Webinar Forum Diskusi Denpasar 12 Tantangan Ekonomi Pemerintah Baru
Berita UNAIR Pascasarjana, Jumat, 11 Oktober 2024 Dalam acara WEBINAR Forum Denpasar 12 edisi 208, Prof. Badri Munir Sukoco, SE., MBA, Ph.D. Direktur Sekolah Pascasarjana SPS UNAIR membawakan materi berjudul Memampukan Daerah Menuju Indonesia Emas 20145 dalam hal ini dirinya menyampaikan perlu 3i sebagai prasyarat sebuah Negara keluar dari Midle income trap menuju High Income Country, seperti Indonesia dapat mewujudkan Indonesia emas 2045 yaitu Investasi, Infusi dan Inovasi.
Dirinya menyoroti hal ini karena terjadi de-industrialisasi secara prematur di Indonesia cukup signifikan, bila dihitung dari momen saat presiden Soeharto turun itu berada pada 32% dan turun menjadi 18% dan sekarang sudah sekitar 17% hal ini bisa diantisipasi dengan aktif bermain di wilayah global supply chain. Ditambahkan ada 3 strategi industri, pertama Perakitan (assembling), kedua membangun merk kita sendiri dan yang ketiga adalah inovasi. Ungkap Guru Besar dalam bidang Manajemen Strategi ini.
Beban berat ini harus diemban oleh Presiden terpilih nanti yaitu melakukan pertumbuhan ekonomi sebesar 8,1% sesuai amanat RPJPN, hal ini membuat kita harus melihat bagaimana China melakukan transformasi ekonomi melalui strategi nasional seperti made in china 2025 dan banyak hal lagi, menurut prof Badri ada yang sangat disayangkan dimana kita bersama-sama memperjuangkan saat reformasi dan hingga kini belum membuahkan hasil yaitu Otonomi Daerah adalah produk yang kita perjuangkan bersama, akan tetapi tidak membuahkan hasil, kalau kita berkaca dari Cina semua daerah diberi otonomi akan tetapi ada satu tanggung jawab utama yaitu pertumbuhan ekonomi di daerahnya masing-masing.
Prof Badri menyoroti, bahwa di Indonesia RPJPN dan visi Indonesia emas 2045 selama ini hanya menjadi beban di level pusat, sedangkan gubernur, bupati dan walikota merasa tidak ada tanggung jawab atas hal tersebut. Harusnya seluruh kepala daerah yang saat ini sedang berkontestasi, saat terpilih nanti diberi tugas dan tanggung jawab untuk mengembangkan ekonomi didaerahnya dengan kekhasan masing-masing.
Ditekankan kembali oleh Prof. Badri bahwa tanggung jawab ini juga harusnya juga berada di kepala desa dengan payung hukum undang-undang dana desa, dimana desa mendapat dana desa sebesar 1,1-1,6 miliar bila digabung dgn dana pupr lain-lain bisa mencapai 5,6 miliar kalau seluruh indonesia 75.261 desa, dirinya menambahkan bila melihat dari index desa membangun misal di bali yang bagus wisata pantainya bagaimana bisa ditiru di Labuan bajo dan senggigi Lombok, bila di jawa timur ada kota batu dan wonosalam, Jombang yang akan dikembangkan pada agrowisata, bagaimana caranya wonosalam bisa belajar dari Thailand untuk budidaya durian.
Diakhir Prof Badri memberikan rekomendasi atas paparannya, daerah adalah pelaku utama transformasi ekonomi Indonesia, desa perlu memiliki sektor ekonomi unggulan mulai dari pariwisata alam atau kerajinan, agrobisnis, perikanan atau industri dalam melakukan transformasi ekonominya, alokasi dana desa yang terfokus pada transformasi ekonomi dibutuhkan, menggunakan ekosistem inovasi dan melibatkan stakeholders akan meningkatkan partisipasi dan nilai tambah bagi masyarakat desa.
Dirinya mengutip harian South China Morning Post, dimana menuliskan walikota Shanghai akan menyiapkan anggaran sebesar 13,8 miliar US dolar untuk menggaet beberapa klaster indutri kelas dunia yaitu industri Artificial intelegence, biotech, dan semiconductor.
Pakar Manajemen Strategi UNAIR ini menekankan walikota Shanghai ini merasa bila hanya tumbuh 5% shanghai akan kalah dengan Guangzhou, Guangdong yang pertumbuhannnya 7-8%, dan dengan melakukan transformasi ekonomi ini didukung oleh parlemen dan juga kampus-kampus tenama di wilayah tersebut , 3-5 tahun kedepan struktur ekonomi shanghai akan berubah karena hadirnya kontribus klaster industri yang berkembang cepat hal ini seperti di amerika serikat dimana ada peta yang menunjukkan wilayah dengan industri ke khas annya masing-masing. Ungkapnya.
Dunia pendidikan tinggi di Indonesia juga memiliki tanggung jawab yang cukup besar, Indonesia sudah memiliki banyak kampus berkelas dunia seperti di jawa timur ada ITS dan UNAIR , ada UI di depok, UGM dan UNY di Yogyakarta, seharusnya masing-masing kampus memberikan kontribusi pemikiran bagi daerahnya tentang apa langkah yang harus diambil oleh masing-masing daerah untuk bisa membangun dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi 8% di wilayahnya denga ke khas an masing-masing. Tegasnya.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




