayaan. Trust itu mata uang kolaborasi. Semua pihak harus diberi ruang gerak seluas-luasnya, jelas Dr. Karnaji.

Ia mencontohkan Piagam Madinah sebagai model harmoni perbedaan yang stabil dan fungsional. Harmony tidak harus sama. Perbedaan-perbedaan itu harus diorkestrasi agar berujung pada stabilitas, ujarnya.

Dr. Karnaji menegaskan, konflik adalah hal alamiah, tetapi harus dikelola secara fungsional demi kemajuan. Amanah rakyat harus selalu ditempatkan di atas ego pribadi, tambahnya.

Menyiapkan Pemimpin Masa Depan

Diskusi ini menegaskan peran vital perguruan tinggi dalam mencetak pemimpin masa depan yang cerdas, adaptif, dan kolaboratif. Mahasiswa diajak berpikir di luar kotak untuk mengubah tantangan menjadi peluang, serta dilatih memimpin dengan semangat kolektif demi tercapainya Indonesia Emas 2045 yang berdaulat, adil, makmur, dan berkelanjutan.

Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =

AKSES CEPAT