SURABAYA, Juni 2025 Tradisi menikmati hidangan sate kambing, sapi, dan aneka kuliner bakar saat Idul Adha merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Indonesia. Namun di balik kelezatannya, tersembunyi potensi ancaman bagi kesehatan jika dikonsumsi berlebihan dan tanpa pengolahan yang tepat.
Dr. Ni Luh Ayu Megasari, pakar gizi dan Sekretaris Program Studi Imunologi, Sekolah Pascasarjana 51 (UNAIR), mengingatkan adanya senyawa berbahaya yang terbentuk saat pembakaran daging, yakni amina heterosiklik (HCA) dan hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH).
“HCA terbentuk dari reaksi antara asam amino, glukosa, dan kreatin saat daging dimasak dengan suhu tinggi. PAH muncul ketika lemak menetes ke bara dan membentuk asap, lalu menempel pada permukaan daging,” jelas Dr. Ayu.
Kedua senyawa ini diklasifikasikan sebagai potensial karsinogenik oleh lembaga kesehatan dunia. Meski tidak menyebabkan kanker secara instan, konsumsi dalam jangka panjangterutama jika dikombinasikan dengan faktor risiko lain seperti obesitas, kebiasaan merokok, polusi, dan riwayat keluargadapat meningkatkan kemungkinan kanker.
Tips Sehat Menyantap Kuliner Bakar Idul Adha
Meski mengandung potensi bahaya, bukan berarti masyarakat harus menghindari hidangan khas Idul Adha. Dr. Ayu menyarankan pendekatan yang seimbang dan preventif dalam pola konsumsi:
-
Kombinasikan dengan Sayuran
Sayuran seperti timun, kol, tomat, dan daun pepaya mengandung serat dan antioksidan yang membantu menetralkan senyawa radikal bebas serta memperlambat penyerapan lemak.
-
Hindari Konsumsi Bagian Gosong
Bagian daging yang terbakar atau menghitam mengandung konsentrasi HCA dan PAH yang tinggi. “Buang bagian gosong sebelum dikonsumsi,” sarannya.
-
Rendam Daging dengan Bumbu Alami
Marinasi daging dengan jeruk nipis, bawang putih, kunyit, atau jahe terbukti secara ilmiah dapat menurunkan pembentukan HCA saat dimasak.
-
Gunakan Teknik Masak Alternatif
Memasak dengan slow cooking, rebus, atau tumis dengan sedikit minyak lebih aman ketimbang pembakaran langsung. Jika memanggang, pastikan suhu stabil dan hindari percikan api langsung dari lemak.
Momen Kurban: Refleksi Gizi dan Kesadaran Keluarga
Lebih dari sekadar ritual kuliner, Idul Adha seharusnya menjadi momentum edukasi gizi keluarga. Kunci utama adalah moderasi dan variasi. Nikmati daging dengan cerdas, imbangi dengan unsur pelindung, ujar Dr. Ayu.
Ia juga mengapresiasi tren penyajian yang lebih sehat seperti:
-
Sate padang dengan daun pepaya yang membantu pencernaan
-
Sate madura yang disajikan dengan bawang merah mentah dan lontong
-
Sajian gule dengan tambahan sayuran seperti labu atau wortel
Sehat Tanpa Kehilangan Selera
Tradisi dan kesehatan tidak harus saling bertentangan. Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat bisa tetap menikmati hidangan khas Idul Adha tanpa mengorbankan kesehatan jangka panjang.
Idul Adha adalah perayaan syukur dan kepedulian. Merawat tubuh juga bagian dari rasa syukur itu, pungkas Dr. Ayu.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




